Jakarta, panjimas – Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu Prof. Dr. M. Din Syamsuddin menegaskan bahwa hijrah adalah perubahan dan pengubahan, yakni mengubah diri dan mengubah kehidupan bersama. Hal ini dapat dipahami dari hijrah yg dilakukan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yatsrib yg kemudian berubah menjadi Madinah. Sebelum hijrah Yatsrib merupakan fenomena pedesaan (rural phenomenon) tapi dalam waktu sekitar satu dasawarsa berubah menjadi fenomena perkotaan (urban phenomenon) dan menjadi basis tamaddun tinggi. Hal itu ditegaskannya dalam tabligh akbar di Martapura, Kalimantan Selatan dalam rangka Milad Kedua Muammadiyah Bording School (MBS) Martapura, 16 Juni 2026. Tabligh akbar, yg dihadiri pejabat yg mewakili Gubernur Kalsel dan Bupati Kabupaten Banjar, diikuti ratusan warga Muhammadiyah.
Tamaddun tinggi atau peradaban utama yg terwujud di Madinah waktu itu berwatak majemuk (kata madinah merupakan alih bahasa Yunani polis yg mengandung makna kemajemukan sebagai ciri masyarakat urban), Selain berwatak majemuk yg menekankan persamaan dan keadilan, tamaddun tinggi itu juga berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based culture), jelas Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta itu.
Dalam tabligh akbar sehari kemudian, 17 Juni 2026 di Masjid SD Muhammadiyah 29 Surabaya, Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015 itu menjelaskan bahwa hijrah yg menjadi titik tolak Tahun Hijriyah adalah perubahan pola pikir dan pola laku ke arah kemajuan. Hijrah sejatinya adalah perpindahan alam pikiran (mindset) dari jahiliyah ke ‘ashriyah atau dari kebodohan ke kemajuan/kemoderenan.
Di depan ratusan jamaah yg terdiri dari warga Muhammadiyah dan Aisyiah, serta para wali murid, Din Syamsuddin memesankan agar umat Islam mengikuti hijrah dengan mengubah pola pikir dan pola laku negatif ke positif, dengan mengubah keadaan diri yg mundur menjadi maju, dari orientasi hidup yg konsumtif ke produktif, yg pada akhirnya mengubah posisi diri yg pecundang menjadi pemenang dalam kompetisi peradaban dewasa ini.
Secara khusus kepada para siswa SD Muhammadiyah, Pengasuh Pesantren Moderen Internasional Dea Malela, Sumbawa ini mengajak mereka belajar dengan tekun meraih prestasi utk menjadi generasi terbaik. “Bangkitlah anak-anakku mengubah diri dari generasi rebahan menjadi generasi rubahan, sambil mengajak anak-anak meneriakkan slogan: “To be good is not good enough, why not the best. Be the best” (menjadi baik tidaklah cukup baik, mengapa tidak menjadi yg terbaik, jadilah yg terbaik!).













