BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Rektor UM Maluku: Kemajuan Institusi Bergantung pada Kualitas Manusianya

16
×

Rektor UM Maluku: Kemajuan Institusi Bergantung pada Kualitas Manusianya

Sebarkan artikel ini

MALUKU, panjimas – Universitas Muhammadiyah Maluku (UM Maluku) menggelar Workshop Pengembangan Diri (Self Development) bagi dosen dan tenaga kependidikan (tendik) sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan kampus. Kegiatan yang berlangsung di lantai 6 kampus UM Maluku pada Jumat (5/6) ini dipimpin langsung oleh Rektor UM Maluku, Faris Al-Fadhat, didampingi Wakil Rektor Andi Thamrin.

 

Dalam kegiatan tersebut, Faris mengawali sesi dengan sebuah refleksi (reflective activity) yang mengajak peserta merenungkan pertanyaan sederhana namun mendalam: “Bagaimana aku ingin diperlakukan?” Peserta kemudian diminta menuliskan jawaban mereka sebagai langkah awal untuk membangun kesadaran diri sebelum memasuki materi utama.

 

Menurut Faris, refleksi tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan diri karena membantu peserta memahami nilai-nilai yang ingin diwujudkan dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

 

“Pengembangan diri bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk merespons dinamika dunia pendidikan tinggi saat ini. Kebesaran institusi ini sangat bergantung pada kualitas manusianya,” ujarnya.

 

Dalam pemaparannya, Faris mengulas gagasan utama dari buku karya Stephen R. Covey, The 7 Habits of Highly Effective People. Ia menekankan bahwa efektivitas dan profesionalisme kerja di lingkungan akademik tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis, tetapi juga oleh kemampuan individu dalam mengelola diri dan membangun kolaborasi yang sehat.

 

Tiga kebiasaan pertama yang dibahas berfokus pada pengelolaan diri. Melalui prinsip Be Proactive, peserta diajak untuk mengambil inisiatif dan menentukan respons terbaik dalam menghadapi berbagai situasi. Sementara itu, Begin with the End in Mind menekankan pentingnya memiliki visi masa depan yang jelas, termasuk kontribusi yang ingin diberikan bagi kemajuan universitas.

 

Adapun Put First Things First mengajarkan pentingnya memprioritaskan hal-hal yang benar-benar penting dibandingkan sekadar memenuhi tuntutan yang mendesak, sehingga pekerjaan dapat dijalankan secara lebih efektif dan terarah.

 

Selanjutnya, Faris menjelaskan empat kebiasaan yang berorientasi pada kolaborasi dan pengembangan diri. Melalui prinsip Think Win-Win, peserta didorong membangun hubungan yang saling menguntungkan dan menjauhi pola pikir kompetitif yang tidak sehat.

 

Prinsip Seek First to Understand, Then to Be Understood mengajarkan pentingnya mendengarkan untuk memahami sebelum meminta dipahami oleh orang lain. Menurutnya, kebiasaan ini dapat meminimalkan konflik sekaligus memperkuat komunikasi di lingkungan kerja.

 

Peserta juga diajak untuk menerapkan prinsip Synergize, yaitu memanfaatkan keberagaman pemikiran dan pengalaman sebagai kekuatan kolaboratif dalam mencapai tujuan bersama. Sementara itu, prinsip Sharpen the Saw menekankan pentingnya pengembangan kapasitas diri secara berkelanjutan serta menjaga keseimbangan hidup agar produktivitas tetap terpelihara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *