BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Apresiasi 70 Tahun Prof Syamsul Anwar, Buku “Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran” Diluncurkan

34

YOGYAKARTA, panjimas – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjadi tempat peluncuran buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar, Senin (31/8/2026). Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan dari sejumlah penulis yang merekam perjalanan kehidupan, kiprah, pemikiran, serta kesaksian para kerabat dan murid tentang sosok Prof. Syamsul Anwar.

Prof. Syamsul Anwar dikenal sebagai salah seorang ulama Muhammadiyah yang memiliki peran besar dalam pengembangan pemikiran keislaman, khususnya di lingkungan Majelis Tarjih dan Tajdid. Ia pernah menjadi Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah selama periode 2000–2022 dan kini mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menilai Syamsul Anwar sebagai tokoh yang memiliki kepakaran mendalam dalam bidang pemikiran Islam. Menurutnya, kedalaman keilmuan yang dimiliki Syamsul menunjukkan kapasitas seorang ulama yang telah mencapai tingkat rāsikh dalam keilmuan.

“Prof. Syamsul adalah seorang tokoh yang pemikiran keislamannya dan berbagai aspek lainnya menunjukkan kepakarannya sudah pada level rāsikhūn,” ujar Haedar.

Haedar memandang sosok dengan kedalaman keilmuan seperti itu tidak banyak. Karena itu, Muhammadiyah perlu terus membangun kader-kader yang memiliki kesungguhan dalam menuntut dan mengembangkan ilmu hingga tumbuh menjadi pribadi yang alim sekaligus memiliki kepakaran pada bidangnya.

Menurut Haedar, perjalanan Syamsul Anwar di Muhammadiyah telah melahirkan sejumlah pemikiran dan keputusan penting. Salah satu yang paling menonjol ialah perumusan berbagai panduan keagamaan Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi Covid-19. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, pemikiran dan panduan keagamaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dalam memberikan arah bagi warga dan masyarakat.

Selain itu, Syamsul juga memiliki kontribusi besar dalam perumusan Kalender Hijriah Global Tunggal. Gagasan tersebut menjadi salah satu ikhtiar penting Muhammadiyah dalam merumuskan sistem kalender Islam yang dapat digunakan secara lebih luas dan menyatukan penanggalan Hijriah.

Sementara itu, Syamsul Anwar dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru yang telah membentuk perjalanan intelektualnya. Ia menyebut sejumlah nama, di antaranya Ahmad Azhar Basyir, Ismail Taib, Saad Abdul Wahid, Marzuki Rosyid, dan lain-lain.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya. Syamsul mengenang awal keterlibatannya dalam jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang, menurut penuturannya, tidak lepas dari ajakan dan dorongan Ahmad Syafii Maarif.

Di hadapan para peserta, Syamsul turut menyampaikan terima kasih kepada istrinya, Suryani. Ia menyebut sang istri sebagai partner hidup yang telah mendampinginya selama 40 tahun dalam perjalanan yang dibangun dengan cinta dan kasih sayang.

Bukan Pengkultusan
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ustadi Hamsah mengatakan bahwa peluncuran buku untuk memperingati perjalanan hidup dan keilmuan para tokoh merupakan tradisi baik yang perlu terus dikembangkan di lingkungan Muhammadiyah.

Sebelumnya, Muhammadiyah juga telah meluncurkan buku dalam rangka memperingati 70 tahun Prof. Amin Abdullah. Menurut Ustadi, tradisi tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk pengkultusan terhadap tokoh, melainkan sebagai upaya untuk memberikan penghargaan terhadap perjalanan keilmuan, kepakaran, dan pengabdian mereka kepada Muhammadiyah dan umat.

“Ini bukan untuk pengkultusan, tetapi sebagai upaya menghargai keilmuan, kepakaran, dan seluruh proses dalam membesarkan Majelis Tarjih dan Tajdid serta Muhammadiyah,” ujarnya.

Karena itu, peluncuran buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran juga menjadi bagian dari upaya meneruskan legasi keilmuan yang telah dibangun Syamsul Anwar. Gagasan dan pemikirannya tidak berhenti sebagai catatan perjalanan seorang tokoh, tetapi perlu terus dibaca, dikaji, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ustadi menyebut kontribusi Syamsul Anwar dalam Muhammadiyah sangat luas. Beberapa di antaranya yang telah menjadi bagian penting dalam perkembangan pemikiran Muhammadiyah adalah gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal, Teori Pertingkatan Norma yang kemudian diadopsi dalam pengembangan Manhaj Tarjih, serta keterlibatannya dalam pengembangan Tafsir at-Tanwir.

Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar dengan demikian tidak sekadar merekam perjalanan hidup seorang ulama. Kumpulan tulisan tersebut juga menghadirkan jejak pemikiran dan pengabdian seorang intelektual Muslim yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk pengembangan keilmuan Islam dan Muhammadiyah

Exit mobile version