Mohammad Nur Rianto Al Arif
(Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Timur/
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah)
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ عِبَادَ اللهِ:
اَتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى؛ فَإِنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَأَرْشَدَهُ إِلَى خَيْرِ أُمُوْرِ دِيْنِهِ وَدُنْيَاهُ.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Jamaah Shalat Ied rahimakumullah
Marilah kita panjatkan puji Syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tiada terhingga kepada kita sekalian, terutama nikmat iman dan Islam. Sehingga di pagi hari yang indah ini kita dapat berkumpul bersama, bersimpuh di hadapan-Nya melaksanakan shalat Iedul Adha pada 10 Dzulhijjah 1446 H.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan suri tauladan utama untuk selalu kita tiru agar kita dapat menjadi muslim yang baik dan benar. Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk mengikuti ajaran Rasulullah SAW.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadiri yang berbahagia
Pada pagi hari ini, kaum Muslimin yang menunaikan ibadah haji sebagai tamu Allah SWT, dhuyufurrahman, telah berkumpul melaksanakan wuquf di ‘Arafah dan sedang berada di Mina untuk melaksanakan Jumratul ‘Aqabah.
Mereka dengan pakaian ihramnya, berasal dari berbagai belahan dunia. Mereka datang dengan latar belakang bangsa, ras, warna kulit, budaya dan strata sosial yang berbeda satu sama lain. Namun, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu memenuhi panggilan Allah SWT untuk menjadi tamu-Nya.
Bagi kaum Muslimin yang belum memiliki kemampuan menjadi tamu Allah SWT, mereka melaksanakan shalat Idul Adha dan ibadah qurban, sesuai dengan kemampuannya di manapun mereka berada. Ibadah qurban yang dilaksanakan kaum muslimin, sebagai salah satu upaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.
Deskripsi kehidupan kaum muslimin ini, menggambarkan interelasi kuat antara orang yang menunaikan ibadah haji, dengan saudara-saudaranya yang tidak pergi ke Baitullah.
Oleh karena itu, kita melaksanakan shalat Idul Adlha dan ibadah qurban pada hakikatnya sebagai bentuk kesadaran memenuhi perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jamaah shalat Ied yang berbahagia
Hari ini adalah hari yang sangat istimewa, hari di mana umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa besar, yaitu pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan putranya, Ismail AS.
Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi pelajaran berharga yang senantiasa relevan sepanjang zaman.
Ibadah qurban merupakan salah satu ibadah penting dalam ajaran Islam. Ibadah ini memiliki pondasi kuat dan memiliki akar sejarah panjang dalam tradisi rasul-rasul terdahulu.
Ajaran qurban dan praktiknya telah ditunjukkan secara sinergik oleh para nabi dan rasul hingga Nabi Muhammad SAW Nabi Ibrahim AS. dikenal sebagai peletak batu pertama ibadah ini.
Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya yang sangat ia cintai, beliau tidak menolak, tidak mengeluh, dan tidak mencari alasan untuk menghindar.
Beliau justru menjawab, sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102:
Artinya: “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Bayangkan keikhlasan yang terbangun dalam diri Nabi Ibrahim dan Ismail. Seorang ayah yang rela mengorbankan anak yang ia dambakan setelah bertahun-tahun menanti, dan seorang anak yang rela menyerahkan dirinya demi memenuhi perintah Allah.
Inilah esensi dari ibadah qurban: keikhlasan, ketundukan, dan ketaatan mutlak kepada Allah SWT.
Allah SWT kemudian menggantikan Ismail dengan seekor domba sebagai bukti diterimanya keikhlasan dan ketaatan mereka.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Ash-Shaffat ayat 107: Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jamaah shalat Ied yang berbahagia
Deskripsi historis ini menggambarkan bahwa, keteguhan hati, keyakinan akan kebenaran perintah Allah, keikhlasan, ketaatan, dan kesabaran adalah esensi yang melekat dari ibadah qurban.
Nilai-nilai ini telah diimplementasikan dengan baik oleh Nabi Ibrahim dan Ismail AS dalam peristiwa yang mengharukan itu. Kesanggupan Nabi Ibrahim AS. menyembelih anak kandungnya sendiri Nabi Ismail AS., bukan semata-mata didorong oleh perasaan taat setia yang membabi buta (taqlid), tetapi meyakini bahwa perintah Allah SWT itu harus dipatuhi.
Bahkan, Allah SWT memberi perintah seperti itu sebagai peringatan kepada umat yang akan datang bahwa adakah mereka sanggup mengorbankan diri, keluarga dan harta benda yang disayangi demi menegakkan perintah Allah SWT.
Dan adakah mereka juga sanggup memikul amanah sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi.
Ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Bukan pula sekadar rutinitas tahunan atau simbol tradisi. Ibadah qurban adalah bentuk nyata dari keikhlasan kita kepada Allah SWT.
Keikhlasan itulah yang menjadi ruh dari setiap amal. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Artinya: “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, jika qurban kita diniatkan karena Allah, dengan penuh keikhlasan, maka ia akan menjadi amal yang bernilai tinggi di sisi-Nya. Namun jika dilakukan karena ingin dipuji, disanjung, atau sekadar mengikuti kebiasaan, maka tiadalah artinya di sisi Allah SWT.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jamaah shalat Ied yang berbahagia
marilah kita renungkan lebih dalam lagi makna keikhlasan dalam ibadah qurban.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 37:
Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”
Ayat ini menegaskan bahwa yang Allah nilai bukanlah daging dan darah dari hewan qurban, tetapi ketakwaan, keikhlasan, dan niat tulus dari pelakunya. Maka, jangan sampai ibadah qurban kita ternodai oleh riya’, sum’ah, atau niat-niat lain yang tidak diridhai Allah.
Keikhlasan adalah amalan hati yang tak terlihat, tetapi dampaknya sangat besar. Orang yang ikhlas akan tetap beramal meskipun tidak dilihat orang. Ia akan tetap berkorban meski tak disebut namanya. Ia akan tetap berjuang meski tak mendapat pujian. Karena ia yakin bahwa yang menilai adalah Allah semata.
Dalam konteks kekinian, keikhlasan dalam berqurban juga mengandung makna sosial yang sangat dalam. Qurban adalah simbol kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan. Qurban bukan hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga untuk menyambung ukhuwah, memperkuat solidaritas, dan menghapus sekat-sekat sosial.
Apalagi di tengah kondisi dunia yang penuh dengan kesenjangan, bencana, dan krisis kemanusiaan, semangat qurban harus menjadi inspirasi untuk berbagi dan peduli. Qurban adalah kesempatan untuk membersihkan harta, menyucikan jiwa, dan menumbuhkan kasih sayang antarsesama.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Mari kita maknai ibadah qurban ini bukan hanya sebagai bentuk ritual, tetapi sebagai sarana untuk membentuk karakter keikhlasan dalam seluruh aspek kehidupan.
Sebagaimana Nabi Ibrahim dan Ismail yang menunjukkan keikhlasan dan kepatuhan luar biasa, mari kita jadikan qurban sebagai momentum untuk membentuk pribadi yang ikhlas, tangguh, dan bertakwa.
Jika ibadah qurban dilaksanakan dengan ikhlas demi mengharap ridla Allah SWT. akan memberi hikmah dan manfaat bagi pelakukanya, baik di dunia maupun di akhirat. Di antaranya: Pertama, akan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Ibadah qurban yang dilaksanakan oleh orang muslim dapat melatih kepatuhan dan kepasrahan total kepada Allah SWT.
Orang-orang yang dekat dengan Allah akan memperoleh predikat muqarrabin, muttaqin serta mendapat kemuliaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat
Kedua, membersihkan diri dari sifat-sifat bahimiyyah. Pada saat hewan qurban jatuh kebumi maka saat itulah sifat kebinatangan harus sirna, seperti rakus, serakah, kejam dan penindas
Ketiga, menanamkan rasa kasih sayang dan empati kepada sesama. Ibadah qurban dalam Islam tidak sama dengan persembahan dalam agama-agama selain Islam.
Islam tidak memerintahkan pemujaan dalam penyembelihan hewan, tetapi Islam memerintahkan agar dagingnya diberikan kepada orang miskin agar ikut menikmati lezatnya daging hewan.
Sehingga timbul rasa empati, berbagi, memberi, dan ukhuwah islamiyah antar sesama.
Keempat, melatih kedermawanan. Ibadah qurban dilakukan setiap tahun secara berulang-ulang sehingga orang yang memberi qurban terbiasa untuk berderma kepada yang lain.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Semoga Allah menerima qurban kita, menjadikannya sebagai pemberat amal kebaikan kita, dan menyucikan jiwa-jiwa kita dari sifat kikir dan riya’.
Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang gemar berbagi dan mendapatkan keberkahan dari Allah. Marilah kita jadikan momen Idul Adha ini sebagai awal untuk lebih peduli terhadap sesama dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang lebih sejahtera.
Di akhir khutbah ini saya ingin mengajak hadirin sekalian marilah kita tetap teguh dalam keislaman dan keimanan kita. Idul Adha harus kita jadikan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai utama kehidupan dan akhlak mulia.
Dengan senantiasa menerapkan akhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan berbangsa maka sesungguhnya kita telah menampilkan cara berislam yang mencerahkan dan memajukan.
Bahwa akhlak mulia adalah citra diri setiap muslim, karena sesungguhnya akhlaq mulia tidak bisa dipisahkan dengan keimanan dan ketaqwaan. Ketika setiap Muslim di negeri ini – sebagai penduduk terbanyak- telah menerapkan karakter utama sebagai perwujudan iman dan taqwa, niscaya Allah akan memberikan anugerahnya kepada bangsa kita.
Akhirnya marilah kita memohon kepada Alllah semoga kira senantiasa diberi hidayah, sehingga di dalam menghadapi hidup yang semakin sulit ini kita tetap menjalani dengan benar.
Kita berdoa Semoga Allah menerima seluruh amal kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Kita berdoa agar para pemimpin bangsa dan seluruh warga bangsa diberi petunjuk sehingga selalu menjaga tanah air dan bangsa dengan nilai-nilai utama, menjadi bangsa yang bermartabat, berkeadilan dan berkemakmuran
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
