Jakarta, panjimas – Mendikdasmen Prof. Dr. Abdul Mu’ti hadir memberi pesan mendalam melalui refleksi buku-buku motivasi di acara tasyakuran kelulusan kelas XII angkatan ke-46 SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo, Sabtu (10/5/2025).
Sejak pagi hari, halaman Smamda dipadati kendaraan. Para tamu berdatangan dari berbagai penjuru dengan satu tujuan: merayakan momen pelepasan siswa-siswi kelas XII di Auditorium KH. A.R. Fachrudin.
Yang menjadi sorotan pada hari itu adalah kehadiran Mendikdasmen, Prof. Dr. Abdul Mu’ti. Dalam sambutannya, ia tidak hanya memberikan ucapan selamat, tetapi juga menyampaikan refleksi inspiratif dari buku-buku motivasi yang menjadi kegemarannya.
Salah satu buku yang disebutkan adalah It’s Not How Good You Are, It’s How Good You Want to Be. Bagi Abdul Mu’ti, judul itu menggambarkan pentingnya semangat untuk terus berproses dan berkembang.
Tidak soal sebagus apa Anda sekarang ini, tapi yang penting bagaimana Anda terus berusaha untuk menjadi yang terbaik,” ujarnya.
Dari situlah ia mengusulkan tambahan makna dalam slogan Smamda.
“Kalau sebelumnya Smamda punya semboyan do the best, sekarang ditambah menjadi do the best, be the best. Lakukan yang terbaik agar Anda menjadi yang terbaik,” pesannya disambut tepuk tangan hadirin.
Namun, Mu’ti menegaskan bahwa menjadi yang terbaik bukanlah proses instan. Perlu waktu, kesabaran, dan ruang tumbuh bagi setiap anak.
“Semuanya perlu proses. Oleh karena itu, kita harus bersabar dan memberikan waktu untuk anak-anak kita terus tumbuh dan bangkit,” tuturnya.
Ia juga menyinggung kutipan dari seorang alumni Smamda yang mengutip filosofi Jepang: Orang bisa jatuh tujuh kali, tapi bangkit delapan kali. Kutipan itu mengingatkannya pada buku Celebrating Failure.
“Orang hebat itu bukan yang tidak pernah gagal, tapi orang yang bangkit dari kegagalan dan belajar mengapa dia belum berhasil,” kata Mu’ti.
Ia menekankan bahwa perjalanan hidup seseorang bisa melewati banyak profesi sebelum menemukan jalannya. Maka, orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk menjelajahi dunia dan mengejar impiannya.
“Bisa jadi cita-cita berubah saat kuliah, bahkan saat bekerja tidak sesuai dengan background pendidikan sebelumnya. It is a normal process, itu adalah proses yang biasa-biasa saja,” ujarnya tenang.
Karena itu, ia mengajak hadirin untuk tidak mudah memvonis masa depan seseorang hanya dari pencapaian saat ini. Sebaliknya, tanamkan motivasi, optimisme, dan jangan biarkan hati patah atau harga diri runtuh.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan filosofi hidupnya yang sederhana tapi penuh makna. “Titilah hidup dengan langkah pasti. Fokus saja, yakin Anda bisa,” ujarnya.
