Jakarta, panjimas – Ibadah puasa mempunyai dampak yang sangat besar dan luas dalam mewujudkan hambaNya yang jujur, karena dengan berpuasa hanya Allah yang Maha Kuasa mengetahui apakah manusia benar jujur berpuasa. Serta kejujuran juga membawa manusia kepada kebaikan. Seperti yang Disabdakan Nabi Muhammad SAW :
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya : Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga.
Kenapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya berlaku jujur dalam perkataan? Karena kejujuran merupakan salah satu buah dari ibadah dan dalam semua prilaku. Ibarat cerminan memantulkan diri seseorang apa adanya.
Oleh karena itu selama satu bulan dilatih berbuat jujur itu berarti selaras antara lahir dan batin, satu kata dengan perbuatan, serta antara berita dan fakta.Maksudnya, hendaklah kalian terus berlaku jujur.
Karena jika engkau senantiasa jujur, maka itu akan membawamu kepada perilaku yang baik (al-birr) dan kebaikan itu akan membawamu ke Surga yang merupakan puncak keinginan, sebagaimana Allâh berfirman :QS. Al-Infiṭār (82):13
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik atau berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan. Allah memberikan kenikmatan bagi orang yang berbuat jujur misalnya orang yang jujur memperoleh ketenangan batin.
Hal ini disampaikan buya DR Amirsyah Tambunan dalam Tausiyah di hadapan santri Global Cahaya Nubuah Insani (GCNI) Darandang Purwakarta, Sabtu (22/3/25).
Sebaliknya jika anak bangsa melakukan kebohongan akan mengalami tekanan batin, gelisah, galau sehingga sulit menyelesaikan berbagai masalah. Untuk itu banyak cara mencegah berita bohong; pertama, memperkuat literasi untuk menyebarkan berita yang benar sesuai data dan fakta.
Berikutnya yang kedua, ketika fakta dan data belum jelas terkait berita yang sedang firal, maka jangan mudah percaya; ketiga, hindari gosip, adu-domba (namimah). Itulah sebabnya Allah mengingatkan penting berbuat baik dalam Al-Qur’an. Al-Hujurat Ayat 6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Dalam konteks berbangsa mari kita lihat data (2024) menurut Kementerian Kominfo telah mengidentifikasi 1.923 konten hoaks yang ditemukan terbanyak pertama, penipuan 890 konten; kedua, dalam politik: 237 konten; ketiga, informasi mengenai pemerintahan 214 konten; keempat, bidang kesehatan: 163 konten; kelima,
kebencanaan: 145 konten; keenam,
Internasional dan pencemaran nama baik: 50 konten.
Cara mencegah melalalui tabayun dapat mengkonfirmasi Kementerian Kominfo melalui: Email: aduankonten@kominfo.go.id, Akun X @aduankonten
Ciri-ciri hoaks
Hoaks adalah berita bohong yang dibuat dengan tujuan jahat. Ciri-ciri hoaks di media sosial, antara lain; pertama, sumber berita tidak jelas; kedua, tidak terverifikasi; ketiga, tidak berimbang karena menyudutkan pihak tertentu; keempat, bermuatan fanatisme berlebihan.
Kelima, judul dan pengantarnya provokatif; keenam, menyembunyikan fakta dan data. Sedangkan dampak hoaks
Hoaks dapat membuat masyarakat curiga, membenci kelompok tertentu, dan memberikan informasi yang salah kepada pembuat kebijakan.
“Semoga semua berita hoax dan bohong dapat kita cegah sekaligus kita tranformasikan dengan kebaikan selama dan paca Ramadhan sehingga umat dan bangsa Indonesia bermartabat,” pungkas Buya Amirsyah Tambunan
