HajiNasionalNews

Catatan Amirul Hajj, Kembalinya Jemaah ke Tanah Air : Jadikan Takwa sebagai Hadiah Terindah Haji

65
×

Catatan Amirul Hajj, Kembalinya Jemaah ke Tanah Air : Jadikan Takwa sebagai Hadiah Terindah Haji

Sebarkan artikel ini

Oleh: Amirsyah Tambunan, Sekjen MUI Pusat/Amirul Hajj

Jakarta, panjimas – Periode gelombang pertama jamaah haji Indonesia telah kembali ke tanah air secara bertahap hingga gelombang kedua Juli 2025 yang saat ini sebagian jamaah haji masih berada di Madinah.

Amirul Hajj yang dipimpin langsung Menteri Agama (Menag) Prof.Dr.Nasarudin Umar, MA dalam berbagai kesempatan mengatakan agar jamaah haji setelah kembali ketanah air untuk menjadikan pengalaman berhaji sebagai titik balik kehidupan. Ia menekankan pentingnya merawat kemabruran haji melalui perubahan perilaku yang lebih baik setelah kembali ke Tanah Air.

Hal ini disampaikan Manag setibanya di tanah air pada (18/6/25). “Terakhir ingin saya sampaikan, mari kita merawat kemabruran haji. Mari perbaiki karakter kita.Sekembalinya kita di Tanah Air apakah berubah atau tidak karakternya itu ditentukan oleh kita semua,” ujar Manag

Sebagai anggota Amirul Hajj yang juga selaku Sekjen MUI, Dr Amirsyah Tambunan menyampaikan beberapa catatan penting dalam melakukan evaluasi perjalan haji; pertama, dalam tataran bernegara hubungan pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi memiliki kesetaraan. Artinya saling memahami baik aturan atau regulasi maupun budaya kedua negara yang harus saling besinergi sehingga persahabatan kedua negara berjalan baik.

Yang kedua, pemerintah Indonesia melalui Amirul Hajj telah berusaha menjalankan tugas untuk memimpin pelaksanaan ibadah haji sesuai tema tahun 2025 ini agar Ibadah Haji: Aman, Nyaman, Meraih Haji Mabrur Sepanjang Umur.

Ketiga, diantaranya jamaah haji terdapat kisah yang menggembirakan dengan penuh rasa syukur dapat menjalankan badah haji seperti dituturkan Chairudin asal DKI Jakarta dan sejumlah jemaah haji lainnya secara mayoritas.

Namun ada juga jemaah haji yang kecewa karna tidak mendapatkan pelayanan haji yang baik seperti pengangkutan jemaah haji dari Arofah ke Muzdalifah dan Mina. Berbagai catatan pengalaman jemaah yang sulit di bayangkan karena tidak sesuai harapan.

Berbagai aktifitas jemaah haji dibuka dan diperlihatkan langsung oleh Allah SWT di tanah suci mulai dari yang sakit hingga kehilangan ingatan (Dimensia). Ini semua menjadi pembelajaran berharga agar jemaah haji dapat mempersiapkan diri lebih menekankan kemampuan (istita’ah) baik secara ekonomi, fisik, mental maupun spritual

Keempat, aspek pelayanan kesehatan dari petugas haji Indonesia telah berjalan dengan penuh rasa tanggung jawab. Namun karena aturan dari pemerintah Arab Saudi yang ketat sehingga tidak boleh membuka praktik seperti Klinik atau balai pengobatan di hotel tempat menginap


Para keluarga di tanah air tentu menyambut dengan penuh suka cita dan haru karena sang Hujjaj dapat kembali ke tanah air dengan selamat, kembali menyatu dengan keluarga yang telah ditinggalkan beberapa waktu lamanya.

Sebagai kebiasaan di tanah air, mereka akan mendapat gelar baru Haji dan Hajjah, namun tentu yang lebih penting dari itu semua adalah mereka kembali sebagai Haji mabrur yang jaminannya adalah surga yang implikasinya tentu dalam kehidupan keseharian mereka akan menunjukkan perilaku hidup islami dalam bergaul dan bergabung di tengah-tengah masyarakat luas.

Hal lain yang juga menarik perhatian adalah peristiwa tibanya Kloter I debarkasi Makassar yang sampai di tanah air dan menjadi sorotan media bukan hanya sambutan haru dari keluarga tetapi adalah apa yang mereka pakai di tanah suci yakni saat menggunakan pakaian ihram yang berbeda jauh dengan pakaian yang mereka pakai saat tiba di tanah air. Beberapa media menyoroti dengan judul :Jemaah Haji Tampil Glamour dan Penuh Perhiasan Saat Tiba di Makassar

Belum lagi pada hari-hari berikutnya ada kebiasaan mereka yang tidak rela kalau tidak dipanggil haji atau hajjah Penulisan nama di undangan akan menjadi masalah bila gelar haji dan hajjah nya tidak ditulis, dan ketika menghadiri hajatan memiliki tempat yang khusus.

Fenomena ini tentu menjadi keprihatinan tersendiri, bahkan MUI Sulsel mengimbau para jemaah untuk tidak tampil berlebihan, walau disadari bahwa pakaian yang mereka gunakan merupakan kebiasaan sebagai wujud kegembiraan dalam batas-batas yang wajar.

Namun, demikian MUI berharap bahwa perlunya edukasi kepada para jemaah, tentu ini bagian dari tugas dakwah.

Kurangnya pemahaman masyarakat khususnya yang melaksanakan ibadah haji perlu menjadi perhatian para mubalig, penyelenggara haji, dan petugas yang mendampingi mereka. Jangan sampai, pakaian ini justru menimbulkan kebanggan tersendiri yang melambangkan status sosial yang pada akhirnya menggerus nilai-nilai dari ibadah haji itu sendiri.

Gambaran di atas tidak sekadar menampilkan diri dengan kebesaran yang menurutnya memberi penghargaan pada haji itu sendiri, namun di balik itu sesungguhnya telah menampilkan diri dengan status sosial sesuai jenis dan kemewahan pakaiannya. Mereka sepertinya tidak menghayati makna pakaian ihram yang mereka gunakan saat di tanah suci.

Ihram mengajarkan keseteraan, kesejajaran tanpa membedakan status sosial, yang bila dimaknai secara mendalam mestinya kesejajaran, kesetaraan itu mestinya menjadi pola pikir dan pola laku pada setiap jamaah yang telah kembali ke tanah air.

Penampilan glamor dengan status sosial tersebut juga dapat membawa efek psikologi dari jamaah. Mereka merasa memiliki status lebih ketimbang yang lain sehingga dapat menimbulkan kesombongan pada dirinya. Apatah lagi, tidak jarang mereka ingin diperlakukan berbeda dengan yang lain ketika menghadiri suatu acara atau pesta, terlebih lagi bila masyarakat awam juga memiliki pikiran dan tindakan yang serupa, akhirnya semakin membuat sang Hujjaj berbangga diri.

Mereka merasa dengan status hajinya, derajatnya lebih tinggi dibanding yang lain, padahal derajat seseorang ditentukan tingkat ketaqwaannya

Haji mabrur ditandai dengan berbekasnya simbol-simbol amalan yang dilaksanakan di tanah suci, sehingga makna tersebut terwujud dalam bentuk sikap dan tingkah laku sehari-hari (Prof. Quraish Shihab).

Pakaian ihram digunakan dengan melepas pakaian biasa yang melambangkan status sosial, sedang dengan menggunakan pakaian ihram status sosial menjadi tanggal, keangkuhan sirna, namun yang muncul adalah persamaan derajat.

Pakaian ihram melambangkan sifat egaliter, kesetaraan yang konkret. Jemaah haji menggunakan pakaian ihram semuanya sama, tidak pandang raja atau rakyat kecil, kaya miskin, jenderal atau prajurit, semuanya sama. Segala atribut pangkat dan status sosial pada saat itu berguguran. Mereka semua menyembah Allah SWT dengan perasaan khusyuk dan penuh pasrah. Kesombongan dipaksa mencair dan diharapkan sesudah pulang haji akan tetap mencair selama-lamanya.

Ibadah haji mendidik orang untuk tidak berbangga-bangga dengan asal usul keturunan, kekayaan, dan atribut dunia lainnya yang sering menyilaukan. Di hadapan Allah, semua itu tidak ada harganya kecuali disertai dengan sikap takwa (taqwa). Kualitas takwalah yang membedakan seseorang dengan yang lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *