BPJPHNasionalNews

Menatap Indonesia Sebagai Pusat Halal Global Dunia

40
×

Menatap Indonesia Sebagai Pusat Halal Global Dunia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Asisten Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan)

Panjimas – Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, mencapai lebih dari 240 juta jiwa atau sekitar 87 persen dari total penduduk. Keberadaan komunitas Muslim yang besar ini semestinya menjadi modal kuat dalam pengembangan industri halal.

Namun, hingga kini, posisi Indonesia dalam rantai pasok industri halal global masih tertinggal dibandingkan negara-negara seperti Malaysia, Arab Saudi, hingga negara minoritas Muslim seperti Thailand dan Brasil yang justru menjadi eksportir utama produk halal dunia.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia belum menjadi pusat halal dunia padahal memiliki semua prasyarat yang diperlukan? Apa yang bisa dilakukan untuk mendorong transformasi ini? Dan sejauh mana pemerintah, pelaku industri, serta masyarakat siap untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat halal global?

Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan menelaah kondisi saat ini, peluang yang tersedia, tantangan yang dihadapi, serta strategi yang bisa ditempuh menuju Indonesia sebagai pusat halal dunia.

Laporan the Global Islamic Economy Report 2023/2024 yang dirilis DinarStandard mencatat bahwa belanja konsumen Muslim dunia untuk produk dan layanan halal mencapai sekitar US$2,55 triliun pada tahun 2022 dan diproyeksikan meningkat hingga US$3,2 triliun pada 2024.

Sektor halal tidak terbatas pada makanan dan minuman, tetapi mencakup juga farmasi, kosmetik, fesyen, pariwisata, keuangan, dan media halal.

Pasar terbesar ada di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Negara-negara seperti Malaysia, UEA, Turki, dan Arab Saudi menjadi pemain utama.

Bahkan, negara-negara non-Muslim seperti Jepang, Korea Selatan, Brasil, dan Australia juga turut mengembangkan produk halal untuk pasar ekspor. Indonesia dengan jumlah penduduk Muslim yang besar tentu menjadi pasar domestik halal yang luar biasa.

Namun, jika ingin menjadi pusat halal dunia, Indonesia tidak cukup hanya menjadi konsumen, melainkan juga harus menjadi produsen, inovator, regulator, dan eksportir utama produk serta jasa halal.

Secara umum, posisi Indonesia dalam rantai pasok halal global masih perlu diperkuat. Dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2023 yang dirilis DinarStandard, Indonesia menempati peringkat ke-3 dunia di bawah Malaysia dan Arab Saudi.

Indonesia memang unggul dalam sektor makanan halal dan keuangan syariah, tetapi masih tertinggal dalam aspek inovasi produk, ekspor, dan integrasi ekosistem halal yang kuat. Meskipun progresnya positif, potensi Indonesia yang sangat besar masih belum tercermin secara optimal dalam pangsa pasar global halal.

Salah satu masalah utama adalah rendahnya kontribusi ekspor produk halal Indonesia, nilai ekspor produk halal Indonesia tahun 2024 mencapai USD51,4 miliar atau tumbuh sebesar 1,70% (yoy) yang didominasi oleh sektor makanan dan minuman dengan kontribusi sebesar 81,16% dari total ekspor produk halal Indonesia.

Jumlah ini masih kalah jika dibandingkan dengan Malaysia, Brasil, dan bahkan Thailand. Indonesia memiliki berbagai kekuatan yang jika dimanfaatkan secara strategis dapat mendorong posisi sebagai pusat halal global.

Dengan lebih dari 240 juta Muslim, Indonesia memiliki konsumen loyal produk halal, sekaligus potensi besar dalam menciptakan SDM halalpreneur (pengusaha halal) dan inovator industri halal.

Selain itu, perkembangan industri perbankan dan keuangan syariah (perbankan, sukuk, fintech, dan zakat) menunjukkan progres positif. Hal ini menjadi fondasi dalam mendukung pembiayaan industri halal nasional.

Kemudian, Pemerintah Indonesia melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) terus mendorong akselerasi sertifikasi halal, dengan target mewajibkan seluruh produk makanan dan minuman bersertifikat halal.

Program seperti Indonesian Halal Value Chain (IHVC) dan peluncuran Kawasan Industri Halal (KIH) seperti di Sidoarjo dan Banten merupakan langkah nyata penguatan infrastruktur.

Indonesia pun kaya akan produk lokal berbasis syariah dan halal, mulai dari kuliner tradisional, fashion muslimah, hingga herbal dan jamu yang potensial dikembangkan secara internasional.

Saat ini bahkan telah semakin meningkatnya kesadaran masyarakat Muslim terhadap gaya hidup halal (halal lifestyle) menjadi daya dorong kuat dalam pertumbuhan ekonomi halal, khususnya di kalangan generasi muda.
Meski peluangnya besar, tantangan Indonesia juga tidak sedikit.

Tantangan pertama ialah sebagian besar produk halal Indonesia masih untuk pasar domestik. Akses ke pasar global masih terbatas karena kendala kualitas, kapasitas produksi, dan sertifikasi halal internasional.

Kedua, sebagian besar pelaku industri halal di Indonesia adalah UMKM yang menghadapi keterbatasan modal, teknologi, SDM, dan akses pembiayaan. Modernisasi produksi dan inovasi produk masih rendah.

Tantangan berikutnya ialah proses sertifikasi masih dianggap rumit dan mahal, khususnya bagi pelaku UMKM. Hal ini menghambat akselerasi industri halal lokal.

Selain itu, Indonesia belum optimal dalam melakukan promosi dan diplomasi halal di tingkat internasional. Perlu sinergi lintas Kementerian dan lembaga untuk memperkenalkan produk halal Indonesia ke pasar global.

Serta, masih banyak program industri halal yang berjalan terpisah dan kurang sinergis antara kementerian, lembaga, daerah, dan pelaku industri.

Hal ini menghambat akselerasi dan efisiensi kebijakan halal nasional. Agar Indonesia benar-benar bisa menjadi pusat halal dunia, diperlukan strategi yang konkret dan berkesinambungan. Langkah strategis pertama ialah penguatan regulasi dan tata Kelola halal.

Percepatan implementasi UU Jaminan Produk Halal harus didukung dengan regulasi turunan yang jelas, efisien, dan ramah pelaku usaha. Penyederhanaan sertifikasi, digitalisasi layanan, dan insentif bagi UMKM halal menjadi prioritas.

Strategi kedua ialah percepatan dan penyempurnaan pengembangan kawasan industri halal. Kawasan Industri Halal (KIH) dengan fasilitas lengkap (logistik, laboratorium halal, pusat R&D, dan pelatihan). KIH harus jadi pusat ekspor halal Indonesia. Strategi yang tak kalah penting ialah peningkatan kapasitas UMKM halal.

UMKM harus diberi pelatihan, pendampingan, dan pembiayaan syariah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi. Kolaborasi dengan pesantren juga bisa dijadikan basis ekonomi halal berbasis komunitas.

Serta penguatan diplomasi halal internasional. Indonesia harus membangun kesepakatan mutual recognition sertifikasi halal dengan negara-negara mitra dagang utama, serta memperkuat branding “Halal from Indonesia” melalui pameran, festival, dan media internasional.

Pengembangan teknologi halal, aplikasi halal lifestyle, dan riset produk halal merupakan strategi selanjutnya yang dapat dikembangkan.

Hal ini bisa dimotori oleh kampus, startup, dan inkubator halalpreneur.

Serta yang tak kalah pentingnya ialah sinergi lintas kementerian, pelaku industri, akademisi, dan komunitas harus diperkuat melalui forum halal nasional, pusat data halal, serta roadmap nasional halal yang berbasis data dan target jangka panjang.

Menatap masa depan industri halal, peran generasi muda sangat vital. Generasi milenial dan Gen Z di Indonesia adalah konsumen sekaligus pelaku ekonomi halal masa depan. Mereka memiliki selera modern, melek teknologi, dan semangat inovatif. Pemerintah dan kampus harus mendorong lahirnya halalpreneur muda di bidang makanan, fashion, kosmetik, teknologi, dan wisata halal.

Program pelatihan, beasiswa halal, kompetisi bisnis halal, dan pendanaan startup syariah menjadi kunci dalam membentuk generasi pelaku industri halal yang kreatif dan kompetitif di tingkat global.

Dalam konteks Visi Indonesia Emas 2045, menjadikan Indonesia sebagai pusat halal dunia adalah bagian dari strategi besar pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Target ini juga selaras dengan penguatan ekonomi syariah, penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri nasional, dan diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.

Indonesia tidak kekurangan modal untuk menjadi pemimpin halal global: populasi besar, budaya Islam yang kuat, keanekaragaman produk, dan dukungan pemerintah. Yang dibutuhkan sekarang adalah sinergi, keberanian berinovasi, dan kerja kolektif seluruh pemangku kepentingan.

Menatap masa depan industri halal bukan hanya soal bisnis, tetapi juga bagian dari misi kultural dan peradaban: membawa Islam rahmatan lil alamin melalui produk dan layanan berkualitas tinggi ke panggung dunia.

Sudah saatnya dunia mengenal halal dari Indonesia — bukan hanya karena jumlah Muslimnya, tetapi karena kualitas, inovasi, dan kepemimpinannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *