Jakarta, panjimas – Kementerian Kebudayaan tengah melakukan penguatan budaya yang lahir dari jati diri bangsa. Budaya bangsa Indonesia sangat kaya dan beragam, meliputi warisan seperti Pencak Silat, Angklung, Batik, Tarian Saman, dan Rumah Adat yang unik di setiap daerah. Seperti : upacara Ngaben di Bali dan Ritual Tiwah di daerah Kalimantan Tengah.
Keberagaman ini terbentuk dari berbagai pengaruh, mulai dari budaya lokal, Tionghoa, Arab, India, hingga Eropa, dan mencakup berbagai bentuk seni, bahasa daerah, dan sistem kekerabatan yang harus dijaga dan dilestarikan sebagai aset bangsa.
Hal ini disampaikan usai bertemu dengan Menteri Kebudayaan, Dr. Fadli Zon di Library Jl. Danau Limboto No.96 Bend. Hilir, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat (22/9/25). Dalam pengantar sambutannya Sekjen MUI Dr.Amirsyah Tambunan menegaskan bahwa manusia dan besi merupakan ciptaan Allah yang di berikan keistimewaan oleh Allah SWT karena itu Allah SWT mengingatkan dalam Qur’an surat Al Hadid ayat 25 :
وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌࣖ
Artinya : Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Allah memberikan tamsil melalui besi.
Lebih lanjut Amirsyah mengatakan perlunya budaya kuat seperti besi yakni merujuk pada Zaman Besi, yaitu periode prasejarah di mana perkakas dan senjata dibuat terutama dari besi, menggantikan material yang lebih lemah seperti perunggu dan batu. “Hal ini menandai kemajuan signifikan dalam teknologi, pertanian, serta struktur sosial masyarakat harus kuat dalam bidang ekonomi, politik dan penegakan hukum,” ujar Buya Amirsyah Tambunan.
Hadir Ketua MUI.Dr Jeje Jaenudin, Dr Saiful Bahri, Aisyah Ulfa, MIKom, Zul Ardia, Nur Khamim S.Ag, Hadi Nur Ramadhan, M.Pd sebagai pengurus Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI yang menyampaikan capaian budaya seperti: produksi cipta lagu islami, Launching ensiklopedi budaya Islam Indonesia, Gebyar Budaya Munas MUI, Sinergi Program Unggulan LSBPI MUI.
Lebih lanjut Dr Amirsyah mengapresiasi program kolaborasi Kemenbud RI bersama ormas seperti NU, Muhammadiyah, MUI, Persis dll. Mengutip ayat Quran tentang besi, kata keris seperti terdapat koleksi di Fadli Zon Library. Kebudayaan yang kuat, dari berbagai perspektif termasuk budaya politik dan politik kebudayaan bagian dari pembahasan pada Musyawarah Nasional (Munas) MUI pada 20-23 November 2025 di Mercuri Hotel Ancol,
Acara itu di awali dengan Festival Budaya tanggal 28 Oktober 2025 sekaligus Lounching Buku Ensiklopedia Budaya Islam Indonesia saat Islamic Bookfair di JCC Jakarta. Kemenbud pun merespon acara berikutnya yakni kerjasama LSPBI MUI dengan Kemenbud RI berupa Kongres Kebudayaan Islam secara global untuk mempromosikan budaya Islam Indonesia di kancah global di serta dengan
Dialog Budaya Islam dalam rangkaian Gebyar Budaya Islam pada momentum Munas MUI ke XI
Dalam kesempatan yang sama Dr Jeje Jaenudin, Ketua MUI Bidang Seni Budaya menegaskan bahwa momentum Islamic Bookfair (IBF) di JCC Jakarta, dilakukan grand lounching Ensiklopedia Budaya Islam Indonesia juga acara
Workshop dan dialog kebudayaan Islam pada Munas MUI di sertai pemberian hadiah buku ensiklopedia budaya Islam Indonesia untuk ketua umum MUI se Indonesia (38 Propinsi).
Fadli Zon yang di dampingi Mahendra, Dirjen Pengembangan kebudayaan, Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum juga hadir sebagai Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk memperkuat budaya Indonesia. Adapun dalam Kemenbud terdapat tiga Direktorat Jenderal termasuk Dirjen Perlindungan Tradisi, Dirjen Diplomasi dan Promosi Kebudayaan dan Sejarah.
Saat ini terdapat 1,8 hingga 2 juta situs budaya yang diurus Kemendikbud RI dengan tagline ” Mega Diversity” karena kekayaan budaya di Indonesia. Hingga saat ini Kemenbud sudah keliling ratusan negara. Indonesia merupakan melting pot masa lalu yang panjang sejak zaman Hindu Budha hingga Islam. Peninggalan Hindu; candi dan menjaga Musium peradaban Islam di Jakarta, seperti TMII ada musium Al Quran Kemenag RI, Istiqlal, UIII Depok.
Berbagai pihak melakukan penguatan budaya seperti akan dilakukan oleh Boy Tohir yang membangun Musium Peradaban Islam, Musium Peradaban Pasai, Aceh,
Musium Muhammadiyah Jogja yang sudah bagus, karena guidenya dan kuratornya lengkap. Musium Islam Indonesia seperti Hasyim Asyari, Minha, di Jombang. Museum masuknya Islam abad ke 7, ditandai dengan Prasasti Revolusi jihad NU.
Ormas-ormas Islam seperti Persis, Matla’ul Anwar, PUI dll segera menyusul membangun musium sebagai Pusat Informasi, Budaya dan Peradaban Islam. Target Kemenbud mendukung pembangunan 1000 musium. Yg sudah ada seperti : Musium Hamka, Musium Soekarno, Musium HOS Cokroaminoto, Musium WR Supratman. WR Supratman, Agus Salim, Sutan Syahrir.
Setiap pahlawan ada musiumnya; kecuali Rasuna Said, tokoh perempuan dari Sumbar, yang diasingkan oleh Belanda ke Semarang. Sedangkan dari Diniyah putri ada nama :Rahmah Yunusiah (belum masuk sebagai pahlawan nasional).
Dari Jawa Barat ada Musium Asep Abdul Halim, Kyai Abbas, Buntet, Cirebon, kyai Wahid Hasyim, Jombang juga melengkapi 10 masjid tertua di berbagai wilayah, termasuk gereja tua. Ini menunjukkan kekayaan budaya bangsa yang merdeka dan berdaulat.













