MuhammadiyahNasionalNews

Belajar Kemandirian dari Muhammadiyah

34
×

Belajar Kemandirian dari Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Beberapa waktu terakhir, lini media sosial ramai dengan konten bertema, Muhammadiyah Ormas Terkaya. Bahkan ada beberapa akun yang mengeklaim dengan jumlah kekayaan Rp400 triliun. Sebagai kader Muhammadiyah, apakah ini sesuatu yang membanggakan?

Tentu, ada rasa bangga. Meskipun kita tidak boleh lupa, di berbagai pelosok desa masih ada guru-guru Sekolah Muhammadiyah yang bergaji jauh dari kata layak.

Lantas bagaimana Muhammadiyah memandang tentang ‘keadilan’ dalam konteks ini?

Di Perguruan atau Sekolah Muhammadiyah yang maju, gaji dosen atau guru bisa lebih besar dari gaji aparatur sipil negara (ASN). Sementara di sekolah-sekolah yang lain, seorang guru hanya bergaji ratusan ribu. Secara pribadi saya pernah merasakan gaji Rp100 ribu sebulan ketika mengajar di Sekolah Muhammadiyah.


Jajaran PP Muhammadiyah semestinya cermat soal ini. Karena pada guru itu sama-sama berjuang di Muhammadiyah. Mendidik generasi penerus bangsa.

Mengasah Kemandirian

Di antara pesan yang saya ingat dari Pak AR adalah ketika ia menasihatkan agar ketika membangun satu amal usaha Muhammmadiyah (AUM) dibarengi dengan mengolah sebidang sawah. Tujuannya agar AUM tersebut bisa mandiri secara finansial. Tidak tergantung dengan pihak lain.


KH. Ahmad Dahlan mencontohkan, ketika ia menjual perabot rumah untuk menggaji para guru sekolah Muhammadiyah. Begitu juga Ki Bagus Hadikusumo yang ketika berdakwah terbiasa membawa kain batik. Ia sambil berjualan kain batik, untuk biaya dakwah sehingga tidak menggantungkan dari pemberian orang lain.

Generasi awal Muhammadiyah telah mengajarkan kemandirian. Karena mereka memang memiliki modal untuk mandiri. Mereka sebagai pedagang bahkan saudagar. Kini tugas kita untuk meneladani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *