Ujungpangkah, panjimas – Suasana khidmat bercampur semangat terasa membara di ruang kelas MI Muhammadiyah 2 Banyuurib, Ujungpangkah. Di sinilah, Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Ujungpangkah menggelar Darul Arqam (DA) Tingkat 1, Sabtu-Ahad (18-19/1/2025). Bukan sekadar pelatihan, kegiatan yang diikuti oleh anggota NA tingkat cabang dan ranting ini adalah kawah candradimuka, tempat ditempanya kader-kader militan dan berideologi Muhammadiyah yang kuat.
Deretan wajah-wajah muda, penuh antusiasme, tampak memenuhi ruangan. Mereka datang dari berbagai latar belakang, namun disatukan oleh satu tekad: menjadi garda terdepan dalam meneruskan perjuangan perserikatan.
Ana Shofiyah, AMd Keb, S.Pd, Ketua PCNA Ujungpangkah, dengan suara penuh semangat, menyampaikan bahwa Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) ini lebih dari sekadar pelatihan. DANA adalah ruang belajar bersama, tempat menimba ilmu tentang ideologi Muhammadiyah dan seluk-beluk organisasi Nasyiah.
“Agar kelak, saat kita menggerakkan roda organisasi, baik di Cabang maupun Ranting, terjalin sinergi dan kerja sama yang solid. Kita ingin melahirkan kader-kader yang tak hanya cerdas, tapi juga memiliki militansi tinggi, putri-putri Aisyiyah yang siap melanjutkan estafet perjuangan Aisyiyah dan Muhammadiyah,” ungkapnya, disambut tepuk tangan meriah para peserta.
Ofi, sapaan akrab Ana Shofiyah, kemudian berbagi cerita tentang perjalanannya di Nasyiatul Aisyiyah. Meski lahir dan besar di lingkungan keluarga Muhammadiyah, ia merasa masih haus akan ilmu organisasi. “Berorganisasi itu seni, dan kita harus terus belajar,” ujarnya.
Ia pun menekankan pentingnya restu dan dukungan keluarga dalam berkiprah di organisasi. Dia mencontohkan dirinya yang sudah berpamitan pada suaminya mengikuti kegiatan ini selama dua hari satu malam. “Apakah sudah mendapat izin dari suaminya,” tanyanya.
Peserta yang sudah berkeluarga pun serempak menjawab, “Sudah!”
Sementara, Fatma Hajar Islamiyah, MP.d, Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Gresik, dengan tatapan teduh namun penuh makna, menjelaskan tentang peran strategis Nasyiatul Aisyiyah. “Kita ini adalah perpanjangan tangan Muhammadiyah, wadah bagi para putri berusia 17 hingga 40 tahun untuk berkarya. Setelah itu, akan melangkah ke jenjang berikutnya, menjadi anggota Aisyiyah. Regenerasi adalah keniscayaan. Maka dari itu, tugas kita adalah menyiapkan kader-kader tangguh, bukan yang lemah, seperti pesan yang tersirat dalam Surat An-Nisa’ 9,” tuturnya.
Senada dengan Fatma, Muhammad Khoirun, SPdI, yang mewakili Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ujungpangkah, menegaskan bahwa Darul Arqam adalah jantung dari sistem kaderisasi Muhammadiyah. “Di sinilah visi disamakan, pemahaman diselaraskan, dan cara berpikir kritis, terbuka, serta penuh komitmen terhadap Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid, dibentuk,” tegasnya, seraya menjelaskan berbagai jalur kaderisasi yang ada di Muhammadiyah.
Semangat yang Tak Padam
Menariknya, di antara para peserta DANA kali ini, tampak beberapa ibu muda yang membawa serta buah hati mereka. Celotehan anak-anak yang sesekali terdengar, berpadu dengan materi yang disampaikan, menjadi simfoni unik yang menggambarkan semangat juang para kader Nasyiah.
Mereka adalah bukti nyata bahwa menjadi ibu dan aktif berorganisasi bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru, di sinilah, di ruang kelas MI Muhammadiyah 2 Banyuurib, masa depan Nasyiatul Aisyiyah dan Muhammadiyah sedang dipersiapkan, di tangan para perempuan tangguh, yang tak gentar membagi waktu antara keluarga dan pengabdian kepada umat.













