Jakarta, panjimas – Ramadhan bulan penuh barokah, karena itu Allah memberikan ke istimewaan kepada umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Namun yang menjadi pertanyaan bagaimana prilaku kita di bulan Ramadhan agar produktif?
Hal itu yang disampaikan oleh Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan. Lebih lanjut Buya menyampaikan bahwa menjalani bulan ramadhan dengan tetap aktif bekerja, berkarya, dan beraktivitas optimal tanpa menjadikan puasa sebagai alasan “kambing hitam” menurunnya produktifiatas.
“Untuk itu perlu keseimbangan antara meningkatkan ibadah (spiritual) dan memaksimalkan produktivitas untuk pengembangan ekonomi sejalan dengan nilai ibadah puasa yakni ekonomi syariah penuh berkah atau barokah, yang berarti nikmat, karunia Tuhan, atau bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair),” ujar Buya Amirsyah.
Tujuannya agar Ramadhan menjadi momen bermakna yang menghasilkan dua hal; pertama, pahala (ajrun) keberkahan; kedua, meningkatnya penghasilan (ujroh) terutama dalam sektor keungan syariah dengan prinsip kerja keseimbangan (tawazun) antara Ibadah yang bersifat pengabdian kepada Allah (ta’abbudi) dan ibadah kerja (ta’akkuli).
Dengan kata lain menurut Buya, fokus pada dua bentuk ibadah yakni ritual, yang khusus (khassah) tetapi juga yang bersifat umum (ummah) agar aktivitas tetap berjalan melalui
Peningkatan kualitas diri dengan menjadikan Ramadhan sebagai ajang muhasabah untuk meningkatkan kualitas diri baik secara spiritual maupun profesional.Dalam konteks ini perekonomian Indonesia terutama sepuluh tahun terakhir mengalami , pertumbuhan utang pemerintah jauh lebih kencang dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi.
Kondisi ini mencerminkan beban utang relatif tinggi dan kapasitas ekonomi makin besar.Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, utang pemerintah telah melonjak dari Rp3.515,7 triliun ( 2016) menjadi Rp9.637,9 triliun ( 2025. Sekali lagi terjadi anomali utang pemerintah mengalami kenaikan sebesar Rp 6.122 triliun dalam kurun waktu satu dekade dengan pertumbuhan sebesar 174% atau naik hampir tiga kali lipat.
Penyebabnya antara lain belanja negara mengalami kenaikan sebesar 65%. Angkanya naik dari Rp2.082 triliun di 2016, naik menjadi Rp3.451 triliun sebagaimana dimuat dalam artikel CNBC Indonesia “Utang Pemerintah” Melonjak 3 Kali Lipat, Ekonomi Hanya Tumbuh 2 kali.
Oleh karena itu dirinya mengingatkan pemerintah agar menggunakan APBN yang lebih produktif, bukan konsumtif dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui kedaulatan ekonomi rakyat yang produktif agar pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pendapatan negara melaui pajak, bukan sebaliknya.
Juga bukan semata-mata mengejar pertumbuhan, tapi juga pemerataan ekonomi. Misalnya ketika pajak di genjot, namun pertumbuhan dan pemerataan ekonomi masih belum menggembirakan karena daya beli masyarakat.
“Terutama masyarakat bawah masih rendah, ” tandas Buya usai buka bersama dengan jajaran petinggi OJK di kawasan Menteng, pada hari Jumat ( 20/2/26).
Untuk itu dirinya mengajak seluruh jajaran OJK agar lebih produktif dengan mendorong pertumbuhan ekonomi syariah agar masyarakat merasakan keberkahannya.













