MuhammadiyahNasionalNews

Empat Karakter Gerakan ‘Aisyiyah : Manifestasi Islam Berkemajuan dan Kemanusiaan Universal

58
×

Empat Karakter Gerakan ‘Aisyiyah : Manifestasi Islam Berkemajuan dan Kemanusiaan Universal

Sebarkan artikel ini

Surabaya, panjimas – Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini menjelaskan empat Karakter Gerakan ‘Aisyiyah (KGA) dalam Konsolidasi Nasional Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah di Surabaya, Jawa Timur pada Sabtu (8/11).

Dirumuskan pada Tanwir I ‘Aisyiyah pada tahun 2025 di Jakarta, konsep KGA adalah pemikiran resmi ‘Aisyiyah yang mengacu pada pemikiran-pemikiran resmi persyarikatan. Hal ini menunjukkan adanya hubungan substantif dengan dokumen ideologi Muhammadiyah ‘Aisyiyah.

Karakter pertama, yaitu Gerakan Islam Berkemajuan, dakwah, dan tajdid (Harakah al-Islamiyyi al-Taqaddumiyyi wa al-Da’wah wa al-tajdid.

“Hal ini dimaknai bahwa ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Muhammadiyah menyandarkan seluruh aktivitasnya pada ajaran Islam yang berorientasi pada kemajuan atau disebut Islam Berkemajuan,” terang Noordjannah.

Sebagai gerakan dakwah, ‘Aisyiyah juga berkewajiban menunaikan dakwah amar maruf nahi munkar, juga mengembangkan dakwah kultural yang dilakukan di tengah keragaman. Sementara itu, tajdid dimaknai sebagai upaya pembaruan dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam seiring degan tantangan dari kebutuhan zaman.

Kedua, Gerakan Perempuan Berkemajuan atau Harakah al-Mar’ah al-Taqaddumiyya. ‘Aisyiyah memandang, perempuan seyogyanya berperan aktif memajukan bangsa dan mencerahkan semesta.

Perempuan berkemajuan, lanjut Noordjannah, memiliki setidaknya 10 komitmen. Yaitu penguasaan IPTEK, pelestarian lingkungan, penguatan keluarga sakinah, pemberdayaan masyarakat, filantropi Berkemajuan. aktor perdamaian, partisipasi publik, kemandirian ekonomi, peran kebangsaan, serta kemanusiaan universal.

Ketiga adalah gerakan amal (Ḥarakah al-‘Amal) yang meliputi praksis sosial dan amal usaha.

“Gerakan amal berangkat dari pentingnya pelembagaan amal saleh yang bertujuan mengatasi problem-problem kehidupan, seperti lembaga kedermawanan, kesejahteraan, pemberdayaan, pendidikan, dan kesehatan,” jelas Noordjannah.

Dengan kelembagaan itu, amal saleh bukan lagi semata-mata dilakukan secara individual melainkan dalam bentuk gerakan yang terorganisasi.

Keempat adalah gerakan kebangsaan dan kemanusiaan universal (Ḥarakah al-Wathaniyyah wa- al-Insāniyyah). Menurut Noordjannah, KGA yang keempat ini dapat dimaknai sebagai partisipasi dan peran aktif dalam kehidupan kebangsaan.

“Selain itu, juga memperkuat komitmen pada nilai keadilan, kemaslahatan, dan solidaritas kemanusiaan global. ‘Aisyiyah dapat berperan sebagai pemersatu bangsa di tengah perbedaan dan keragaman,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *