MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah: Kokoh dalam Prinsip, Terbuka dalam Perbedaan

56
×

Muhammadiyah: Kokoh dalam Prinsip, Terbuka dalam Perbedaan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti berpesan supaya warga Muhammadiyah lebih bangga dan mantab dalam gerakan Persyarikatan ini.

Hal itu disampaikan Mu’ti pada Ahad (2/11) dalam Hari Bermuhammadiyah Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Gedung Cendekia yang mengangkat tema “Menggerakkan Peradaban Bangsa: Sinergi Kolaborasi, Kontribusi”.

Pimpinan termasuk warga Muhammadiyah diminta untuk lebih mengenal lebih dekat tokoh-tokohnya. Mu’ti mensinyalir, warga bahkan pimpinan di Muhammadiyah masih belum banyak mengenal para tokohnya.

Menceritakan kunjungannya ke Mesir, Mu’ti menyampaikan, masyayikh di Mesir begitu mengagumi Muhammadiyah – termasuk peran kader-kader yang yang berhimpun di Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Mesir.

“Saya juga mendapat informasi bahwa Tapak Suci juga sudah menjadi organisasi yang diakui di Mesir, yang sudah tersebar di sembilan provinsi di negara Mesir,” katanya.

Pengakuan Muhammadiyah di dunia internasional harus menjadi modal bagi warga Muhammadiyah supaya lebih yakin bahwa memilih dan bergabung di Muhammadiyah adalah pilihan yang benar.

“Tapi kita tentu harus terbuka dengan ormas-ormas yang lain,” tuturnya.

Menggunakan pendekatan bahasa dalam memahami kata umat, Abdul Mu’ti menjelaskan, bahwa umat Islam harus satu walaupun berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain – ada banyak ragam dalam Islam.

Dalam pendekatan itu, imbuhnya, makna dari kata umat itu tidak hanya dikhususkan bagi komunitas muslim, tapi lebih luas lagi. Penggunaan kata umat yang tidak dikhususkan untuk muslim dapat ditemukan di dalam Ali Imran ayat 113.

Perbedaan dalam urusan-urusan cabang di tubuh umat Islam merupakan sunnatullah, akan tetapi tafarruq atau berpecah belah dilarang. Sebab perbedaan tidak bisa dihindari, namun perbedaan jangan sampai berpecah belah.

Kenyataan itu yang membuat Muhammadiyah tidak menutup diri, siapapun boleh belajar di Muhammadiyah. Bahkan di beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) ada yang mayoritas mahasiswanya non-muslim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *