BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Bicara Soal Menkeu Baru dan Penguatan Rupiah

18

Jogja, panjimas – Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara membawa pekerjaan rumah besar di tengah dinamika ekonomi nasional. Salah satu yang menjadi perhatian adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta Bank Indonesia (BI) dan Menteri Keuangan baru untuk segera menjalankan kewenangan serta keahliannya untuk menjaga rupiah agar tidak terus melemah.

“Rupiah itu jangan jatuh terus. Kasihan kalau jatuh terus,” ujar Haedar disela peluncuran Mentari Bayt Coint (MBC) di Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026).

Haedar menilai nilai rupiah bukan sekadar angka dalam transaksi ekonomi. Rupiah juga merupakan simbol identitas bangsa sehingga stabilitasnya berkaitan dengan martabat ekonomi Indonesia.

“Rupiah itu simbol dari identitas bangsa kita. Kalau naik, itu berarti martabat kita juga naik,” katanya.

Bagi Haedar, pergantian menteri semestinya tidak berhenti pada pergantian figur. Masyarakat berharap perubahan tersebut membawa perbaikan kinerja kementerian, termasuk meningkatkan efisiensi dan memberikan kepastian terhadap arah kebijakan ekonomi.

Haedar berharap masyarakat memperoleh kepercayaan bahwa pergantian tersebut benar-benar membuat kementerian bekerja lebih baik. Selain itu mampu mengangkat bidang yang menjadi fokus pemerintah.

“Jangan sampai masyarakat punya kesan negatif bahwa pergantian kabinet itu hanya semata-mata politis,” tandasnya.

Di tengah persoalan nilai tukar rupiah yang terus melemah, Haedar juga mengingatkan kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya berada pada kebijakan pemerintah atau institusi keuangan. Menurut dia, daya tahan ekonomi juga ditopang ekosistem masyarakat yang terus berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ia mencontohkan warung-warung kecil dan masyarakat yang tetap menjalankan usaha meski menghadapi berbagai keterbatasan. Semangat untuk mencari nafkah secara mandiri tersebut, menurut Haedar, merupakan kekuatan penting ekonomi Indonesia.

Karena itu, Muhammadiyah mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui berbagai kegiatan usaha. Namun aktivitas korporasi harus tetap berlandaskan nilai halal dan baik, kemaslahatan umum, kemandirian serta kolaborasi

“Tidak bisnis untuk bisnis, tapi bisnis kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

Haedar pun menyerukan di tengah ekonomi global yang melemah, praktik korupsi segera dihentikan. Ia mengingatkan agar mereka yang memiliki niat melakukan korupsi menghentikan niat tersebut, terlebih ketika masih banyak masyarakat yang menghadapi kesulitan ekonomi.

“Cukuplah yang sudah-sudah [korupsinya],” imbuhnya.

Exit mobile version