NasionalNews

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ungkap Fakta Mengejutkan! Literasi Jadi Kunci Peradaban Bangsa

53
×

Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ungkap Fakta Mengejutkan! Literasi Jadi Kunci Peradaban Bangsa

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa literasi adalah bekal utama membangun peradaban bangsa.

Mendikdasmen menekankan, literasi tidak boleh dipahami sebatas keterampilan membaca dan menulis, tetapi harus mencakup kemampuan berpikir kritis, menafsirkan gagasan, hingga membaca realitas sosial di tengah derasnya arus teknologi dan disinformasi.

Menurut Abdul Mu’ti, perkembangan teknologi membuat batas antara fakta dan hoaks semakin kabur.

Generasi muda yang tidak dibekali literasi sejak dini berisiko terseret arus informasi tanpa daya saring.

“Generasi literat adalah generasi cerdas, beradab, dan siap menghadapi tantangan global,” ujarnya dalam forum Jagat Literasi.

Literasi Bukan Sekadar Membaca
Dalam paparannya, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa literasi harus menjadi gerakan bersama.

“Literasi bukan sekadar membaca aksara, tetapi juga membaca pemikiran, menelaah secara kritis, dan berani menyumbangkan gagasan yang mampu membawa perubahan,” tegasnya.

Mendikdasmen mendorong dunia pendidikan agar tidak hanya menumbuhkan minat baca, tetapi juga melatih kemampuan menulis, menalar, dan mengekspresikan gagasan.

Dengan begitu, generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, melainkan juga pencipta ide-ide baru yang berguna bagi bangsa.

Alarm PISA 2022 dan Pentingnya STEM
Pandangan serupa juga disampaikan Stephanie Riyadi, penasihat ahli Kemendikdasmen sekaligus Executive Director Pelita Harapan Group.

Stephanie menyoroti capaian Indonesia dalam hasil PISA 2022 yang masih rendah, terutama dalam bidang literasi membaca, matematika, dan sains.

“Ini alarm penting bagi kita semua. Pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) harus dilihat sebagai literasi abad ke-21.

Bukan sekadar soal rumus atau robot, tetapi pola pikir untuk berani bertanya, mencari solusi, dan berkolaborasi sebelum berkompetisi,” ungkapnya.

Stephanie menilai, tanpa reformasi serius di bidang literasi dan STEM, Indonesia berisiko tertinggal dalam kompetisi global.

Sebaliknya, jika ekosistem pendidikan mampu menguatkan keduanya, generasi muda Indonesia tidak hanya siap bersaing, tetapi juga siap memimpin dunia.

Sinergi Membangun Ekosistem Literasi
Acara Jagat Literasi yang ditayangkan langsung melalui kanal YouTube ini juga menjadi ruang refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Stephanie berharap, media, pemerintah, industri, dan masyarakat dapat saling bersinergi dalam membangun ekosistem literasi dan STEM yang kokoh.

Kolaborasi ini diyakini akan memperkuat daya saing bangsa di era digital.

Literasi untuk Generasi Emas 2045
Pesan utama dari forum ini jelas: literasi adalah fondasi menuju generasi emas 2045.

Tanpa budaya literasi yang kuat, Indonesia akan kesulitan menghadapi gempuran hoaks, disinformasi, dan tantangan global lain.

Abdul Mu’ti menutup dengan optimisme. “Jika kita menyiapkan generasi literat sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, beradab, dan berdaya saing.

Inilah modal sejati membangun peradaban bangsa,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *