BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Pemimpin Pendidikan Muhammadiyah Harus Luas, Luwes, dan Adaptif

12

DEPOK, panjimas – Dihadiri oleh para kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengajak para pemimpin pendidikan untuk menjadi pribadi yang memiliki wawasan luas dan luwes dalam bersikap.

 

Menurutnya, kepemimpinan pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan kekuasaan dan jabatan, tetapi membutuhkan kemauan untuk terus belajar, membangun koneksi, dan beradaprtasi dengan perkembangan zaman.

 

“Pemimpin yang fleksibel adalah pemimpin yang sukses. Pemimpin tidak boleh lemas, tapi harus adaptif,” pesan Mu’ti disampaikan pada Rabu (30/9) di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata Depok, Jawa Barat.

 

Mengutip pesan alm. Prof. Malik Fadjar, Mu’ti menerjemahkan kata Luas yang berarti wawasan yang terbuka terhadap berbagai pengetahuan dan pengalaman. Sementara luwes berarti tidak kaku dalam menghadapi persoalan dan menyesuaikan diri dengan situasi.

 

Selanjutnya dalam kesempatan tersebut, Mu’ti turut menekankan pentingnya budaya belajar untuk kepala sekolah dan madrasah. Menurutnya kemampuan belajar dari segala sumber serta menerapkan praktik baik dapat diimplementasikan menjadi inovasi melalui proses modifikasis sesuai dengan kebutuhan sekolah masing-masing.

 

Berkaitan dengan kegagalan, ia berpesan bahwa kegagalan jangan dipandang sebagai akhir, namun dapat menjadi bahan untuk evaluasi dan refleksi menentukan langkah perbaikan di masa depan.

 

Untuk Majukan Pendidikan, Muhammadiyah Harus Terus Punya Visi dan Gerakan Tajdid yang Jelas

Mu’ti menjelaskan, visi bukan sekadar kalimat yang tertulis dalam dokumen sekolah, tetapi harus diterjemahkan menjadi tujuan, target, dan langkah nyata.

 

“Sekolah / madrasah Muhammadiyah, harus punya ciri khas dan keunggulan yang dibangun melalui kepemimpinan yang memiliki visi, keberanian mengambil risiko, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar,” ujarnya.

 

Berikutnya, dalam perspektif kemuhammadiyahan, semangat pembaruan atau tajdid juga menjadi satu landasan penting dalam menghadapi perubahan. Maka dari itu, Mu’ti mengajak para pemimpin sekolah dan madrasah untuk terus terbuka diri terhadap pengetahuan dan pengalaman baru.

 

“Sekolah dan madrasah Muhammadiyah harus terus belaar dari berbagai tantangan,” ucap Mu’ti.

 

Terakhir, Mu’ti berpesan kepada para pemimpin pendidikan Muhammadiyah untuk selalu menjaga identitas kedermawanan antar warga persyarikatan.

 

la menyebut Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam yang memiliki tradisi kedermawanan yang kuat. Semangat berbagi dan kepedulian sosial perlu terus dirawat, termasuk melalui kebiasaan berinfak dan mendukung gerakan filantropi Muhammadiyah melalui Lazismu.

 

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keunggulan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan prestasi akademik, tetapi juga dengan karakter, kepedulian, keteladanan, dan kontribusi sosial.

Exit mobile version