BeritaMuhammadiyahOpini

Menumbuhkan Keikhlasan dan Integritas Kader dalam Ber-Muhammadiyah

62
×

Menumbuhkan Keikhlasan dan Integritas Kader dalam Ber-Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif

(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur)

Muhammadiyah telah memasuki usia lebih dari satu abad. Sebuah usia yang menunjukkan kematangan organisasi sekaligus membuktikan bahwa gerakan ini memiliki daya tahan luar biasa dalam menghadapi perubahan zaman. Dari sebuah gerakan tajdid yang lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1912, Muhammadiyah tumbuh menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia dengan ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Namun, di balik capaian yang membanggakan tersebut, terdapat satu pertanyaan mendasar yang perlu terus diajukan kepada diri sendiri sebagai warga dan kader Muhammadiyah: apakah pertumbuhan kelembagaan yang begitu pesat juga diiringi dengan pertumbuhan kualitas keikhlasan dan integritas para penggeraknya?

Pertanyaan ini penting karena sejarah menunjukkan bahwa kekuatan utama Muhammadiyah sesungguhnya tidak terletak pada besarnya aset, banyaknya amal usaha, atau luasnya jaringan organisasi. Kekuatan Muhammadiyah justru terletak pada modal moral para kadernya. Modal moral itu bernama keikhlasan dan integritas.

Tanpa keikhlasan, Muhammadiyah hanya akan menjadi organisasi formal yang sibuk dengan aktivitas administratif. Tanpa integritas, Muhammadiyah dapat kehilangan kepercayaan publik yang selama ini menjadi fondasi keberhasilannya. Oleh karena itu, menumbuhkan keikhlasan dan integritas kader bukan sekadar agenda pembinaan personal, melainkan kebutuhan strategis bagi keberlanjutan gerakan.

Keikhlasan merupakan konsep fundamental dalam ajaran Islam. Al-Qur’an menegaskan:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Ayat ini menunjukkan bahwa kualitas sebuah amal tidak hanya ditentukan oleh hasilnya, tetapi juga oleh niat yang melandasinya. Dalam perspektif Islam, pekerjaan besar yang dilakukan tanpa keikhlasan dapat kehilangan nilai spiritualnya. Sebaliknya, amal sederhana yang dilakukan dengan tulus dapat memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah.

Prinsip inilah yang sejak awal menjadi ruh gerakan Muhammadiyah. Para pendahulu Muhammadiyah membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha bukan untuk mencari popularitas, apalagi untuk kepentingan pribadi. Mereka bekerja karena dorongan dakwah dan pengabdian. Banyak tokoh Muhammadiyah generasi awal yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan harta pribadi demi keberlangsungan organisasi.

Sayangnya, tantangan zaman kini jauh berbeda dibandingkan dengan era para pendiri. Kita hidup dalam era digital yang ditandai oleh budaya pencitraan. Media sosial sering kali mendorong seseorang untuk lebih sibuk menampilkan amal daripada memperbaiki niat amal itu sendiri. Aktivitas organisasi tidak jarang diukur berdasarkan seberapa viral sebuah kegiatan, bukan seberapa besar dampaknya bagi umat.

Dalam konteks ini, keikhlasan menghadapi ujian yang semakin berat. Seseorang dapat terjebak dalam keinginan untuk memperoleh pengakuan, popularitas, atau posisi tertentu melalui aktivitas organisasi. Jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi sarana untuk aktualisasi diri. Dakwah yang semestinya menjadi jalan pengabdian berubah menjadi panggung pencitraan.

Fenomena ini tentu tidak hanya terjadi di Muhammadiyah, tetapi juga hampir di seluruh organisasi sosial dan keagamaan. Namun, justru karena itulah Muhammadiyah perlu memperkuat kembali budaya ikhlas sebagai identitas gerakan.

Keikhlasan tidak berarti menolak penghargaan atau menghindari publikasi. Keikhlasan berarti memastikan bahwa tujuan utama setiap aktivitas tetap berorientasi pada ridha Allah dan kemaslahatan umat. Publikasi hanyalah instrumen, bukan tujuan. Jabatan hanyalah amanah, bukan prestise.

Selain keikhlasan, aspek lain yang tak kalah penting adalah integritas. Jika keikhlasan berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, maka integritas berbicara tentang kesesuaian antara nilai, ucapan, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Al-Qur’an, Allah memberikan peringatan keras:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3).

Ayat ini mengandung pesan penting tentang integritas. Islam tidak hanya menuntut seseorang untuk mengetahui kebenaran, tetapi juga untuk mengamalkannya secara konsisten. Integritas adalah kemampuan untuk menjaga keselarasan antara apa yang diyakini, diucapkan, dan dilakukan.

Muhammadiyah selama ini memperoleh kepercayaan publik karena dikenal sebagai organisasi yang relatif bersih, profesional, dan akuntabel. Kepercayaan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun atas integritas para kader selama puluhan, bahkan ratusan tahun.

Namun, integritas tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang secara otomatis diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Integritas harus terus dirawat, diajarkan, dan diteladankan. Di era modern, tantangan integritas semakin kompleks. Godaan konflik kepentingan, penyalahgunaan jabatan, pragmatisme politik, dan budaya transaksional dapat menggerus idealisme kader. Tidak sedikit organisasi yang mengalami kemunduran bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena krisis integritas para pemimpinnya.

Dalam konteks Muhammadiyah, integritas menjadi semakin penting karena organisasi ini mengelola berbagai amal usaha yang melibatkan dana publik, aset umat, serta kepercayaan masyarakat. Setiap kader yang memegang amanah harus menyadari bahwa yang dikelola bukan milik pribadi, melainkan titipan umat yang harus dipertanggungjawabkan, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah hak istimewa, melainkan tanggung jawab. Semakin besar amanah yang diemban, semakin besar pula pertanggungjawabannya.

Karena itu, kader Muhammadiyah perlu membangun budaya organisasi yang tidak hanya menghargai prestasi, tetapi juga menjunjung tinggi integritas. Keberhasilan tidak boleh diukur semata-mata dari capaian kuantitatif, melainkan juga dari cara mencapainya.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “apa yang berhasil kita capai?”, tetapi juga “apakah keberhasilan itu diperoleh dengan cara yang benar?”. Sebab dalam Islam, tujuan dan cara merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Menumbuhkan keikhlasan dan integritas tentu tidak cukup melalui ceramah atau slogan. Keduanya harus dibangun melalui sistem pembinaan yang berkelanjutan.

Pertama, penguatan ideologi dan nilai-nilai kemuhammadiyahan harus menjadi prioritas utama. Kader perlu memahami bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi sosial, melainkan gerakan dakwah dan tajdid yang memiliki misi keagamaan yang jelas. Pemahaman ideologis yang kuat akan membantu kader menjaga orientasi perjuangannya.

Kedua, keteladanan pimpinan harus menjadi fondasi utama dalam pembinaan. Keikhlasan dan integritas lebih mudah ditularkan melalui contoh nyata daripada sekadar nasihat. Ketika pimpinan menunjukkan kesederhanaan, amanah, dan konsistensi moral, kader di bawahnya akan lebih mudah meneladaninya.

Ketiga, perlu dibangun budaya evaluasi diri atau muhasabah secara berkelanjutan. Dalam kesibukan organisasi, seseorang sering kali lupa untuk memeriksa kembali niat dan motivasinya. Padahal kerusakan moral sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang dibiarkan terus-menerus.

Keempat, organisasi perlu menciptakan sistem tata kelola yang transparan dan akuntabel. Keikhlasan memang bersifat personal, tetapi integritas juga memerlukan dukungan sistem. Tata kelola yang baik akan membantu mencegah penyalahgunaan wewenang sekaligus memperkuat kepercayaan publik.

Pada akhirnya, masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak amal usaha yang dimiliki atau seberapa besar aset yang dikelola. Masa depan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas manusia yang menggerakkannya.

Gedung dapat dibangun dengan dana. Program dapat dirancang dengan teknologi. Sistem dapat diperkuat dengan regulasi. Namun, keikhlasan dan integritas hanya dapat tumbuh melalui pembinaan karakter dan kedalaman spiritual.

Sejarah membuktikan bahwa Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad karena ditopang oleh orang-orang yang bekerja dalam sunyi, berjuang tanpa pamrih, dan memegang teguh amanah. Mereka mungkin tidak selalu dikenal publik, tetapi jejak pengabdian mereka masih terasa hingga hari ini.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, Muhammadiyah membutuhkan lebih banyak kader seperti itu yaitu kader yang tidak menjadikan organisasi sebagai kendaraan kepentingan pribadi, melainkan sebagai ladang pengabdian. Kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral. Kader yang tidak hanya aktif dalam kegiatan, tetapi juga tulus dalam niat dan bersih dalam tindakan.

Sebab pada akhirnya, keikhlasan adalah ruh perjuangan, dan integritas adalah penopangnya. Ketika keduanya tumbuh kuat dalam diri kader, Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan Islam berkemajuan yang tidak hanya besar secara organisasi, tetapi juga mulia secara moral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *