Jakarta, panjimas – Ekoteologi—membangun tanpa merusak bumi—menjadi penekanan utama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., saat menjadi keynote speaker dalam Kajian Ramadan 1447 PWM Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah Jember, Sabtu (21/2/2026).
Melalui sambungan daring, Haedar menegaskan bahwa kemajuan pembangunan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan sebagai wujud amanah kekhalifahan manusia di bumi.
Dalam paparannya, ia menekankan bahwa ekoteologi bukan sekadar wacana, melainkan kerangka etik dan teologis yang harus membimbing pembangunan.
Menurut Haedar, manusia sebagai khalifah di bumi memikul amanah untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal, namun tetap bertanggung jawab menjaga kelestariannya.
“Membangun dengan begitu hati-hati pun pasti ada kerusakan, namun bagaimana melakukan recovery ketika ada kerusakan,” ujarnya.
Ia mengibaratkan pembangunan seperti operasi pada tubuh manusia. Sekecil apa pun tindakan medis, tetap meninggalkan dampak. Yang terpenting adalah bagaimana proses pemulihan dilakukan secara tepat dan terencana.
Karena itu, Haedar menegaskan bahwa pembangunan peradaban memerlukan konsep yang matang. Tanpa kerangka yang jelas, pembangunan mudah tergelincir menjadi aktivitas eksploitatif yang merusak lingkungan.
Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia saat ini berada pada titik tarik-menarik antara idealitas dan realitas. Di satu sisi, negeri ini kaya sumber daya alam; di sisi lain, kemiskinan masih membelit sebagian masyarakat, termasuk umat Islam.
“Tuntutan kita adalah menyejahterakan rakyat seluas-luasnya, maka negara harus hadir,” tegasnya.
Namun, menghadirkan kesejahteraan tanpa menimbulkan kerusakan ekologis bukan perkara mudah. Meski demikian, Haedar meminta semua pihak tidak pesimis.
“Jangan pesimis bahwa kita tidak bisa membangun tanpa merusak,” katanya.
Ia menilai Muhammadiyah berada pada posisi strategis sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan untuk mengawal arah pembangunan berkelanjutan. Meski demikian, Muhammadiyah tidak dapat berjalan sendiri.
“Kita harus bekerja sama dengan negara agar negara juga bisa hadir dan membangun dengan benar,” ujarnya.
Haedar menekankan bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan suara kritis, tetapi harus disertai kerja nyata yang solutif.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung bencana di Kabupaten Bone Bolango yang menelan banyak korban. Kasus tersebut menunjukkan kompleksitas persoalan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan risiko kerusakan lingkungan.
“Ini termasuk problem yang tidak sederhana,” ungkapnya.
Karena itu, ia mengajak semua pihak berpikir secara interelasi—menghubungkan aspek kesejahteraan, kelestarian lingkungan, dan upaya islah (perbaikan) secara simultan.
Menutup paparannya, Haedar mengajak peserta merenungkan dua ayat Al-Qur’an, yakni Al-Baqarah: 29 dan Al-Qasas: 77. Ia menegaskan bahwa orientasi dunia dan akhirat tidak boleh dipertentangkan.
dihindar
“Dunia dan akhirat adalah satu kesatuan yang tidak bisa lepas. Manusia hendaknya berbuat ihsan, tetapi tidak merusak di muka bumi,” tegasnya.
Ia menambahkan, menjauh dari dunia demi menjaga kelestarian bukanlah jalan seorang khalifah. Namun sebaliknya, sikap rakus dalam pembangunan juga harus dihindari.
“Mari bangun, kembangkan ekoteologi, membangun tanpa merusak lingkungan, tetapi lingkungan yang mampu memberi kesejahteraan dan kemajuan bagi masyarakat,” pungkasnya













