BeritaKemenagNasionalNews

Perbanyak Ruang Perjumpaan, Kemenag Gelar : “The Wonder of Harmony”

12

Jakarta, panjimas — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam tahun ini kembali menggelar The Wonder Harmony.  Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kementerian Agama Thobib Al-Asyhar mengatakan bahwa giat ini sebagai upaya memperbanyak ruang perjumpaan antarumat beragama.

Menurutnya, merawat kerukunan umat beragama harus terus dilakukan melalui interaksi dan kegiatan nyata di tengah masyarakat. Pesan harmoni tidak cukup hanya disampaikan melalui publikasi, tetapi harus diwujudkan dalam ruang-ruang perjumpaan yang mempererat hubungan antarmasyarakat.

“Artinya, masyarakat itu diajak untuk memiliki dan merasakan secara langsung tentang makna dan arti harmoni itu sebenarnya,” ujar Thobib dalam konferensi pers rangkaian The Wonder of Harmony 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Senin (26/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa komunikasi mengenai harmoni perlu melampaui penyampaian pesan melalui video, poster, maupun media publikasi lainnya. Pesan kerukunan akan semakin bermakna ketika masyarakat memiliki kesempatan untuk saling bertemu, mengenal, dan bekerja sama.

“Kegiatan The Wonder of Harmony ini juga bagian dari upaya untuk memperbanyak ruang-ruang perjumpaan. Karena harmoni itu biasanya justru dibangun melalui perjumpaan, bukan semata-mata dari apa yang selama ini kita sebut sebagai sebuah harmoni dari susunan kalimat,” ungkapnya.

Menurut Thobib, kegiatan yang melibatkan komunitas lintas agama, keluarga, generasi muda, dan kelompok masyarakat lainnya menjadi sarana untuk memperkuat pengalaman hidup bersama di tengah keberagaman.

Ia menilai pendekatan tersebut semakin relevan menjelang akhir tahun, ketika masyarakat akan menghadapi berbagai momentum keagamaan dan libur panjang, termasuk perayaan Natal dan Tahun Baru.

Kerukunan Tanggung Jawab Bersama

Thobib juga mengingatkan bahwa menjaga kerukunan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah atau Kementerian Agama, melainkan kewajiban bersama seluruh elemen bangsa.

“Isu soal harmoni itu harus dipahami bukan hanya miliknya pemerintah, tapi adalah milik semua elemen masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, keberagaman Indonesia membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat untuk menjaga hubungan sosial, membangun komunikasi, dan menyelesaikan persoalan yang muncul dalam kehidupan bersama.

Karena itu, upaya merawat kerukunan perlu dibangun dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga, komunitas, dan masyarakat setempat.

Media sebagai Mitra Strategis

Dalam kesempatan yang sama, Thobib menyoroti peran media massa dalam memperkuat komunikasi publik mengenai kerukunan umat beragama.

Ia menilai media tidak hanya berperan menyampaikan informasi kegiatan pemerintah, tetapi juga memiliki kontribusi penting dalam menghadirkan pemberitaan yang menggali substansi persoalan dan nilai-nilai kehidupan bersama.

“Media bukan hanya sekadar memberitakan apa yang akan disampaikan, tapi media juga punya tanggung jawab untuk bagaimana menceritakan yang lebih esensial, menceritakan yang lebih substansial,” ujarnya.

Thobib menyebut kolaborasi antara lembaga keagamaan dan media sebagai bagian dari dakwah bil qalam, yakni penyampaian nilai-nilai kebaikan melalui tulisan dan pemberitaan. Ia berharap sinergi tersebut terus diperkuat, termasuk melalui media digital yang menjadi salah satu sumber informasi keagamaan bagi generasi muda.

Terkait generasi Z, Thobib menilai pendekatan komunikasi keagamaan juga perlu memperhatikan karakter generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Media dan ruang digital dapat menjadi sarana untuk mengembangkan pesan toleransi dengan bahasa serta pendekatan yang relevan.

Thobib menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi mengenai kerukunan tidak cukup dinilai dari banyaknya publikasi yang dihasilkan. Ukuran yang lebih penting adalah semakin luasnya ruang perjumpaan, meningkatnya kolaborasi, dan manfaat kehidupan beragama yang dirasakan masyarakat.

“Ukuran yang pentingnya adalah semakin banyaknya ruang perjumpaan, semakin banyaknya kolaborasi yang tinggi, dan masyarakat semakin merasakan manfaat kehidupan keagamaan yang harmoni,” tuturnya.

 

Exit mobile version