BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Kader IMM Harus Jadi Teladan dan Penggerak Peradaban

12

YOGYAKARTA, panjimas – Kesalehan kader Muhammadiyah tidak cukup berhenti pada ibadah pribadi dan kepedulian sosial, tetapi perlu bertransformasi menjadi kesalehan peradaban.

Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, saat menyampaikan amanat dalam kegiatan Darul Arqam Madya (DAM) Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sleman di Tabligh Institute pada Rabu (28/10).

Fathurrahman membuka pemaparannya dengan menguraikan makna umat. Menurutnya, kata umat memiliki akar yang berkaitan dengan kata amanah, aman, imam, sekaligus makmum. Ia juga mengingatkan bahwa dalam Al-Qur’an, Nabi Ibrahim disebut sebagai satu umat karena kualifikasi yang dimilikinya.

“IMM ini penting sebagai sebuah gerakan kolektif, tetapi satu orang itu bisa merepresentasikan satu komunitas yang besar manakala kualifikasinya masuk,” ujar Fathurrahman.

Ia menjelaskan, kata umat juga mengandung makna mengarahkan diri pada tujuan. Karena itu, kader IMM perlu memiliki orientasi dan imajinasi tentang masa depan bangsa.

“Anak IMM itu punya suatu imajinasi masa depan. Mau ke mana Indonesia ini dibawa?, ” tuturnya.

Dalam pemaparannya, Fathurrahman merujuk pada gagasan Majid Irsan al-Kilani tentang kualifikasi umat serta faktor yang membuat umat jatuh dan sakit. Ia menegaskan bahwa predikat khaira ummah bukan sesuatu yang melekat dengan sendirinya, melainkan membutuhkan pembuktian dalam sejarah.

“Umat itu dibentuk. Umat itu tidak diterima begitu saja,” tegasnya.

Menurutnya, umat perlu dididik, disusun, diorganisasikan, dan diarahkan, sebagaimana Muhammadiyah yang didirikan melalui perjuangan yang berat. Fathurrahman kemudian menekankan peran Muhammadiyah sebagai saksi peradaban.

Konsekuensinya, kader harus menjadi teladan dalam amar makruf sekaligus dalam nahi munkar. Ia pun menegaskan pentingnya persatuan, kesatuan orientasi, dan jaringan solidaritas dalam membangun peradaban.

“Anda harus berani menjadi teladan dalam kemakrufan, tetapi Anda juga harus menjadi teladan dalam nahi munkar,” jelas Fathurrahman.

Di sisi lain, ia menyebut kebutuhan akan sumber daya manusia yang berintegritas, yakni sosok yang tidak terpecah antara ucapan dan perbuatan. Dalam konteks ini, ia mengenang Buya Syafii Maarif sebagai sosok yang berintegritas dan tidak cinta harta.

Fathurrahman juga mengajak kader meneladani Darul Arqam pada masa Nabi, yang melahirkan para sahabat dengan kualifikasi kolektif, serta pembentukan ekosistem sosial, politik, dan ekonomi di Madinah. Dari sana, menurutnya, kader perlu merumuskan agenda peradabannya sendiri.

“Untuk apa kita hadir? Masalah apa yang ingin kita selesaikan? Nilai apa yang kita perjuangkan? Kontribusi apa yang ingin Anda persembahkan kepada manusia?” sebutnya.

Ia menyebut jihad peradaban masa kini dapat diwujudkan, antara lain, melalui ketahanan keluarga, penguasaan media digital, dan inovasi teknologi. Di tengah ruang digital yang tanpa batas, ia mengingatkan agar kader tidak melupakan relasi kemanusiaan.

“WA tidak akan menggantikan relasi kemanusiaan,” katanya.

Di akhir pemaparan, Fathurrahman mengingatkan bahwa kader IMM kelak akan meneruskan estafet kepemimpinan Persyarikatan. Ia mengajak mereka untuk tetap lurus dan istikamah dalam berjuang.

“Jangan takut menjadi manusia transformatif, rezekinya mulia dan dijamin oleh Allah. Risalah ini perlu ada yang meneruskan,” pungkas Fathurrahman

Exit mobile version