BeritaMuhammadiyahNasionalNewsOpini

Industrialisasi Muhammadiyah Sebagai Jalan Baru Dakwah Berkemajuan

20
×

Industrialisasi Muhammadiyah Sebagai Jalan Baru Dakwah Berkemajuan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

 

Muhammadiyah telah memasuki fase baru dalam perjalanan sejarahnya. Setelah lebih dari satu abad mengabdi kepada bangsa melalui amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat. Kemudian muncul pertanyaan mendasar, yaitu ke mana arah dakwah Muhammadiyah pada seperempat abad mendatang?

 

Pertanyaan tersebut bukan sekadar menyangkut perluasan jumlah sekolah, universitas, rumah sakit, atau panti asuhan. Seluruh amal usaha tersebut tetap menjadi pilar penting yang harus terus diperkuat. Akan tetapi, perubahan struktur ekonomi global, revolusi teknologi, disrupsi industri, serta meningkatnya kompetisi antarbangsa menuntut Muhammadiyah untuk menghadirkan lompatan baru dalam dakwahnya. Salah satu lompatan tersebut adalah memasuki dunia industri.

 

Selama ini dakwah Muhammadiyah lebih banyak dipahami dalam konteks pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Padahal Islam sendiri tidak pernah memisahkan ibadah dan aktivitas ekonomi. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang. Para sahabat merupakan pelaku usaha. Peradaban Islam klasik tumbuh bukan hanya karena kekuatan ilmu pengetahuan, tetapi juga karena kekuatan perdagangan, manufaktur, teknologi, dan industri.

 

Di sinilah relevansi industrialisasi Muhammadiyah ditemukan. Industrialisasi bukan semata-mata membangun pabrik, tetapi membangun ekosistem ekonomi produktif yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, inovasi, serta kemandirian umat. Industrialisasi merupakan dakwah dalam bentuk baru yaitu dakwah yang menghadirkan kesejahteraan.

 

Muhammadiyah sesungguhnya telah memiliki modal sosial yang sangat besar. Jaringan organisasi tersebar dari tingkat pusat hingga ranting, ribuan sekolah dan perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga zakat, koperasi, BTM, serta jutaan anggota merupakan aset yang, jika terintegrasi, dapat menjadi fondasi industrialisasi yang kokoh.

 

Perubahan ekonomi dunia menunjukkan bahwa negara-negara yang berhasil keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) adalah negara-negara yang mampu membangun sektor industri yang kuat. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Tiongkok, hingga Vietnam memperlihatkan pola yang relatif sama, yaitu industrialisasi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi.

 

Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa negara-negara berpendapatan tinggi umumnya memiliki sektor manufaktur dan industri pengolahan yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Sebaliknya, negara yang hanya mengandalkan ekspor komoditas primer cenderung mengalami stagnasi pendapatan.

 

Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan tersebut. Kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto mengalami penurunan dibandingkan dengan era 1990-an. Fenomena ini sering disebut sebagai deindustrialisasi dini, yakni kondisi ketika sektor industri melemah sebelum suatu negara mencapai status negara maju.

 

Di sisi lain, bonus demografi Indonesia diperkirakan akan berlangsung hingga sekitar tahun 2035. Jutaan anak muda akan memasuki pasar kerja setiap tahun. Jika lapangan kerja produktif tidak tersedia, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban demografi.

 

Muhammadiyah tidak dapat memandang persoalan ini hanya sebagai isu ekonomi nasional. Ini merupakan persoalan dakwah. Kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan rendahnya produktivitas masyarakat merupakan bagian dari persoalan yang harus direspons oleh gerakan Islam berkemajuan.

 

Selama ini dakwah sering dipahami sebatas ceramah, pengajian, atau pendidikan agama. Padahal Al-Qur’an berkali-kali menegaskan pentingnya bekerja, berusaha, dan memakmurkan bumi. Allah SWT berfirman:

 

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

 

Ayat tersebut menyampaikan bahwa aktivitas ekonomi merupakan bagian dari ibadah. Muhammadiyah sejak awal memahami dakwah sebagai gerakan tajdid yang menyentuh seluruh aspek kehidupan. Karena itu, lahirlah sekolah, rumah sakit, panti asuhan, hingga universitas. Semua itu merupakan bentuk dakwah nyata.

 

Kini tantangannya berubah. Dakwah juga harus mampu melahirkan perusahaan yang sehat, industri halal yang kuat, pusat inovasi teknologi, kawasan industri berbasis umat, serta rantai pasok nasional yang melibatkan warga Muhammadiyah.

 

Inilah makna dakwah yang lebih substantif yaitu membangun peradaban melalui kekuatan ekonomi. Muhammadiyah bukan organisasi kecil, melainkan salah satu organisasi Islam terbesar di dunia.

 

Muhammadiyah memiliki ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), ratusan perguruan tinggi, ribuan sekolah dan madrasah, rumah sakit, klinik, koperasi, pesantren, serta berbagai lembaga ekonomi. Selain itu, jutaan kader Muhammadiyah tersebar sebagai akademisi, profesional, birokrat, pengusaha, ilmuwan, hingga pelaku UMKM.

 

Bila seluruh kekuatan tersebut dipandang sebagai satu ekosistem ekonomi, sesungguhnya Muhammadiyah memiliki potensi untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Indonesia. Sayangnya, potensi tersebut masih banyak berjalan sendiri-sendiri. Rumah sakit membeli alat kesehatan dari pihak luar. Padahal apabila seluruh rantai ekonomi tersebut saling terhubung, maka akan tercipta pasar internal yang sangat besar.

 

Industrialisasi Muhammadiyah dimulai dengan membangun integrasi tersebut. Sudah saatnya Muhammadiyah tidak lagi hanya berbicara tentang amal usaha, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi.

 

Ekosistem tersebut mencakup industri pangan halal, industri farmasi, industri alat kesehatan, industri pendidikan, industri digital, industri kreatif, industri energi terbarukan, industri pertanian modern, industri tekstil, hingga industri kosmetik halal. Semuanya dapat saling mendukung melalui rantai nilai yang terintegrasi.

 

Sering kali industrialisasi dipersempit menjadi pembangunan kawasan industri atau pabrik besar. Padahal konsep industrialisasi modern jauh lebih luas. Industrialisasi mencakup inovasi teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, robotika, bioteknologi, ekonomi hijau, hingga ekonomi berbasis pengetahuan.

 

Perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk menjadi pusat inovasi nasional. Tidak cukup menghasilkan lulusan. Kampus harus menghasilkan paten, perusahaan rintisan, teknologi, hingga produk yang dapat dipasarkan. Negara-negara maju membangun industrinya melalui kolaborasi erat antara universitas, pemerintah, dan dunia usaha.

 

Muhammadiyah memiliki ketiga unsur tersebut dalam skala yang sangat besar. Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Nilai konsumsi produk halal terus meningkat dari tahun ke tahun.

 

Laporan State of the Global Islamic Economy menunjukkan bahwa belanja masyarakat Muslim dunia pada sektor makanan halal, fesyen, farmasi, kosmetik, perjalanan, media, dan rekreasi mencapai triliunan dolar AS setiap tahun. Namun, Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pasar dibandingkan dengan produsen.

 

Muhammadiyah dapat mengambil posisi strategis di industri halal. Bukan hanya memberikan sertifikasi atau edukasi tentang halal, tetapi juga menjadi produsen produk halal. Mulai dari pangan, kosmetik, farmasi, alat kesehatan, hingga produk digital.

 

Dengan jaringan AUM yang luas, pasar awal sebenarnya sudah ada. Industrialisasi membutuhkan pembiayaan jangka panjang. Di sinilah keuangan sosial Islam berperan penting. Dana zakat dapat difokuskan pada pemberdayaan ekonomi mustahik. Wakaf produktif dapat digunakan membangun kawasan industri umat. BTM dapat menjadi pembiayaan UMKM. Integrasi seluruh instrumen tersebut akan melahirkan ekosistem pembiayaan yang berkelanjutan.

 

Industrialisasi tidak mungkin berhasil tanpa sumber daya manusia yang unggul. Muhammadiyah memiliki ratusan perguruan tinggi. Namun, tantangan ke depan bukan hanya menghasilkan sarjana.

 

Saat ini yang dibutuhkan adalah insinyur, peneliti, data saintis, ahli AI, ahli manufaktur, ahli logistik, ahli desain produk, hingga technopreneur. Kurikulum pendidikan Muhammadiyah perlu semakin adaptif terhadap kebutuhan industri di masa depan.

 

Kondisi link and match tidak cukup, yang dibutuhkan adalah link, match, and create. Perguruan tinggi tidak hanya mengikuti industri, tetapi juga menciptakan industri baru. Industrialisasi membutuhkan kepemimpinan yang berani mengambil risiko.

 

Muhammadiyah memerlukan lebih banyak kader yang menjadi pengusaha industri. Bukan hanya pengusaha perdagangan, tetapi juga pemilik manufaktur. Kader-kader tersebut nantinya akan menjadi lokomotif ekonomi Muhammadiyah. Muhammadiyah tentu tidak dapat berjalan sendiri.

 

Kolaborasi dengan pemerintah, BUMN, swasta nasional, dunia internasional, lembaga riset, investor, dan komunitas bisnis menjadi keniscayaan. Gerakan industrialisasi Muhammadiyah bukan untuk bersaing secara eksklusif, melainkan untuk memperkuat perekonomian nasional.

 

Semakin kuat ekonomi Muhammadiyah, semakin besar kontribusinya bagi Indonesia. Memasuki abad kedua, Muhammadiyah memerlukan narasi baru.

 

Jika abad pertama diwarnai oleh pembangunan sekolah, rumah sakit, dan pelayanan sosial, maka abad kedua harus diwarnai oleh pembangunan kekuatan ekonomi berbasis industri, inovasi, dan teknologi.

 

Industrialisasi bukan berarti meninggalkan identitas dakwah. Sebaliknya, ia merupakan perluasan makna dakwah agar mampu menjawab tantangan zaman. Dakwah yang hanya menghasilkan kesalehan individu tidak lagi memadai ketika masyarakat menghadapi persoalan struktural, seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan ketergantungan ekonomi. Dakwah harus melahirkan solusi yang konkret, produktif, dan berkelanjutan.

 

Muhammadiyah memiliki seluruh prasyarat untuk mewujudkan agenda besar tersebut yaitu modal sosial yang kuat, jaringan kelembagaan yang luas, sumber daya manusia yang berkualitas, kepercayaan publik yang tinggi, serta pengalaman panjang dalam mengelola amal usaha. Hal yang diperlukan kini adalah keberanian untuk melakukan transformasi paradigma, dari sekadar mengelola aset menjadi membangun ekosistem industri yang saling terhubung.

 

Industrialisasi Muhammadiyah pada akhirnya bukan sekadar agenda ekonomi, melainkan strategi untuk membangun peradaban. Ketika sekolah melahirkan inovator, perguruan tinggi menghasilkan teknologi, lembaga keuangan mendukung investasi produktif, rumah sakit menjadi pusat pengembangan alat kesehatan, dan kader Muhammadiyah menjadi pelaku industri yang berintegritas, maka dakwah berkemajuan menemukan bentuknya yang paling nyata.

 

Dengan demikian, industrialisasi Muhammadiyah adalah jalan baru dakwah berkemajuan yaitu jalan yang menghubungkan nilai-nilai Islam dengan inovasi, ilmu pengetahuan dengan kewirausahaan, serta keimanan dengan kemakmuran. Melalui jalan inilah Muhammadiyah tidak hanya menjadi gerakan yang mencerahkan kehidupan umat, tetapi juga menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan sejahtera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *