BeritaMuhammadiyahNasionalNewsOpini

Sudah Luruskah Niat Kita dalam Ber-Muhammadiyah?

20
×

Sudah Luruskah Niat Kita dalam Ber-Muhammadiyah?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Mohammad Nur Rianto Al Arif

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Ada satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya layak diajukan kepada setiap warga Muhammadiyah, terutama mereka yang hari ini aktif mengisi berbagai ruang organisasi, amal usaha, maupun jabatan publik. Pertanyaan itu bukanlah sejak kapan menjadi anggota Muhammadiyah, bukan pula berapa lama memegang Kartu Tanda Anggota (KTA), apalagi berapa banyak jabatan yang pernah diemban. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah mengapa kita memilih ber-Muhammadiyah?

Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi justru di sanalah letak fondasi seluruh gerakan Muhammadiyah. Sebab, sebelum berbicara tentang kepemimpinan, kaderisasi, amal usaha, politik kebangsaan, atau bahkan kemajuan organisasi, Muhammadiyah terlebih dahulu dibangun di atas fondasi yang tidak terlihat oleh mata, yakni niat.

Dalam Islam, niat bukan sekadar pembuka amal. Niat adalah ruh yang menentukan nilai amal itu sendiri. Pekerjaan yang sederhana justru menjadi sangat mulia ketika dilakukan dengan keikhlasan kepada Allah SWT.

Muhammadiyah sejak awal berdirinya merupakan pengejawantahan dari niat luhur tersebut. Gerakan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan bukanlah organisasi yang lahir dari ambisi politik, kepentingan ekonomi, atau hasrat untuk membangun kekuasaan. Muhammadiyah lahir dari kegelisahan seorang ulama yang melihat umat Islam tertinggal dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemahaman agama. Dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Sejarah Muhammadiyah sesungguhnya adalah sejarah tentang orang-orang yang bekerja dalam diam. Para pimpinan persyarikatan menjalankan amanah bukan karena mengejar fasilitas, melainkan karena merasa memikul tanggung jawab dakwah. Mereka memahami bahwa menjadi bagian dari Muhammadiyah berarti mempersembahkan diri untuk perjuangan, bukan menjadikan perjuangan sebagai alat untuk memperbesar diri.

Warisan inilah yang menjadikan Muhammadiyah mampu bertahan selama lebih dari satu abad. Bukan karena memiliki modal finansial yang besar, melainkan karena memiliki modal sosial berupa kepercayaan dan keikhlasan. Kepercayaan masyarakat tumbuh karena mereka melihat para kader Muhammadiyah bekerja dengan tulus. Keikhlasan para kader kemudian melahirkan budaya organisasi yang bersih, sederhana, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Namun, sebagaimana organisasi besar lainnya, Muhammadiyah tidak pernah steril dari tantangan zaman. Semakin besar organisasi ini berkembang, semakin luas pula pengaruhnya dalam kehidupan bangsa. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) berkembang menjadi jaringan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial yang sangat besar. Banyak kader Muhammadiyah dipercaya mengemban amanah di berbagai lembaga negara, kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga berbagai institusi strategis lainnya.

Perkembangan tersebut tentu patut disyukuri, karena menunjukkan bahwa Muhammadiyah berhasil melahirkan kader-kader yang berkualitas dan memiliki integritas sehingga dipercaya mengisi ruang-ruang strategis bangsa. Di sisi lain, keberhasilan tersebut juga menghadirkan tantangan baru yang sebelumnya tidak terlalu terasa pada masa-masa awal persyarikatan.

Muhammadiyah kini tidak hanya dipandang sebagai gerakan dakwah, tetapi juga sebagai organisasi yang memiliki jaringan luas, sumber daya besar, serta akses terhadap berbagai peluang. Persepsi inilah yang kemudian mengundang hadirnya orang-orang yang mendekati Muhammadiyah bukan karena memahami cita-cita perjuangannya, melainkan karena melihat peluang yang tersedia di dalamnya.

Di sinilah titik persoalannya. Organisasi yang semula menjadi tempat orang berkorban perlahan-lahan mulai dipandang sebagai tempat untuk memperoleh keuntungan. Dakwah yang seharusnya menjadi orientasi mulai bergeser menjadi instrumen untuk membangun karier. Jabatan dipandang sebagai prestise, bukan amanah.

Fenomena ini tentu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh warga Muhammadiyah. Sebagian besar kader Muhammadiyah hingga hari ini tetap menjaga tradisi keikhlasan dan pengabdian. Mereka tetap bekerja di ranting-ranting, cabang-cabang, majelis, lembaga, maupun AUM tanpa banyak menuntut penghargaan.

Namun demikian, gejala pragmatisme mulai terlihat dan tidak boleh diabaikan. Dalam beberapa kesempatan, muncul kecenderungan sebagian orang baru aktif ketika ada peluang tertentu. Mereka tampak antusias mengikuti kegiatan menjelang proses pemilihan pimpinan, rekrutmen pegawai AUM, atau ketika ada peluang untuk mengisi jabatan publik. Aktivitas organisasi kemudian diperlakukan layaknya investasi sosial yang pada suatu saat diharapkan menghasilkan keuntungan pribadi

Ada satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya layak diajukan kepada setiap warga Muhammadiyah, terutama mereka yang hari ini aktif mengisi berbagai ruang organisasi, amal usaha, maupun jabatan publik. Pertanyaan itu bukanlah sejak kapan menjadi anggota Muhammadiyah, bukan pula berapa lama memegang Kartu Tanda Anggota (KTA), apalagi berapa banyak jabatan yang pernah diemban. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah mengapa kita memilih ber-Muhammadiyah?

Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi justru di sanalah letak fondasi seluruh gerakan Muhammadiyah. Sebab, sebelum berbicara tentang kepemimpinan, kaderisasi, amal usaha, politik kebangsaan, atau bahkan kemajuan organisasi, Muhammadiyah terlebih dahulu dibangun di atas fondasi yang tidak terlihat oleh mata, yakni niat.

Dalam Islam, niat bukan sekadar pembuka amal. Niat adalah ruh yang menentukan nilai amal itu sendiri. Pekerjaan yang sederhana justru menjadi sangat mulia ketika dilakukan dengan keikhlasan kepada Allah SWT.

Muhammadiyah sejak awal berdirinya merupakan pengejawantahan dari niat luhur tersebut. Gerakan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan bukanlah organisasi yang lahir dari ambisi politik, kepentingan ekonomi, atau hasrat untuk membangun kekuasaan. Muhammadiyah lahir dari kegelisahan seorang ulama yang melihat umat Islam tertinggal dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemahaman agama. Dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui mimbar, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Sejarah Muhammadiyah sesungguhnya adalah sejarah tentang orang-orang yang bekerja dalam diam. Para pimpinan persyarikatan menjalankan amanah bukan karena mengejar fasilitas, melainkan karena merasa memikul tanggung jawab dakwah. Mereka memahami bahwa menjadi bagian dari Muhammadiyah berarti mempersembahkan diri untuk perjuangan, bukan menjadikan perjuangan sebagai alat untuk memperbesar diri.

Warisan inilah yang menjadikan Muhammadiyah mampu bertahan selama lebih dari satu abad. Bukan karena memiliki modal finansial yang besar, melainkan karena memiliki modal sosial berupa kepercayaan dan keikhlasan. Kepercayaan masyarakat tumbuh karena mereka melihat para kader Muhammadiyah bekerja dengan tulus. Keikhlasan para kader kemudian melahirkan budaya organisasi yang bersih, sederhana, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Namun, sebagaimana organisasi besar lainnya, Muhammadiyah tidak pernah steril dari tantangan zaman. Semakin besar organisasi ini berkembang, semakin luas pula pengaruhnya dalam kehidupan bangsa. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) berkembang menjadi jaringan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial yang sangat besar. Banyak kader Muhammadiyah dipercaya mengemban amanah di berbagai lembaga negara, kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga berbagai institusi strategis lainnya.

Perkembangan tersebut tentu patut disyukuri, karena menunjukkan bahwa Muhammadiyah berhasil melahirkan kader-kader yang berkualitas dan memiliki integritas sehingga dipercaya mengisi ruang-ruang strategis bangsa. Di sisi lain, keberhasilan tersebut juga menghadirkan tantangan baru yang sebelumnya tidak terlalu terasa pada masa-masa awal persyarikatan.

Muhammadiyah kini tidak hanya dipandang sebagai gerakan dakwah, tetapi juga sebagai organisasi yang memiliki jaringan luas, sumber daya besar, serta akses terhadap berbagai peluang. Persepsi inilah yang kemudian mengundang hadirnya orang-orang yang mendekati Muhammadiyah bukan karena memahami cita-cita perjuangannya, melainkan karena melihat peluang yang tersedia di dalamnya.

Di sinilah titik persoalannya. Organisasi yang semula menjadi tempat orang berkorban perlahan-lahan mulai dipandang sebagai tempat untuk memperoleh keuntungan. Dakwah yang seharusnya menjadi orientasi mulai bergeser menjadi instrumen untuk membangun karier. Jabatan dipandang sebagai prestise, bukan amanah.

Fenomena ini tentu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh warga Muhammadiyah. Sebagian besar kader Muhammadiyah hingga hari ini tetap menjaga tradisi keikhlasan dan pengabdian. Mereka tetap bekerja di ranting-ranting, cabang-cabang, majelis, lembaga, maupun AUM tanpa banyak menuntut penghargaan.

Namun demikian, gejala pragmatisme mulai terlihat dan tidak boleh diabaikan. Dalam beberapa kesempatan, muncul kecenderungan sebagian orang baru aktif ketika ada peluang tertentu. Mereka tampak antusias mengikuti kegiatan menjelang proses pemilihan pimpinan, rekrutmen pegawai AUM, atau ketika ada peluang untuk mengisi jabatan publik. Aktivitas organisasi kemudian diperlakukan layaknya investasi sosial yang pada suatu saat diharapkan menghasilkan keuntungan pribadi

Jika kecenderungan seperti ini terus berkembang, maka Muhammadiyah akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan dengan persoalan eksternal. Sebab, ancaman terbesar bagi sebuah gerakan sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari berubahnya orientasi orang-orang di dalamnya.

Muhammadiyah tidak akan kehilangan identitasnya karena kritik dari luar. Muhammadiyah justru berisiko kehilangan jati dirinya ketika nilai-nilai yang selama ini menjadi ruh perjuangan mulai tergeser oleh kepentingan pragmatis.

Niat memengaruhi cara seseorang memandang amanah, kekuasaan, kepemimpinan, dan pelayanan. Organisasi yang dihuni oleh orang-orang dengan niat lurus akan melahirkan budaya kolaboratif, saling menguatkan, dan berlomba dalam amal kebajikan. Sebaliknya, organisasi yang dipenuhi orientasi transaksional akan mudah terjebak dalam persaingan yang tidak sehat, konflik kepentingan, dan perebutan posisi.

Dalam konteks inilah, meluruskan niat menjadi agenda kaderisasi yang tidak pernah selesai. Meluruskan niat bukan berarti mengajak warga Muhammadiyah menjauhi profesionalisme atau menolak kemajuan organisasi. Justru sebaliknya, profesionalisme harus berjalan beriringan dengan keikhlasan. Kompetensi harus dipadukan dengan integritas. Kepemimpinan harus dibangun di atas amanah, bukan ambisi.

Di tengah dunia yang semakin materialistis, ketika hampir semua hal diukur berdasarkan keuntungan ekonomi dan posisi sosial, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa masih ada ruang pengabdian yang dibangun atas dasar keikhlasan. Menjadi warga Muhammadiyah bukanlah tentang apa yang bisa diperoleh dari organisasi, melainkan tentang apa yang dapat dipersembahkan bagi dakwah, umat, dan bangsa.

Belajar dari Generasi Pendiri

Jika ingin mengetahui ke mana Muhammadiyah harus melangkah di masa depan, salah satu cara terbaik adalah melihat kembali alasan organisasi ini didirikan. Sebab, sebuah gerakan akan tetap kokoh selama tidak melupakan niat awal yang melahirkannya. Ketika niat mulai bergeser, arah perjuangan pun perlahan berubah.

Muhammadiyah lahir bukan dari ruang-ruang kekuasaan. Muhammadiyah lahir dari kegelisahan seorang ulama yang menyaksikan umat Islam hidup dalam keterbelakangan. Kemiskinan meluas, pendidikan tertinggal, praktik keagamaan dipenuhi takhayul, bid’ah, dan khurafat, sementara penjajahan telah menggerus martabat bangsa. Dalam situasi seperti itu, K.H. Ahmad Dahlan memilih jalan yang berbeda. Beliau tidak sekadar mengkritik keadaan, tetapi membangun solusi melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan pembaruan pemahaman keagamaan.

Pilihan itu menunjukkan bahwa sejak awal Muhammadiyah adalah gerakan pengabdian, bukan gerakan pencarian keuntungan. Para murid KH Ahmad Dahlan tidak pernah dijanjikan jabatan. Mereka juga tidak dijanjikan kesejahteraan material. Mereka tetap bertahan karena yang mereka cari bukanlah penghargaan manusia, melainkan keridaan Allah SWT. Itulah yang membedakan gerakan dakwah dari organisasi yang dibangun atas dasar kepentingan sesaat.

Semangat itu kemudian diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Tidak sedikit tokoh Muhammadiyah yang memilih hidup sederhana meskipun memiliki kesempatan untuk memperoleh kenyamanan hidup. Mereka memahami bahwa menjadi kader Muhammadiyah berarti menjadi pelayan umat, bukan penguasa umat. Jabatan dipandang sebagai amanah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali, bukan sebagai hak yang harus dipertahankan.

Budaya organisasi seperti inilah yang membuat Muhammadiyah berbeda. Kepemimpinan dibangun atas dasar keteladanan, bukan popularitas. Pengaruh diperoleh melalui pengabdian, bukan pencitraan. Penghormatan datang karena integritas, bukan karena kekuasaan.

Sayangnya, nilai-nilai tersebut menghadapi tantangan baru di era modern. Masyarakat kini hidup dalam budaya yang sangat kompetitif. Kesuksesan sering diukur melalui jabatan, penghasilan, dan akses terhadap kekuasaan. Ukuran-ukuran duniawi itu secara perlahan memengaruhi cara sebagian orang memandang organisasi keagamaan, termasuk Muhammadiyah.

Di sinilah terjadi pergeseran orientasi yang perlu dicermati. Bagi generasi awal Muhammadiyah, bergabung dengan persyarikatan berarti menambah tanggung jawab. Sementara bagi sebagian orang pada masa kini, bergabung dengan organisasi justru dipandang sebagai cara untuk memperoleh berbagai kemudahan. Pergeseran cara pandang inilah yang perlahan-lahan melahirkan budaya transaksional.

Kesetiaan kepada persyarikatan tidak boleh bergantung pada ada atau tidaknya jabatan. Sebab, jika loyalitas hanya muncul ketika seseorang memperoleh posisi, maka sesungguhnya yang dicintai bukanlah Muhammadiyah, melainkan jabatannya

Perbedaan keduanya sangat mendasar

Seorang kader yang telah lama berproses, memahami ideologi persyarikatan, mengabdi di ranting dan cabang, lalu suatu saat dipercaya memimpin AUM atau mengisi jabatan publik merupakan hal yang wajar. Jabatan datang sebagai konsekuensi dari pengabdian.

Sebaliknya, apabila seseorang menjadikan Muhammadiyah sebagai batu loncatan menuju jabatan, pengabdian berubah menjadi alat. Dalam kondisi seperti itu, organisasi tidak lagi dipandang sebagai ladang dakwah, melainkan sebagai kendaraan karier.

Bahaya terbesar dari orientasi semacam ini bukan sekadar munculnya persaingan untuk memperoleh jabatan. Budaya transaksional membuat hubungan antarkader tidak lagi dibangun atas dasar ukhuwah dan semangat dakwah, melainkan atas dasar kepentingan.

Akibatnya, ukuran keberhasilan seseorang pun berubah. Orang mulai lebih menghargai mereka yang menduduki jabatan strategis dibandingkan dengan mereka yang selama puluhan tahun menghidupkan ranting di pelosok. Padahal, sejarah Muhammadiyah justru dibangun oleh orang-orang yang bekerja jauh dari sorotan.

Jika gejala seperti ini dibiarkan, Muhammadiyah berisiko mengalami apa yang oleh para ahli organisasi disebut sebagai pergeseran dari organisasi yang digerakkan oleh nilai menuju organisasi yang digerakkan oleh kepentingan.

Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang sekadar banyak. Muhammadiyah membutuhkan kader yang memiliki orientasi pengabdian. Aset yang paling sulit dibangun adalah manusia yang ikhlas. Ketika manusia-manusia seperti itu semakin sedikit, maka sebesar apa pun organisasi berkembang, ruh perjuangannya perlahan akan memudar.

Oleh karena itu, tugas Muhammadiyah pada abad kedua bukan hanya memperluas amal usaha, melainkan juga memastikan bahwa setiap orang yang masuk ke dalam persyarikatan memahami hal yang paling mendasar, yaitu Muhammadiyah adalah tempat untuk mengabdi, bukan tempat untuk mencari keuntungan pribadi.

Meluruskan Niat, Merawat Ruh Persyarikatan

Muhammadiyah terlalu besar untuk dibiarkan kehilangan ruh yang selama lebih dari satu abad menjadi sumber kekuatannya. Pembicaraan mengenai niat tidak boleh berhenti pada nasihat individu dalam forum-forum pengajian, melainkan harus diterjemahkan menjadi budaya organisasi. Muhammadiyah memerlukan ekosistem yang terus mengingatkan setiap kader bahwa jabatan adalah amanah, bukan hadiah.

Langkah pertama yang perlu terus diperkuat adalah memperkokoh kaderisasi ideologis. Selama ini Muhammadiyah memiliki sistem perkaderan yang relatif mapan, mulai dari pengajian rutin, Baitul Arqam, Darul Arqam, hingga berbagai bentuk pembinaan di organisasi otonom. Namun, dinamika zaman menuntut agar proses tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial atau sekadar pemenuhan agenda organisasi.

Kader yang memahami ideologi persyarikatan tidak akan mudah memandang Muhammadiyah sebagai kendaraan untuk mencapai kepentingan pribadi. Mereka akan melihat dirinya sebagai bagian dari mata rantai perjuangan panjang yang telah dirintis oleh para pendahulu. Kesadaran historis seperti inilah yang melahirkan rasa tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan gerakan.

Langkah kedua adalah menegakkan budaya meritokrasi yang berlandaskan amanah. Muhammadiyah membutuhkan profesionalisme dalam mengelola amal usaha. Namun, meritokrasi yang dimaksud tidak boleh berhenti hanya pada aspek kompetensi teknis. Kompetensi harus berjalan beriringan dengan integritas, loyalitas terhadap nilai-nilai persyarikatan, serta rekam jejak pengabdian. Profesionalisme tanpa nilai dapat melahirkan manajer yang cakap, tetapi miskin komitmen dakwah. Sebaliknya, semangat dakwah tanpa kompetensi juga tidak cukup untuk menghadapi kompleksitas pengelolaan amal usaha di era modern. Muhammadiyah memerlukan kader yang memadukan keduanya.

Langkah ketiga adalah menghidupkan kembali budaya pengabdian dari bawah. Muhammadiyah tidak boleh hanya ramai di tingkat pusat, wilayah, atau daerah, sementara ranting dan cabang kehilangan energi. Pengalaman mengabdi dari bawah akan membentuk karakter yang tahan terhadap godaan pragmatisme. Orang yang terbiasa bekerja dalam kesunyian akan lebih siap menerima amanah ketika dipercaya untuk memimpin. Sebaliknya, mereka yang langsung mengejar posisi strategis tanpa melalui proses pengabdian sering kali lebih rentan memandang jabatan sebagai tujuan.

Langkah keempat adalah membangun tradisi muhasabah di dalam organisasi. Muhasabah seperti ini penting karena pragmatisme sering kali tidak muncul secara tiba-tiba. Ketika kepentingan pribadi mulai ditoleransi atas nama efektivitas, ketika jabatan dipandang sebagai hak yang harus diperjuangkan, atau ketika loyalitas lebih ditujukan kepada individu daripada nilai-nilai persyarikatan, saat itulah benih-benih penyimpangan mulai berkembang.

Namun demikian, kita juga perlu bersikap adil dalam melihat realitas. Tidak setiap anggota baru yang tertarik bergabung karena melihat besarnya Muhammadiyah memiliki motivasi yang keliru. Banyak di antara mereka justru datang karena mengagumi kiprah Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Mereka perlu disambut, dibimbing, dan diproses melalui kaderisasi agar kekaguman tersebut berkembang menjadi komitmen ideologis. Persoalan yang perlu diwaspadai bukanlah anggota baru, melainkan mentalitas transaksional, siapa pun yang membawanya dan kapan pun ia muncul.

Oleh karena itu, tugas Muhammadiyah bukan menutup diri dari masyarakat, melainkan memastikan bahwa setiap orang yang masuk ke dalam persyarikatan memahami nilai-nilai yang menjadi fondasi gerakan tersebut. Muhammadiyah harus tetap menjadi organisasi yang terbuka, inklusif, dan profesional, tetapi pada saat yang sama tetap teguh menjaga identitasnya sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar.

Meluruskan niat dalam ber-Muhammadiyah, dengan demikian, bukan sekadar urusan memperbaiki hati. Hal ini merupakan ikhtiar untuk menjaga masa depan persyarikatan. Organisasi menjadi besar karena memiliki manusia-manusia yang ikhlas menjaga nilai-nilai yang menjadi ruh perjuangannya.

Pada akhirnya, ber-Muhammadiyah bukanlah tentang nama yang tercantum di kartu anggota, bukan pula tentang jabatan yang pernah disandang. Ber-Muhammadiyah adalah tentang kesediaan untuk terus mengabdi dengan hati yang ikhlas, bekerja dengan penuh amanah, dan menjadikan seluruh aktivitas sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Di situlah kemuliaan seorang kader Muhammadiyah sesungguhnya bermula, sekaligus di sanalah masa depan persyarikatan akan ditentukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *