MuhammadiyahNasionalNews

Konferensi Mufasir Muhammadiyah III: Menag Ajak Umat Kembangkan Tafsir yang Transformatif

27
×

Konferensi Mufasir Muhammadiyah III: Menag Ajak Umat Kembangkan Tafsir yang Transformatif

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Konferensi Mufasir Muhammadiyah III pada Kamis–Sabtu (28–30/08) di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Forum strategis ini diselenggarakan sebagai upaya mempercepat penyusunan Tafsir at-Tanwir. Tafsir ini merupakan sebuah karya monumental Muhammadiyah yang ditargetkan rampung pada tahun 2027 sekaligus bertepatan dengan seratus tahun Majelis Tarjih dan Tajdid.

Dengan mengusung tema “Mewujudkan Tafsir at-Tanwir Muhammadiyah sebagai Landasan Gerak Pemikiran Tajdid yang Responsif dan Dinamis untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”, konferensi ini menghadirkan para mufasir Muhammadiyah dari dalam dan luar negeri.

Tujuannya tidak semata memperkuat jejaring mufasir, tetapi juga merumuskan gagasan penafsiran al-Qur’an yang kontekstual, moderat, dan berkemajuan.

Menteri Agama, Nazaruddin Umar, menekankan pentingnya memahami al-Qur’an secara kontekstual dan transformatif.

Menurutnya, al-Qur’an bukan hanya kitabullah tetapi juga kalamullah, sebuah himpunan makna yang luas seperti halnya bangunan yang tersusun dari beragam elemen. Ia menyayangkan masih banyak kalangan yang memahami al-Qur’an secara kaku dan tekstual, sehingga sulit menghadirkan tafsir alternatif yang dinamis.

“Kelemahan umat kita hari ini adalah sangat paham masalah fikih, tapi tidak paham usul fikih. Mereka ibarat memanjat sebuah pohon, namun berpegang pada ranting rapuh ketimbang batang yang kokoh,” tegasnya.

Di sinilah pentingnya mengembangkan tafsir yang tidak berhenti pada tataran tekstual, melainkan menuntun umat pada pemahaman yang transformatif.

Senada dengan itu, Din Syamsuddin, dalam paparannya mengangkat tema “Manhaj Tafsir al-Qur’an Transformatif”, menekankan perlunya metode penafsiran yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga keotentikan pesan al-Qur’an.

Agenda berikutnya pada Jumat (29/08) berupa Lokakarya Penulisan Tafsir, yang terdiri dari Panel Forum bersama Syamsul Anwar, Hamim Ilyas, dan Ustadi Hamsah.

Selain itu, konferensi juga menghadirkan Parallel Session pada Jumat-Sabtu (29/30-08) yang menjadi ruang bagi para peserta untuk mempresentasikan sekaligus menyempurnakan naskah tafsir yang mereka tulis. Dalam forum ini, para pemakalah tidak hanya menyampaikan gagasannya, tetapi juga diuji argumentasinya oleh para pakar agar lahir penafsiran yang kokoh secara metodologis.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi sarana seleksi sekaligus penguatan kapasitas mufasir Muhammadiyah. Dari 89 naskah tafsir yang masuk, sebanyak 51 terpilih untuk dipresentasikan dan disempurnakan melalui forum ini.

“Konferensi Mufasir ini bertujuan menjaring penulis Tafsir at-Tanwir yang kompeten, sekaligus memperkuat kolaborasi dalam penulisan 30 juz secara sistematis,” jelasnya.

Peserta konferensi ini meliputi pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid, para mufasir Muhammadiyah, serta penulis terpilih dari call for paper. Melalui forum ini diharapkan lahir jejaring mufasir yang solid, bertambahnya penulis Tafsir at-Tanwir yang berkompeten, serta tersusunnya strategi penulisan 30 juz secara sistematis, termasuk rencana penyelesaian juz 25–30.

Setelah seluruh sesi selesai, pada Sabtu (30/08) konferensi akan ditutup dengan rapat pleno yang merangkum hasil diskusi sekaligus merumuskan tindak lanjut penyusunan Tafsir at-Tanwir ke depan.

Konferensi Mufasir Muhammadiyah III menandai langkah penting bagi Muhammadiyah dalam mempercepat penyusunan Tafsir at-Tanwir. Melalui forum ini, para mufasir dihimpun untuk memperkuat kerja kolaboratif sekaligus memastikan lahirnya tafsir al-Qur’an yang relevan dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *