Jakarta, panjimas – Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo) inisiatif dan kerjasama Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) dan Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM) yang dilaksanakan di Jakarta (20-23/8) telah berlangsung dengan lancar, akrab, dan berhasil melahirkan pikiran-pikiran penting, substantif, dan strategis bagi perumusan konsep dan strategi perwujudan Negara Madani di Indonesia dan Malaysia.
Bertemunya 110 cendekiawan kedua negara serumpun untuk yang kedua kalinya ini telah memperkuat silaturahim dan silatulfikri yang menghasilkan kesepakatan dan peta jalan bagi perwujudan masyarakat dan negara madani di kawasan Asia.
Ketua Pembina CDCC, Din Syamsuddin sebagai inisiator Gerakan ini optimis Indonesia dan Malaysia bisa menjadi penggerak kebangkitan peradaban Islam.
“Dunia Arab, Persia, Afrika telah menjalankan tugas peradabannya. Kini giliran Asia Tenggara,” ujarnya.
Menurutnya, umat Islam serantau Malaysia dan Indonesia harus merasa merasa memiliki tanggung jawab kesejarahan untuk menjadi pemrakarsa kebangkitan kembali peradaban Islam dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan, terutama di tengah arus perubahan geostrategis dunia dalam bidang ekonomi dan politik.
Melalui pertemuan ini, para cendekiawan Indonesia dan Malaysia bersepakat bahwa Wawasan Negara Madani memiliki relevansi untuk mendorong kebangkitan peradaban Melayu-Islam.
Perwujudan wawasan itu dapat dilakukan dengan mensenyawakan nilai-nilai keutamaan madani dalam kerangka negara bangsa yang sudah ada baik di Indonesia maupun Malaysia. Nilai-nilai keutamaan itu sudah terdapat dalam falsafah Negara Pancasila maupun Rukun Negara.
Yang perlu dilakukan pada masa depan adalah revitalisasi nilai-nilai keutamaan itu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara murni dan konsekwen. Jika Nilai-nilai Keutamaan Madani (Madani Virtous) dapat terwujud di Kawasan Malindo, maka pengarusutamaannya dapat dilakukan pada kawasan lebih luas di Asia Tenggara maupun dunia.
Turut hadir dalam pertemuan ini Menteri Agama Malaysia, Zulkifli Hasan, yang juga memprakarsai dan meresmikan Madani Malindo pada persidangan pertama di Kuala Lumpur tahun lalu. Direktur Jenderal IKIM, Mohamed Azam, memimpin delegasi yang terdiri dari para akademisi Islam, pimpinan lembaga-lembaga kajian dan organisasi keislaman Malaysia.
Dari Indonesia, selain para cendekiawan dan akademisi ulung, juga hadir penuh para pemimpin ormas-ormas Islam tingkat pusat, pemerintahan Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Anggota DPR RI Jazuli Juwaini, dan Kepala BRIN Arif Satria.
Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla turut berpartisipasi dan menyampaikan ceramah kunci, begitu pun dan beberapa Menteri Kabinet RI antara lain Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, dan Dirjen Saintek Kemendiktisaintek Ahmad Najib Burhani.













