BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Tujuan Pendidikan Muhammadiyah : Menjadikan Ulama yang Intelek, dan Intelek yang Ulama

86
×

Tujuan Pendidikan Muhammadiyah : Menjadikan Ulama yang Intelek, dan Intelek yang Ulama

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas – Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi buah simalakama, karena di sisi lain memudahkan kehidupan manusia namun tak jarang juga menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

 

Menyikapi kenyataan tersebut, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib meminta, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi wajib dibarengi dengan keimanan yang bernilai transendental untuk kesadaran moral yang dibimbing wahyu.

 

“Tetapi ketika ilmu dan teknologi itu ada di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, maka justru akan merusak peradaban dan seterusnya,” kata Irwan pada (19/2) di Masjid Islamic Center UAD.

 

Oleh karena itu, Irwan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan orang beriman. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak boleh bebas nilai, melainkan harus bernilai ketuhanan yang membebaskan dan memajukan.

 

Maka pendidikan untuk anak-anak generasi penerus tidak boleh lepas dari nilai-nilai keimanan. Keberimbangan ini diperlukan sebab mereka yang akan memimpin masa depan dan membangun peradaban umat manusia.

 

“Kita ingin Indonesia ini, kita ingin teknologi ini dikuasai oleh orang-orang yang beriman, dikuasai oleh anak-anak kita ke depannya, maka sangat tergantung pada pendidikan yang kita berikan pada hari ini,” ungkapnya.

 

Pendidikan berimbang untuk mencerdaskan akal dan budi/spiritual anak ini menurut Irwan selaras dengan semangat pendidikan yang dipelopori Kiai Ahmad Dahlan. Pada 1911 Kiai Dahlan telah memulai proyek pendidikan integratif.

 

Padahal pada waktu itu, pendidikan di dunia masih sangat dikotomis. Namun Kiai Dahlan dengan kecerdasannya mampu melihat gelagat zaman menuju arah baru yang berbeda, dan itu membutuhkan manusia yang ‘utuh’ tidak hanya mencerdaskan akal tapi juga spiritual.

 

“Sebagaimana yang disampaikan oleh Kiai Dahlan, jadilah ulama yang intelek dan intelek yang ulama. Artinya bahwa anak-anak kita, peserta didik kita, mahasiswa kita di samping mengetahui, memahami pengetahuan umum, menguasai ilmu dan teknologi juga tidak lepas dari nilai-nilai transendental. Dia tetap harus dipandu oleh wahyu,” katanya.

 

Semangat tersebut kemudian dikodifikasi oleh Muhammadiyah pada Muktamar 45 di Yogyakarta, bahwa pendidikan Muhammadiyah itu membebaskan manusia dari keterbelakangan, dan kebodohan.

 

Maka pendidikan Muhammadiyah saat ini ditata untuk melahirkan manusia yang tak sekadar menguasai ilmu dan teknologi, tapi juga memahami agama yang dipandu oleh wahyu. Sehingga ilmu dan teknologi yang mereka hasilkan memberi manfaat bagi perkembangan manusia dan peradaban masa depan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *