KLATEN, panjimas – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meresmikan Daihatsu Vocational Expo 2026 sekaligus meluncurkan Daihatsu School Skill Center (DSSC) di SMK Muhammadiyah 2 Jatinom, Krajan, Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (29/10).
Mu’ti mengapresiasi kehadiran DSSC sebagai wujud kemitraan strategis antara dunia pendidikan dan industri. Menurutnya, penerapan konsep teaching factory dalam program pelatihan bengkel Daihatsu menjadi salah satu bentuk pengembangan pendidikan vokasi yang patut diapresiasi.
“Konsep teaching factory tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi dan keterampilan teknis, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan karakter dalam setiap proses pembelajaran,” jelas Mu’ti.
Ia menilai, kejujuran merupakan salah satu nilai utama yang harus ditanamkan kepada peserta didik, terutama dalam pekerjaan yang berkaitan dengan layanan perbengkelan. Sebab, profesi mekanik memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kepercayaan pelanggan.
Mu’ti mencontohkan, pelayanan bengkel yang tidak dilandasi kejujuran dapat merugikan pelanggan. Kendaraan yang semula hanya mengalami kerusakan ringan, misalnya, justru bisa mengalami masalah lebih serius akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab.
Selain kejujuran, Mu’ti juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan serta penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Kedua aspek tersebut harus menjadi bagian dari proses pembelajaran praktik karena berkaitan langsung dengan keamanan dan keselamatan seluruh pihak di lingkungan bengkel.
Ia menegaskan, nilai-nilai tersebut merupakan bagian integral dari penerapan konsep teaching factory yang dikembangkan SMK Muhammadiyah 2 Jatinom bersama Daihatsu.
Mu’ti berharap, kolaborasi tersebut dapat menjadi model pengembangan pendidikan vokasi yang mampu menyelaraskan penguasaan teknologi dengan pembentukan karakter, akhlak, dan budi pekerti luhur.
“Pendidikan kejuruan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang terampil dalam mengoperasikan teknologi dan menjalankan pekerjaan sesuai bidang keahliannya. Peserta didik juga perlu dibekali kepribadian yang baik agar mampu menjalankan profesinya secara profesional, bertanggung jawab, dan berintegritas,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala SMK Muhammadiyah 2 Jatinom, Titik Kodariah, mengatakan bahwa kehadiran DSSC menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi. Fasilitas tersebut tidak sekadar menjadi sarana praktik, tetapi juga bukti nyata sinergi antara lembaga pendidikan dan dunia industri.
“Hadirnya DSSC ini merupakan langkah penting dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan vokasi. Fasilitas ini bukan sekadar sarana praktik, tetapi juga menjadi bukti nyata sinergi antara lembaga pendidikan dan dunia industri,” ungkap Titik.
Ia menjelaskan, pengembangan pembelajaran di sekolah perlu melampaui kegiatan praktik yang hanya berorientasi pada kemampuan teknis. Aktivitas di bengkel, laboratorium, maupun teaching factory perlu dipadukan dengan pendekatan pembelajaran mendalam agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Selama sekitar satu dekade, lanjut Titik, SMK Muhammadiyah 2 Jatinom terus berupaya menghadirkan lingkungan praktik yang merepresentasikan kondisi kerja di industri. Kehadiran DSSC diharapkan semakin mendekatkan kompetensi siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) dengan standar pelayanan bengkel resmi Daihatsu.
“Melalui fasilitas ini, kami berharap kompetensi siswa semakin sesuai dengan standar industri sehingga ketika memasuki dunia kerja, khususnya di bengkel resmi, mereka tidak membutuhkan waktu adaptasi yang panjang,” jelasnya.
Titik juga berharap, kemitraan dengan Daihatsu dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kompetensi lulusan sekaligus pembentukan karakter peserta didik. Kolaborasi tersebut diharapkan membuka peluang lebih luas bagi lulusan untuk terserap di dunia industri dengan tetap memiliki kepribadian dan karakter yang baik.
Melalui kerja sama ini, SMK Muhammadiyah 2 Jatinom diharapkan mampu menghadirkan pendidikan vokasi yang tidak hanya unggul dalam keterampilan teknis, tetapi juga kuat dalam membangun karakter dan moral peserta didik.
