BeritaKapolriNasionalNews

Warga Aceh Terkesan dengan Pemahaman Agama yang Baik dari Kapolri Suyudi Saat Kunjungi Makam Daud Beureueh

20

Aceh, panjimas – Kapolri Jenderal Polisi Dr (HC) Suyudi Ario Seto, SIK, SH, MSi, ziarahi makam ulama kharismatik Aceh, Teungku Muhammad Daud Beureueh di kompleks Masjid Baitul A’la Lil Mujahidin, Gampong Jaman Barat, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, Sabtu (24/10/2026).

Kapolri Jenderal Polisi Dr (HC) Suyudi Ario Seto, SIK, SH, MSi, melakukan ziarah ke makam ulama kharismatik Aceh, Teungku Muhammad Daud Beureueh atau Abu Beureueh, yang berada di kompleks Masjid Baitul A’la Lil Mujahidin, Gampong Jaman Barat, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, Sabtu (24/10/2026).

Masjid yang berada di tepi jalan nasional tersebut lebih dikenal masyarakat sebagai Masjid Abu Beureueh. Di kompleks masjid itu pula dimakamkan tokoh ulama dan pejuang asal Aceh tersebut.

Dalam ziarah itu, Kapolri didampingi Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan, Pangdam Iskandar Muda Brigjen TNI Mahesa Fitriadi, Wakapolda Aceh Brigjen Pol Dr Latif Usman, Kepala BNN Aceh Brigjen Pol Dr Dedy Tabrani, serta Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana.

Ketua Umum Pengurus Masjid Abu Beureueh, Haji Jamal Abadi, mengatakan Kapolri berziarah ke makam Abu Beureueh seusai menghadiri konferensi pers pengungkapan laboratorium atau pabrik sabu di dua ruko di Gampong Ulee Tutue, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie.

Menurut Jamal, rombongan tiba di Masjid Abu Beureueh sekitar pukul 16.20 WIB dan langsung menuju makam yang berada di sisi barat masjid. Di lokasi tersebut, Kapolri bersama rombongan memanjatkan doa yang dipimpin oleh Syekh Syahril.

“Seingat saya, Pak Kapolri Suyudi merupakan Kapolri pertama yang berziarah ke makam Abu Daud Beureueh,” kata Jamal kepada Serambi.

Ia menjelaskan, keinginan Kapolri untuk berziarah muncul setelah mendengarkan sambutan Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, yang menyinggung sejarah Pidie sebagai daerah yang melahirkan sejumlah tokoh besar Aceh, termasuk Abu Beureueh yang dikenal sebagai ulama pejuang dalam melawan penjajahan Belanda.

Jamal juga menilai Kapolri sebagai sosok yang taat menjalankan ajaran agama. Penilaian itu, katanya, terlihat saat Kapolri menghentikan pidatonya ketika azan dan iqamah berkumandang dalam rangkaian kegiatan yang dihadirinya di Pidie.

“Saat mendengar azan Asar, Bapak Kapolri langsung menghentikan pidato dan melepaskan kacamatanya. Beliau memang sudah melaksanakan Shalat Asar dengan jamak pada waktu Zuhur, sehingga setelah iqamah selesai beliau kembali melanjutkan pidatonya,” ujar Jamal.

Menurut dia, sikap Kapolri yang menghormati azan tersebut menjadi perbincangan positif di tengah masyarakat. “Peristiwa itu menjadi pembicaraan warga. Mereka melihat Pak Kapolri memiliki pemahaman agama yang baik dan menunjukkan sikap hormat terhadap syiar Islam,” katanya.

Teungku Muhammad Daud Beureueh merupakan tokoh nasional Indonesia yang lahir di Pidie, Aceh, pada 17 September 1899. Ia dikenal sebagai ulama, pejuang kemerdekaan, dan mantan Gubernur Aceh. Perjalanan hidupnya tidak terlepas dari perjuangan masyarakat Aceh menghadapi penjajahan Belanda. Meski tidak mengenyam pendidikan formal yang didirikan pemerintah kolonial, Daud Beureueh memperoleh pendidikan agama di sejumlah pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Titeue dan Pondok Pesantren Lie Leumbu.

Pada 1930, ia mendirikan Madrasah Sa’adah Adabiyah di Sigli, Aceh, sebagai bagian dari upayanya mengembangkan pendidikan. Daud Beureueh juga berperan dalam pendirian Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA). Organisasi tersebut menjadi salah satu wadah penting bagi ulama Aceh dalam menghadapi kebijakan kolonial Belanda yang membatasi aktivitas organisasi politik Islam. Namun, perjalanan politiknya juga diwarnai kontroversi.

Daud Beureueh kemudian terlibat dalam pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia dengan mendukung pendirian Negara Islam Indonesia (NII). Bagian dari perjalanan hidup tersebut menjadi salah satu babak kompleks dalam sejarah hubungan Aceh dengan pemerintah pusat.

Setelah kabar kemerdekaan Indonesia sampai ke Aceh pada 15 Oktober 1945, Daud Beureueh menyerukan kepada para ulama agar mendukung Presiden Soekarno dan Republik Indonesia yang baru berdiri. Dukungan masyarakat Aceh pada masa itu juga diwujudkan melalui berbagai langkah konkret.

Salah satunya adalah pembangunan dua pemancar radio untuk menyebarluaskan informasi mengenai kemerdekaan Indonesia kepada dunia. Selain itu, rakyat Aceh turut memberikan dukungan material bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ketika Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berkedudukan di Bukittinggi, Sumatera Barat, dipindahkan ke Aceh, masyarakat ikut membantu kebutuhan akomodasi pemerintahan tersebut.

Masyarakat Aceh juga mengumpulkan emas hingga 20 kilogram dan uang sebesar 120.000 dolar untuk membeli pesawat RI-001 Seulawah.

Pesawat tersebut menjadi pesawat kepresidenan pertama Indonesia dan berperan dalam sejarah awal penerbangan nasional. Daud Beureueh meninggal dunia pada 10 Juni 1987 dalam usia 87 tahun

Exit mobile version