BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Ketika Seribu Rupiah Menjadi Satu Miliar: Lazismu Nyalakan Empati Pelajar

151
×

Ketika Seribu Rupiah Menjadi Satu Miliar: Lazismu Nyalakan Empati Pelajar

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas — Masjid Ibnu Umar di lingkungan SMP Muhammadiyah 13 Panceng penuh ratusan siswa duduk bersila dengan rapi. Sorot mata mereka memancarkan antusiasme luar biasa. Mereka tidak sedang mengikuti pelajaran kelas yang kaku, melainkan menyimak paparan yang menyentuh sisi kemanusiaan.

Hari itu, Lazismu Kabupaten Gresik hadir sebagai guest teacher untuk mengusung tema “Keutamaan Sedekah” sekaligus menyosialisasikan program Amil Cilik. Manajer Fundraising Lazismu Kabupaten Gresik, Nur Sakinah Eskariani, S.P., M.M., atau yang akrab mereka sapa Kiki, memandu langsung sesi tersebut. Ia mengajak para siswa menyelami makna berbagi dalam perspektif filantropi Islam yang inklusif.

Dengan membawa pesan kuat “Sinergi Itu Indah”, Kiki menegaskan, kolaborasi antara sekolah-sekolah Muhammadiyah di bawah naungan Majelis Dikdasmen dan Lazismu telah mengakar dalam program Filantropis Cilik. Ikhtiar bersama ini bertujuan mengentaskan persoalan kesejahteraan, baik bagi siswa maupun guru yang membutuhkan bantuan di lingkungan sekolah.

“Filantropi ini adalah kelanjutan dakwah KH Ahmad Dahlan,” tegas Kiki di hadapan para siswa.

Kemudian ia menjelaskan, secara etimologis, filantropi berasal dari bahasa Yunani, yakni philos yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Maka, esensi dari kegiatan ini adalah perwujudan rasa cinta yang tulus kepada sesama manusia melalui aksi nyata.

Berbicara dan Berakhlak
Kiki mengingatkan peserta, orang bertakwa memiliki ciri utama gemar berinfak, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Selain itu, ia mematahkan stigma, berbagi harus menunggu hingga seseorang menjadi kaya raya. Baginya, konsistensi dan niat jauh lebih utama daripada sekadar nominal yang besar namun sesaat.

Kekuatan Seribu Rupiah yang Mengubah Dunia
Dalam presentasinya, Kiki memberikan ilustrasi sederhana namun menohok yang membuat para siswa mengangguk paham. Ia memvisualisasikan bagaimana recehan yang seringkali mereka anggap remeh bisa menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat jika umat mengelolanya secara kolektif.

“Uang seribu rupiah sangat berharga bagi yang membutuhkan,” tuturnya dengan nada lembut. “Jika 1.000 orang mengumpulkan seribu rupiah, jumlahnya menjadi satu juta. Jika 1.000 orang lagi melakukan hal serupa, nilainya mencapai satu miliar. Sesuatu yang kecil bisa menjadi besar jika kita melakukannya bersama-sama.”

Penjelasan ini membuka mata para siswa bahwa program Filantropis Cilik bukan sekadar rutinitas sekolah, melainkan media pembentukan karakter dermawan. Kiki juga memaparkan berbagai manfaat sedekah secara spiritual dan sosial: mulai dari menambah rezeki, menjadi wasilah kesembuhan penyakit, mempermudah urusan yang sulit, hingga menghapus dosa dan menolak bencana.

Ia meyakinkan siswa, sedekah membuat seseorang dicintai Allah, didoakan malaikat, bahkan mampu memperpanjang umur dalam keberkahan. Pesan-pesan ini ia sampaikan dengan bahasa yang ringan namun menghunjam ke hati, sehingga para pelajar mudah mencernanya sebagai gaya hidup, bukan beban.

Selain itu, Kiki menegaskan posisi Lazismu sebagai lembaga zakat yang memiliki legalitas resmi dan akuntabilitas tinggi dalam mengelola dana umat. Pada momen inilah, ia memperkenalkan program “Amil Cilik”.

Program tersebut memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mempraktikkan langsung pengelolaan zakat dengan bertindak sebagai amil di sekolah selama bulan Ramadhan mendatang. Melalui program ini, siswa tidak hanya menelan teori, tetapi terjun langsung menjadi jembatan antara pembayar zakat (muzaki) dan penerima zakat (mustahik).

Generasi Amil Cilik yang Tangguh

Rencana pelaksanaan program Amil Cilik ini akan mendapatkan pendampingan teknis dari kantor layanan setempat, yaitu Lazismu Panceng. Semangat ini mendapat sambutan hangat dari para aktivis sekolah. Najwa An Nadina Munajidah, Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMP Muhammadiyah 13 Panceng, menyatakan kesiapannya untuk terjun langsung.

“Kami siap menjadi bagian dari Amil Cilik dan menyukseskan program ini di sekolah,” ujar Najwa dengan nada penuh keyakinan. Semangat Najwa mewakili gairah rekan-rekannya yang mulai menyadari bahwa peran mereka sangat penting dalam ekosistem dakwah sosial Muhammadiyah.

Menjelang akhir sesi, suasana masjid yang tadinya riuh berubah menjadi hening. Kiki menayangkan sebuah cuplikan video tentang seseorang yang enggan mengulurkan tangan untuk membantu sesama.

Tayangan tersebut menjadi bahan refleksi mendalam bagi seluruh hadirin. Video itu menyadarkan mereka, kesempatan berbuat baik sering kali melintas di depan mata, namun kerap terabaikan karena ketidakpedulian.

Sebagai penutup yang menggetarkan, Kiki mengajak seluruh siswa untuk menghidupkan kembali ghirah atau semangat berbagi dalam keseharian mereka. Ia ingin setiap siswa pulang dengan membawa tekad baru untuk lebih peka terhadap penderitaan orang lain di sekitar mereka.

“Mari luangkan waktumu, ulurkan tanganmu, dan pedulilah terhadap sekitarmu,” pungkas Kiki menutup pertemuan tersebut, Sabtu pagi, 21 Februari 2026.

Pagi itu, di Masjid Ibnu Umar, Lazismu tidak hanya menyampaikan materi edukasi zakat. Lebih dari itu, mereka telah menanamkan benih-benih empati yang dalam. Harapannya, benih tersebut tumbuh subur dan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kesalehan sosial yang tinggi sebagai pribadi yang dermawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *