BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Internasionalisasi Muhammadiyah Perlu Dilandasi Semangat Kesemestaan dan Pengkhidmatan Kemanusiaan

6
×

Internasionalisasi Muhammadiyah Perlu Dilandasi Semangat Kesemestaan dan Pengkhidmatan Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini

 

 

JAKARTA, panjimas  – Patriotisme dalam Muhammadiyah dimaknai sebagai cinta tanah air yang diaktualisasikan ke dalam pengkhidmatan. Bentuk konkretnya apa?

 

“Ketika pengkhidmatan dibawa ke ruang global atau internasional, patriotisme bergerak menjadi pengkhidmatan kemanusiaan yang universal,” terang Elis Zuliati Anis.

 

Terkait konteks itu, Elis mencoba melakukan survei terhadap santri Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah yang mengikuti Mubaligh Hijrah Internasional. Survei itu menyimpulkan, patriotisme dalam tesmak mereka sebagai cinta Indonesia.

 

“Rasa cinta tanah air yang memperjuangkan hal-hal yang baik untuk bangsa dan negara,” ujarnya, Jumat (28/8) saat Pengajian Pengajian Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Ruang KH Ahmad Dahlan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat.

 

Survei dilanjutkan menyangkut implementasi dakwah yang membawa nilai-nilai Muhammadiyah di luar negeri apakah menjadi bagian dari kecintaan kepada Indonesia? Temuan di lapangan menunjukkan, Muhammadiyah sangat lekat sekali dengan keindonesiaan.

 

“Muhammadiyah sangat lekat dengan kecintaan (tanah air). Patriotisme bukan sesuatu yang tidak berkaitan dengan Muhammadiyah. Dakwah global juga dapat menjadi wujud patriotisme,” terang Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan tersebut.

 

Hal demikian terejawantah dari kiprah santri Mu’allimin juga Mu’allimaat, kata Elis, telah melanglang buana di 10 negara. Menurutnya, mereka merupakan kader terbaik dengan kemampuan begitu rupa; tahsin, bahasa (Arab/Inggris), menjadi delegasi Ramadan Global Experience di berbagai negara.

 

“Tentunya mereka juga punya kemampuan dalam public speaking, dan ditugaskan ke 10 negara tersebut,” ujarnya, menambahkan, menghidupkan syiar Islam di negara minoritas, memperkuat ukhuwah dengan Komunitas Islam, dan berkolaborasi dengan PCIM/PCIA negara setempat.

 

“Pengalaman global membentuk perspektif, karakter, dan semangat untuk memberi manfaat lebih luas,” jelas Elis.

 

Pengalaman global itu kemudian menjadikan bekal untuk menghadapi realitas kemajuan yang tak terbendung. Dunia saat ini mengalami kemajuan yang sangat cepat dan semakin terhubung.

 

“Namun kemajuan tersebut tidak selalu berjalanm seiring dengan kemajuan kehidupan manusia,” tegasnya.

 

Persoalannya bukan hanya bagaimana menghadapi kemajuan itu, tapi lebih tepatnya, untuk apa kemajuan itu digunakan. “Dan siapa yang memperoleh manfaat darinya?”, tuturnya.

 

Satu sisi, kemajuan saat ini mengerucut pada pelbagai aspek; kemajuan material yang ditandai kekosongan makna dan krisis spiritual, kemajuan teknologi yang ditandai kejahatan digital dan persoalan etika.

 

Selain itu, pertumbuhan ekonomi berupa ketimpangan dan kemiskinan, keterhubungan global maujudnya konflik dan diskriminasi, dan penguasaan alam dan sumber daya berupa kerusakan ekologis dan krisis alam.

 

“Kemajuan membutuhkan arah moral, keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan,” bebernya.

 

Sisi lain, keadaan dunia saat ini juga menghadirkan tantangan yang besar. Pada saat yang sama, memberikan juga ruang untuk pengkhidmatan. “Internasionalisasi saja tidak cukup, perlu kesemestaan,” ujarnya.

 

Kesemestaan di situ kata Elis, tidak sama dan tidak sesempit internasionalisasi. Sebab, ini merupakan cara pandang yang menuntut tanggung jawab yang luas menghadirkan kemaslahatan bersama.

 

“Jadi tidak hanya terkait dengan perbedaan agama, tempat, tapi dengan isu-isu, termasuk semesta tidak hanya manusia, tapi ada alam, hewan, dan soal peradaban,” jelasnya.

 

Konteks kesemestaan ini diwujudkan dalam pengkhidmatan nyata, bukan sekadar memhamai persoalan dunia, tapi mengambil bagian untuk memberi solusi dan menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi manusia, alam, dan peradaban dunia.

 

“Kesemestaan adalah kerja bersama. Bukan satu organisasi yang bergerak sendiri, tetapi ekosistem Muhammadiyah yang berkhidmat bersama,” ulasnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *