BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Cabang, Ranting, dan Masjid adalah Pusat Muhammadiyah Sesungguhnya

35
×

Cabang, Ranting, dan Masjid adalah Pusat Muhammadiyah Sesungguhnya

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Ketua Muhammad Jamaludin Ahmad menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam bertumpu pada cabang, ranting, dan masjid. Pesan itu ia sampaikan saat menjadi pemateri pertama Akademi Marbot Masjid Muhammadiyah (AM3) Batch 3 di Masjid Asy-Syifa Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan, Jumat (19/6/2026).

 

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan tersebut diikuti peserta dari berbagai masjid Muhammadiyah se-Jawa Timur. Mereka mendapat pembekalan mengenai penguatan cabang, ranting, dan tata kelola masjid sebagai basis dakwah Persyarikatan.

 

Sebelum memulai materi, Jamaludin mengawali dengan pantun yang langsung mengundang perhatian peserta. Suasana forum pun menjadi lebih hangat dan akrab.

 

Makan mie ayam memakai sumpit

Tambah nikmat ditemani teh panasnya

Kita gelorakan etos dari masjid kita bangkit

Apa pun masalahnya, masjid solusinya

 

CRM Jadi Jantung Gerakan

Jamaludin menjelaskan, secara administratif pusat Muhammadiyah berada di tingkat Pimpinan Pusat. Namun sebagai gerakan Islam, pusat Muhammadiyah yang sesungguhnya berada di cabang, ranting, dan masjid.

 

“Sebagai organisasi yang memiliki sistem birokrasi dan administrasi, pusat Muhammadiyah memang berada di PP Muhammadiyah. Namun sebagai gerakan Islam, pusat Muhammadiyah yang sesungguhnya adalah cabang, ranting, dan masjid,” ujarnya.

 

Menurutnya, kehidupan Perserikatan sangat ditentukan oleh aktivitas di akar rumput. Jika cabang, ranting, dan masjid kehilangan daya hidupnya, maka ruh gerakan Muhammadiyah juga akan melemah.

 

Dia menyebut The Real Muhammadiyah berada pada masjid, ranting, cabang, jamaah dan keluarga, anggota, komunitas, serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Seluruh unsur tersebut menjadi fondasi utama keberlangsungan dakwah Perserikatan.

 

Empat Tanda Ranting Hidup

 

Dalam pemaparannya, Jamaludin menjelaskan empat indikator utama ranting Muhammadiyah yang hidup dan berkembang.

 

Pertama, adanya pengajian rutin yang terus tumbuh dan berkesinambungan. Kedua, keberadaan masjid Muhammadiyah yang makmur sekaligus mampu memakmurkan jamaahnya.

 

“Ketiga, tumbuhnya budaya beramal dengan ikhlas dan gembira. Keempat, terselenggaranya rapat rutin minimal sekali dalam sepekan yang diikuti aksi nyata, evaluasi, dan penyelesaian masalah,” ungkapnya.

 

Untuk memperkuat pandangannya, dia mengutip pemikiran tokoh Muhammadiyah, KH Yunus Anis, dalam Almanak Muhammadiyah tahun 1928.

 

“Apabila ada desa yang aman, masjid dan langgarnya yang bersih lagi besar, serta pengajiannya yang teratur, sedang penduduk di situ selalu membicarakan hal keislaman, tentulah dapat dipastikan bahwa di situ ada gerombolan Muhammadiyah dan perbuatan-perbuatan dari usahanya,” kutipnya.

 

Jamaludin menilai ukuran keberhasilan Muhammadiyah dapat dilihat dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat melalui masjid, pengajian, dan pemberdayaan umat.

 

Ia kemudian mencontohkan sejumlah pengajian Muhammadiyah yang berkembang pesat. Seperti Pengajian Ahad Pagi PRM Karang Tengah dan PCM Blimbing yang mampu menghadirkan ribuan jamaah. Potensi tersebut dinilai dapat berkembang menjadi basis pemberdayaan ekonomi umat.

 

Masjid Jadi Basis Pengembangan CR

Jamaludin juga mengingatkan kembali, tujuan berdirinya Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam Statuten tahun 1914. Yakni memajukan dan menggembirakan pengajaran agama Islam serta memajukan kehidupan sesuai tuntunan Islam.

 

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh kader dan warga Perserikatan menjalankan aktivitas Muhammadiyah dengan semangat kegembiraan dan persaudaraan.

 

“Mari ber-Muhammadiyah dengan gembira. Jangan senang berkelahi. Mari banyak tersenyum dan sumringah,” pesannya yang disambut applaus peserta.

 

Pada kesempatan tersebut, Jamaludin menjelaskan bahwa penguatan cabang dan ranting menjadi salah satu program strategis hasil Muktamar Ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah. Salah satu fokus yang mendapat perhatian LPCRPM ialah perintisan ranting berbasis masjid dan komunitas.

 

Menurutnya, agenda tersebut membutuhkan tata kelola masjid yang profesional. Masjid Muhammadiyah harus dikelola secara serius sebagaimana mengelola Amal Usaha Muhammadiyah lainnya.

 

“Masjid Muhammadiyah harus menjadi basis pengembangan cabang dan ranting. Oleh karena itu tata kelolanya harus kuat sehingga mampu menjadi masjid yang makmur dan memakmurkan,” tegasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *