Jombang, panjimas – Kehadiran Sekjen MUI untuk menyaksikan secara langsung Pembukaan Muktamar NU memberikan banyak kesan. Termasuk ketika Presiden RI Prabowo Subianto memberikan sambutannya pada pembukaan Muktamar NU di Jombang Jawa Timur,Kamis ( 27/8/26).
Oleh karena itu menurut Sekjen MUI, Dr Amirsyah Tambunan ada beberapa hal yang memberikan kesan dan pesan tersendiri terhadap NU dan Muhammadiyah yang disampaikan Presiden dalam sambutannya.
Pertama, memberikan apesiasi kepada organisasi NU dan Muhammadiyah telah menamkan cinta tanah air kepada warga bangsa; Kedua, menyebut dua organisasi besar sebagai pelopor pergerakan guna merintis kemerdekaan Indonesia hingga kini sampai usia 81 tahun Merdeka.
Selanjutnya yang Ketiga, menegaskan NU-Muhammadiyah sebagai organisasi besar merupakan pasangan yang berjasa buat bangsa Indonesia. Buya Amirsyah menyebut bagaikan “sayap pesawat” kata ke media usai menyaksikan pembukaan oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
“Bangsa yang utuh bagaikan NU dengan Muhammadiyah yang tidak terpisahkan untuk memperkuat ummat dan bangsa melalui tenda besar umat dalam wadah Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai wadah berhimpunnya Ormas Islam,” tandas Sekjen MUI itu.
Organisasi Dua Sayap Besar Untuk Bangsa
Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diibaratkan sebagai dua sayap burung Garuda (bukan sayap pesawat). Istilah metafora ini sering digunakan oleh tokoh bangsa dan pimpinan kedua organisasi untuk menggambarkan pentingnya harmoni dan kerja sama antara keduanya dalam menjaga keutuhan serta kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Dalam beberapa literatur budaya dan keagamaan, NU sering diposisikan sebagai sayap kanan yakni menjaga tradisi dan Muhammadiyah sebagai sayap kiri (modernisasi/pembaruan),” kata Buya Amirsyah yang juga Ketua MPW PP Muhammadiyah tersebut.
Kedua sayap memiliki prinsip yang sama kuatnya untuk keseimbangan bagaikan burung Garuda tidak akan bisa terbang jika hanya mengandalkan satu sayap. Oleh karena itu kedua ormas Islam terbesar ini harus mengepak secara serasi, seimbang, dan seirama agar bangsa Indonesia bisa terbang tinggi mencapai kejayaannya.
Akar keilmuan yang Sama yakni KH Ahmad Dahlan Muhammadiyah dan KH Hasyim Asy’ari (NU) memiliki guru yang sama saat belajar di Mekah, sehingga persatuan keduanya sudah menjadi fondasi sejak awal berdiri.Saling melengkapi NU belajar manajemen organisasi modern dari Muhammadiyah,
“Sementara Muhammadiyah menghormati kultural dan basis massa tradisional yang dirawat oleh NU melalui merawat tradisi melalui pendidikan di pesantren, “pungkasnya.













