BeritaKemenagNasionalNews

Dirjen Pesantren Kemenag : Usai Peringatan Hari Santri, Saatnya Melanjutkan Pengabdian untuk Negeri

12

Jakarta, panjimas — Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, mengajak seluruh santri Indonesia untuk terus mengabdikan diri bagi bangsa dan negara. Menurutnya, perjuangan santri dalam menguatkan Indonesia tidak berhenti pada sejarah mempertahankan kemerdekaan, tetapi harus dilanjutkan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, akhlak mulia, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

“Jika dahulu santri menguatkan negeri melalui perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hari ini santri harus menguatkan negeri melalui ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, akhlak mulia, dan pengabdian masyarakat,” ujar Basnang dalam Puncak Hari Santri 2026 bertajuk Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026).

 

Basnang mengatakan, Hari Santri bukan sekadar momentum untuk mengenang sejarah perjuangan para ulama dan santri, melainkan juga kesempatan untuk meneguhkan kembali kontribusi pesantren dalam menjawab tantangan bangsa. Santri, menurutnya, memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang unggul, berakhlak, dan mampu menghadapi perubahan zaman.

 

“Tema Hari Santri tahun ini, Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, menegaskan bahwa santri bukan hanya pewaris tradisi keilmuan dan perjuangan para ulama, tetapi juga kekuatan strategis bangsa dalam menyiapkan generasi yang unggul, berakhlak, dan mampu menjawab tantangan zaman,” jelasnya.

 

Ia menegaskan, semangat pengabdian tersebut harus diwujudkan melalui kerja nyata, bukan berhenti pada peringatan tahunan. Karena itu, Direktorat Jenderal Pesantren merancang rangkaian Hari Santri 2026 sebagai ruang aktualisasi potensi santri sekaligus penggerak kemajuan pesantren.

 

“Rangkaian Hari Santri tahun ini kami rancang bukan sekadar sebagai perayaan seremonial, melainkan sebagai ruang aktualisasi potensi santri dan penggerak kemajuan pesantren,” ungkapnya.

 

Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk memperluas ruang kontribusi santri. Melalui Santri Vision 2026, misalnya, Kementerian Agama mendorong santri mengembangkan gagasan berbasis riset dan teknologi. Karya yang dihasilkan mencakup riset dan rekomendasi kebijakan, film dan seni sosial, hingga inovasi teknologi digital berbasis kecerdasan artifisial.

 

“Kami ingin menunjukkan bahwa santri tidak hanya cakap dalam bidang ilmu agama, tetapi juga mampu berinovasi dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa,” kata Basnang.

 

Selain pengembangan inovasi, Kementerian Agama juga mendorong penguatan wawasan kebangsaan, kreativitas, dan pelestarian tradisi pesantren. Hal tersebut diwujudkan melalui Perkemahan Pramuka Santri Nusantara yang diikuti 4.500 santri dari seluruh Indonesia, Festival Sarung dan Peci Santri, serta Sayembara Surat Santri untuk Presiden.

 

Menurut Basnang, berbagai kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun santri yang memiliki kapasitas keilmuan sekaligus kepedulian terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan. “Kami ingin membuka ruang bagi santri untuk menyuarakan gagasan tentang masa depan Indonesia,” tuturnya mengenai Sayembara Surat Santri untuk Presiden.

 

Di sisi lain, penguatan pesantren juga diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing global. Melalui forum akademik Multaqa Ad-Dawli yang berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pesantren didorong saling bertukar pengalaman, pemikiran, dan praktik baik dalam pengembangan pendidikan.

 

“Ini adalah forum akademik pesantren yang menjadi ikhtiar untuk mempertemukan pengalaman, pemikiran, dan praktik baik dalam pengembangan pesantren, sehingga pesantren semakin berkualitas, adaptif, dan berdaya saing global tanpa kehilangan jati diri,” paparnya.

 

Basnang berharap, seluruh rangkaian Hari Santri dapat menjadi gerakan berkelanjutan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh pesantren, santri, dan masyarakat luas.

 

“Oleh karena itu, seluruh rangkaian ini kami rancang sebagai gerakan berkelanjutan yang memperkuat kualitas santri, memajukan pesantren, merawat tradisi, mendorong inovasi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa,” tegasnya.

 

“Kami ingin memastikan bahwa semangat yang dibangun melalui kegiatan-kegiatan ini diterjemahkan menjadi program kolaborasi dan capaian yang manfaatnya dirasakan langsung oleh pesantren, santri, dan masyarakat secara luas,” sambungnya.

 

Puncak Hari Santri 2026 ditandai dengan kegiatan Munajat Santri untuk Negeri. Melalui kegiatan tersebut, para santri diajak memanjatkan doa bagi keselamatan dan kebaikan bangsa di tengah berbagai ujian dan tantangan yang dihadapi Indonesia.

 

“Melalui kegiatan ini, kita bersama-sama bermunajat dan berdoa untuk kebaikan negara yang kita cintai ini. Di tengah berbagai ujian dan cobaan, insyaallah doa-doa para santri makbul dan diijabah oleh Allah SWT,” ucap Basnang

Exit mobile version