Jakarta, panjimas — Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menyatakan kesiapan mendukung upaya meminimalisasi buta aksara Al-Qur’an melalui pengembangan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan generasi saat ini. Salah satu pendekatan yang dibahas adalah Metode Yassir yang diperkenalkan oleh Yayasan Metode Yassir, yang memanfaatkan platform digital untuk membantu pembelajaran Al-Qur’an secara terstruktur dan terukur.
Hal tersebut disampaikan Romo Muhammad Syafi’i saat menerima audiensi tim peneliti Litapdimas (Penelitian, Publikasi Ilmiah, dan Pengabdian kepada Masyarakat) Kementerian Agama bersama tim Yayasan Metode Yassir di kantor Wakil Menteri Agama, Jakarta
Romo menilai, persoalan buta aksara Al-Qur’an di kalangan peserta didik, bahkan hingga mahasiswa, perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, diperlukan pendekatan pembelajaran yang mampu menjawab tantangan sekaligus menyesuaikan diri dengan karakteristik anak-anak di era digital.
“Bahwa buta aksara Al-Quran bagi anak-anak kita bahkan sampai tingkat mahasiswa itu sudah sampai pada kondisi yang memprihatinkan,” ungkap Romo saat menerima Audiensi di kantor Wamenag, Jakarta, Kamis, (29/10/2026).
Ia melihat pemanfaatan aplikasi sebagai salah satu alternatif yang dapat dikaji untuk meningkatkan ketertarikan anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an. Pendekatan berbasis teknologi tersebut dinilai menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut, terutama dalam menentukan fitur yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
“Ini program baru yang pilihannya itu sesuai dengan minat anak-anak era sekarang pakai aplikasi. Ya kan, ini kan menarik. Hingga nanti apa saja fitur yang perlu kita pakai nanti bisa dikaji lebih lanjut,” katanya.
Meski demikian, Romo menegaskan bahwa penerapan metode baru perlu didasarkan pada pengujian dan pengukuran yang jelas. Efektivitas program menjadi pertimbangan penting sebelum metode tersebut diadopsi sebagai kebijakan di lingkungan Kementerian Agama.
“Nanti kalau betul-betul terukur efektif dan memang bisa diterapkan baru itu kita jadikan kebijakan kementerian,” tegasnya.
Uji Coba dan Pengukuran Efektivitas
Dalam audiensi tersebut, Founder Yayasan Metode Yassir, Irvan Widodo, memaparkan pendekatan pembelajaran Al-Qur’an yang dikembangkan melalui metode tersebut. Metode Yassir berfokus pada penguasaan data, struktur, dan pola ayat. Pendekatan ini tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan membaca, tetapi juga pada pemahaman isi Al-Qur’an melalui proses pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan.
Irvan menilai, dukungan kebijakan pemerintah diperlukan agar upaya yang dilakukan para penggiat dakwah dan pengajar Al-Qur’an dapat berjalan lebih luas dan terkoordinasi.
“Tidak akan bisa berjalan selama belum ada kebijakan pemerintah. Kami sebagai orang-orang yang setiap hari menjalani dakwah di bawah tidak bisa menjadi satu kekuatan kalau ini tidak dibuat kebijakan oleh Pemerintah,” ujar Irvan.
Menanggapi paparan tersebut, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Prof. Nyayu Khodijah, menyarankan agar pengembangan Metode Yassir dilengkapi dengan bukti hasil uji coba. Menurutnya, data mengenai metode pelaksanaan serta perubahan kemampuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran penting untuk memperkuat penilaian terhadap efektivitas program.
“Alangkah bagusnya ini ditambahkan hasil uji coba, metode, terus hasilnya peningkatannya seperti apa?” ujarnya.
Masukan tersebut menjadi bagian penting dalam pembahasan tindak lanjut program. Dengan adanya hasil uji coba dan data peningkatan kemampuan peserta, Kementerian Agama dapat menilai manfaat metode tersebut secara lebih objektif sebelum mempertimbangkan penerapannya dalam skala yang lebih luas.
Sebagai langkah awal, pelaksanaan program direncanakan melalui pilot project di sejumlah madrasah di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Tahap ini akan menjadi ruang untuk menguji penerapan metode sekaligus memetakan kebutuhan pelaksanaan program di lapangan.
Pemetaan mencakup jumlah madrasah sasaran, kebutuhan instruktur di setiap madrasah, jumlah pelatihan yang diperlukan, serta lokasi pelaksanaannya. Perencanaan tersebut diperlukan agar program dapat dijalankan secara sistematis sesuai dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.
Selain itu, diperlukan Training of Trainers (ToT) untuk membekali para instruktur dengan pemahaman yang memadai mengenai metode pembelajaran dan penggunaan platform Al-Qur’an.
Melalui tahapan uji coba, pelatihan, dan evaluasi, Kementerian Agama dapat memperoleh gambaran mengenai efektivitas, kebutuhan sumber daya, serta kemungkinan penerapan Metode Yassir di madrasah.
Upaya ini diharapkan menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat pembelajaran Al-Qur’an sekaligus meminimalisasi buta aksara Al-Qur’an di kalangan peserta didik. Keputusan untuk menjadikannya kebijakan kementerian akan mempertimbangkan hasil pengujian, tingkat efektivitas, dan kesiapan penerapannya
