BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Abdul Mu’ti: Ilmu Kunci Manusia Menjalankan Tugas Kekhalifahan

54
×

Abdul Mu’ti: Ilmu Kunci Manusia Menjalankan Tugas Kekhalifahan

Sebarkan artikel ini

Jember, panjimas – Aula Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Jawa Timur, sore itu terasa hangat oleh semangat kader yang mulai memadati ruangan sejak pukul 14.45 WIB. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar rangkaian Kajian Ramadan 1447 dengan alur acara yang tertata rapi dan penuh antusiasme.

Pada hari pertama, Sabtu (21/2/2026), Kajian I mengangkat tema “Hidup di Negeri Rawan Bencana: Bagaimana Menyikapinya?” Dr. Rahmawati Husein, MCP., Ph.D., anggota unsur pengarah BNPB, memaparkan pentingnya literasi kebencanaan, sementara Prof. Dr. Biyanto, M.Ag., memoderatori dialog dengan dinamis. Seusai sesi, panitia memberikan jeda istirahat singkat.

Memasuki waktu menjelang berbuka, MC dari Unmuh Jember memandu pembukaan dan pembacaan kalam ilahi. Rektor UM Jember, Dr. Hanafi, M.Pd., menyampaikan sambutan, disusul Ketua PWM Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M. Wakil Gubernur Jawa Timuremil Dardak, turut menguatkan pentingnya kolaborasi antara gerakan dakwah dan pembangunan daerah.

Prof. Dr. Aminulloh El-Hadi, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jember, kemudian menyampaikan Hikmah Ramadan sebelum azan Magrib berkumandang. Setelah berbuka, salat Magrib, dan Tarawih, peserta kembali ke aula untuk mengikuti Kajian II

Pada sesi inilah Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengupas tema besar: “Menunaikan Tugas Kekhalifahan: Perspektif Pendidikan.”

Ekoteologi dan Dua Mandat Manusia

Prof. Mu’ti membuka paparannya dengan definisi pendidikan yang ia rumuskan sendiri.

 

“Pendidikan adalah proses yang berkesinambungan. Yang dilaksanakan untuk mendidik manusia menjadi hamba dan khalifah Allah. Itu definisi saya,” ujarnya.

 

Ia menjelaskan bahwa manusia memikul dua tugas yang saling terkait. Pertama, sebagai hamba Allah. Ia merujuk Surah Az-Zariyat ayat 56 tentang tujuan penciptaan manusia untuk beribadah.

 

“Manusia sebagai Abdullah punya kedudukan dan fungsi sebagai makhluk yang tunduk dan patuh kepada apa pun perintah Allah,” katanya.

 

Kedua, manusia sebagai khalifah. Ia mengurai istilah khalifah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30 dan Shad 26; khalaif dalam Surah Al-An’am 165, Yunus 14 dan 73, serta Fathir 39; dan khulafa dalam Surah Al-A’raf 69 dan 74 serta An-Naml 62.

 

Menurutnya, istilah-istilah itu menunjukkan keluasan mandat manusia.

 

“Sebagai khalifah, manusia punya otoritas luas dan peran sangat besar. Kalau menjadi wakil Allah di muka bumi, manusia harus menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan,” tegasnya.

 

 

Ia mengaitkan gagasan ini dengan ekoteologi—cara pandang teologis yang menempatkan tanggung jawab terhadap alam dan kehidupan semesta sebagai bagian dari iman.

 

Peserta mengikuti pemaparan yang menekankan pentingnya ilmu dalam menjalankan peran manusia sebagai hamba dan khalifah Allah.

 

Ilmu sebagai Syarat Kekhalifahan

Pada bagian yang paling menyita perhatian peserta, Prof. Mu’ti menegaskan bahwa ilmu merupakan kunci kekhalifahan. Ia merujuk kisah Nabi Adam.

 

“Adam diangkat jadi khalifah karena berilmu. Kalau ingin menjadi khalifah, kuncinya ilmu. Saleh saja, tidak bisa jadi khalifah,” ujarnya lugas.

 

Ia menambahkan, “Islam menetapkan supremasi ilmu di atas kesalehan ibadah. Manusia bisa menjadi khalifah karena ilmunya.”

 

Menurutnya, manusia mencapai ilmu ketika memfungsikan akal untuk memahami ayat-ayat Allah, baik yang bersifat qauliyah (wahyu tertulis), kauniyah (fenomena alam), maupun hukum-hukum alam yang dapat diprediksi.

 

“Bagaimana tanaman tumbuh, bagaimana alam bekerja—itu semua bagian dari ayat Allah yang harus dipahami,” jelasnya.

 

Ia menekankan bahwa kesalehan spiritual tetap penting, tetapi tanpa ilmu manusia tidak mampu menjalankan mandat peradaban. Ilmu membuat manusia mampu memimpin, mengelola, dan memakmurkan bumi secara bertanggung jawab.

 

Dalam konteks inilah pendidikan memegang peran strategis: tidak hanya membentuk pribadi saleh, tetapi juga melahirkan manusia berilmu yang siap memikul tanggung jawab sosial dan ekologis.

 

Fungsi Konservatif dan Progresif Pendidikan

Lebih jauh, Prof. Mu’ti membagi fungsi pendidikan menjadi dua: konservatif dan progresif.

 

“Fungsi konservatif adalah pelestarian nilai-nilai fundamental yang kita wariskan kepada anak-anak,” ujarnya.

 

Ia mencontohkan bagaimana Al-Qur’an mengisahkan para nabi mendidik anak-anaknya agar tidak menyekutukan Allah. Nilai tauhid dan akhlak mulia harus diwariskan lintas generasi.

 

Namun pendidikan tidak berhenti pada pelestarian. Ia juga memiliki fungsi progresif.

 

“Fungsi progresif membekali anak-anak supaya tidak sekadar hidup, tetapi mampu melestarikan dan menjamin kehidupan di masa depan. Di situlah manusia menjalankan tugasnya sebagai khalifah,” katanya.

 

Ia kembali menegaskan pertanyaan mendasar: mengapa Allah mengangkat Adam sebagai khalifah?

 

“Karena berilmu,” jawabnya mantap.

 

Bagi Mu’ti, pendidikan yang memadukan tauhid, akhlak, dan ilmu pengetahuan akan melahirkan generasi yang sadar diri sebagai hamba sekaligus pemimpin. Generasi itu tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga mampu membaca zaman, memahami hukum alam, dan membangun peradaban.

 

Malam itu, para peserta tidak sekadar mengikuti kajian. Mereka diajak meninjau ulang makna pendidikan dan posisi manusia di hadapan Tuhan serta alam. Dalam perspektif Mu’ti, pendidikan bukan sekadar proses belajar-mengajar, melainkan ikhtiar panjang menyiapkan manusia menunaikan mandat ilahi: menjadi hamba yang taat dan khalifah yang berilmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *