Jakarta, panjimas – Bisnis atau industrialisasi senjata yang dilakukan oleh negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat, dan Rusia berpotensi melanggengkan terjadinya perang di dunia ini.
Demikian analisis yang dikemukakan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy pada (3/2) dalam Launching Bukunya Prof. Sudarnoto Abdul Halim di UHAMKA, Jakarta.
Sebagai seorang yang melakukan penelitian tentang militer, Muhadjir menjelaskan, industrialisasi senjata yang dilakukan oleh negara-negara besar menjadi tantangan tersendiri bagi perdamaian yang dicita-citakan oleh banyak negara.
“Jika sektor penerimaan (pendapatan) negara itu eksplisit dari industri senjata militer maka itu jangan harap akan tidak ada perang. Tentunya ini salah satu teori konspirasi yang berbasis pada industrialisasi senjata,” katanya.
Negara-negara yang masif melakukan riset persenjataan perang, imbuhnya, akan melakukan uji coba lapangan untuk memastikan efektivitas senjata yang mereka produksi. Uji coba ini juga untuk menarik perhatian calon pembeli senjata.
Menurutnya, perang dingin yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Rusia masih terus berlangsung. Namun paradoksnya, perang tersebut tidak bertujuan untuk mengalahkan hanya masing-masing berusaha untuk menunjukkan keunggulan.
“Targetnya tidak untuk mengalahkan Rusia, jika Rusia kalah nanti selesai tidak ada senjata lagi. Targetnya adalah bagaimana supaya Rusia tidak menjadi kekuatan yang membahayakan,” tuturnya.
Seringkali, medan uji coba senjata tersebut dilakukan di kawasan Timur Tengah yang notabene adalah kawasan mayoritas muslim. Salah satunya adalah di Gaza, Palestina yang saat ini dia bersyukur sedang mendapat sedikit angin segar.
Telah mafhum diketahui, bahwa konflik berkepanjangan yang terjadi di Gaza Palestina tidak bisa dilepaskan dari campur tangan AS. Bahkan mungkin jika California tidak terbakar, campur tangan mereka di Gaza akan semakin kuat.
Muhadjir menambahkan, semua manusia menginginkan perdamaian namun masing-masing memiliki paradigma sendiri untuk menerjemahkan perdamaian tersebut, salah satunya paradigma militer sebagaimana yang diungkap di atas.
Meskipun saat ini peradaban Barat masih menjadi yang kuat, akan tetapi Muhadjir percaya dengan Firman Allah SWT yang menegaskan, setiap peradaban akan dipergilirkan – dan bisa jadi pemimpin peradaban nanti tidak lagi Barat.
Di sisi lain, agar Indonesia tidak menjadi korban keserakahan dan kerakusan negara-negara lain, Muhadjir menyarankan supaya Indonesia untuk memperkuat pertahanan militernya.
“Inilah yang menurut saya harus dilihat dalam perspektif yang lebih berimbang. Antara kita ingin melebarkan perdamaian, tapi juga kita harus siap mengimbangi dengan daya tangkal kita,” katanya.
Muhadjir menyampaikan, kedua perspektif membangun perdamaian dan menciptakan konflik untuk akselerasi perubahan saat ini digunakan oleh pemimpin-pemimpin dunia.
