Jakarta, panjimas – Tidak terasi waktu terus bergulir, momen Tahun Baru Hijrah telah masuk abat ke 15 mencapai 1448 H. Waktu yang panjang telah mengukir pradaban umat Islam di berbagai belahan dunia. Di satu sisi mengalami kemajuan sehingga Islam mencapai puncak kejayaan.
Namun di sisi lain mengalami kemunduran pradaban, karena kemerosotan adab atau moral para pemimpin bersama rakyat. Secara simbolik hijrah telah menjadi simbol maju mundurnya pradaban suatu bangsa. Namun secara substansi pradaban bangsa belum mampu mencapai puncak kejayaan sepanjang pradaban manusia ada di muka bumi.
Hal ini di sampaikan Sekjen MUI dalam acara bedah buku: Peta Dunia Islam Abad ke 21 di Aula Buya Hamka MUI Pusat, Senin (22/6/26). Buya Amirsyah menyampaikan pertanyaan kenapa para pemimpin di dunia mengalami kemunduran pradaban? Karena para peminpin di dunia belum mempunyai kekuatan mental dalam memperbaiki keruskan moral.
Misalnya maraknya korupsi dalam sebuah negara merupakan salah satu indikator bahwa kepemimpinan sebuah negara mengalami kemunduran pradaban. Para pemimpin harus mendahulukan kekuatan moral atau abab dari pada kekuatan politik, ekonomi, sosial, dll.
Pemimpin Survival yang “Beradab”
Semua Negara di dunia membutuhkan pemimpin survival yakni pemimpin yang tangguh dan mampu beradaptasi dengan cepat. Para pemimpin mengutamakan ketahanan Nasional untuk mengambil keputusan taktis dalam tekanan, dan merawat kepemimpinan yang beradab sebagai mana pesan Panca Sila “Kemanusiaa Yang Adil dan Beradab” agar tetap solid dan loyal dalam menghadapi krisis.
Ciri utama dari pemimpin survival antara lain; peetama, adaptif yakni mampu mengubah strategi dan haluan dengan cepat saat situasi memburuk; kedua, empati yakni memahami kondisi psikologis dan kebutuhan tim di masa sulit; ketiga, ketahanan mental yakni tidak mudah menyerah dan menjadi penenang di tengah ketidakpastian; keempat pengambilan keputusan bijak yakni menganalisis masalah dengan jernih meskipun dalam tekanan waktu para pemimpin.
Oleh karena itu Islam memberikan tuntunan di iu mmuka bumi ini sehingga memperolah tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak sebagaimana perintah Allah dalam Quran.
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya: “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 100).
Jika hijrah yang bersifat simbolis, maka akan terjadi perebutan material berupa yang menimbulkan sikap rakus, tamak. Kondisi ini yang membuat pradaban sebuah negara terpuruk seperti terjadi di Eropa pernah mengalami masa kemunduran besar yang dikenal sebagai Abad Kegelapan (Dark Ages) sekitar abad ke-5 hingga ke-10 Masehi, yang dipicu oleh runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat.
Surat At-Taubah Ayat 20
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ
Arab-Latin: Allażīna āmanụ wa hājarụ wa jāhadụ fī sabīlillāhi bi`amwālihim wa anfusihim a’ẓamu darajatan ‘indallāh, wa ulā`ika humul-fā`izụn
Artinya: Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Hal yang sama juga terjadi di Spanyol dimana Kekaisaran Spanyol dipicu oleh kombinasi kelelahan finansial, perang militer yang berlebihan, dan ketergantungan ekstrem pada kekayaan dari Dunia Baru. Penurunan ini terjadi secara bertahap selama berabad-abad.
“Jadi maju atau mundurnya pradaban manusia sangat tergantung kepada pemaknaan hijrah secara substansial dalam membentuk mental yang diperkuat dengan adabnk pungkasnya.













