NasionalNews

Sekjen MUI : Pemuda Islam Pilar Penentu Masa Depan Umat dan Bangsa

48
×

Sekjen MUI : Pemuda Islam Pilar Penentu Masa Depan Umat dan Bangsa

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan salah satu organisasi otonom dalam Persyarikatan Muhammadiyah yang fokus dalam pengembangan kader dalam bidang.keagamaan dan uang kedua dalam bidang kemahasiswaan, serta dalam bidang kemasyarakatan.

Setelah masa Rasulullah kita memiliki sosok Muhammad Al Fatih yang pada umur 22 tahun dapat menaklukkan Konstantinopel dan secara langsung maupun tidak langsung mengubah sejarah dunia. Hal itulah yang disampaikan Sekjen MUI Amirsyah Tambunan dalam acara Islamic Youth for a Global Future, acara yang di gagas oleh DPP IMM yang dilaksanakan di Kantor PP Muhammadiyah, Sabtu (28/6/25).

M.Mizan Al Araaf selaku Head project Official DPP IMM mengatakan bahwa kegiatan tersebut untuk mewujudkan dan membangkitkan semangat juang dan menjadi pembelajaran dari para pendahulu yang menpedomani Al Qur’an dan Sunnah sebagai penuntun umat muslim agar terhindar dari kerusakan moral.

Hingga kini usia IMM sudah 61 tahun sejak berdiri (1964). IMM dalam kelompok usia sebagai pemuda Islam merupakan bagian penting dari suatu bangsa, negara, dan agama. Pemuda adalah generasi yang akan melanjutkan peradaban, menciptakan perubahan, dan menciptakan masa depan hingga akhir zaman.

Banyak kisah pemuda menjadi teladan. Dalam bernegara, sumpah pemuda (1928) menjadi momentum penting untuk menyelamatkan bangsa. Jika kita melihat masa lalu, pemuda-pemuda pada zaman Rasulullah seperti Usamah bin Zaid seorang panglima perang, Zaid bin Tsabit penulis wahyu sekaligus penerjemah Rasulullah dalam dakwah, dan lain-lain.

Berselancar di media sosial harus menjadi tuntunan dan tontonan yang mendidik sehingga terhindar dari perilaku tidak sesuai dengan norma syariat Islam.
Dalam hal perilaku, tata krama dan sopan santun menjadi sesuatu yang harus menjadi fokus perhatian seperti menghormati orang tua, sopan-santun, dan harus berkata Qaulan ma‘rûfan (perkataan yang baik),

Pertama, perkataan yang baik (Qaulan ma‘rûfan) berarti perkataan baik yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Selain itu, qaulan ma’rufan berarti pula perkataan yang pantas dengan status sosial yang berlainan, tidak menyinggung perasaan, serta pembicaraan yang mendatangkan kemaslahatan;

Kedua, perkataan yang lemah lembut (qaulan layyinan) yakni penyampaian pesan yang lemah lembut dengan suara yang enak didengar, lunak, tidak memvonis, memanggilnya dengan panggilan yang disukai, penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata-kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.

Ketiga, perkataan yang mudah (Qaulan maisûran) yakni berkata dengan mudah atau gampang sehingga mudah dicerna dan mudah dimengerti oleh orang lain;

Keempat, perkataan yang tegas dan benar (Qaulan sadîdan) yakni perkataan yang benar, tegas, jujur, lurus, tepat, singkat dan padat. ; kelima, perkataan yang mulia
(Qaulan karîman) yakni perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertata krama.

QS. Al-Isra’ ayat 23, perkataan yang mulia wajib dilakukan saat berbicara dengan kedua orang tua. Kita dilarang membentak mereka atau mengucapkan kata-kata yang sekiranya menyakiti hati mereka. Qaulan karîman harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orang tua atau orang yang

Keprihatinan

Saat ini kata-kata kasar atau jorok udah merupakan fenomena sebagai bagian dari krisis moral dampak dari kebebasan media yang membawa berbagai ideologi, pemikiran, budaya, dan teknologi di era global.

Oleh karena itu kita butuh sosok Pemuda Muslim dalam Al-Qur’an agar dapat menghentikan kris moral di era globalisasi. Hal yang dapat dilakukan pemuda adalah mencontoh berkarakter Asbabul Kahfi dan beriman. Pemuda dengan Ashbabul Kahfi akan mendapat kemuliaan di hadapan Allah.

Dikisahkan di dalam al-Qur’an surat ke-18 sekelompok pemuda yang disebut Ashabul Kahfii menghindari kezaliman penguasa demi mempertahankan akidah kepada Allah.

Mereka dipaksa untuk menyembah kepercayaan sang raja dan meninggalkan agama Allah. Mereka menolak lalu bersembunyi di dalam gua seraya berdoa kepada Allah yang tercatat dalam surah Al-Kahfi ayat 10. Allah berfirman,

إِذ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS. Al-Kahfi [18]: 10).

Kemudian Allah buat mereka tertidur selama bertahun-tahun agar mereka terhindar dari bahaya dan keimanan mereka tetap terjaga. Kemudian Allah bangunkan mereka dan menguji mereka untuk mencari tahu berapa lama mereka tertidur.

Sebagaimana tercantum surah Al-Kahfi Al-Kahfi ayat 12. Allah berfirman,

ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا

“Kemudian Kami bangkitkan mereka (dari tidurnya) untuk Kami menguji siapakah dari dua golongan di antara mereka yang lebih tepat kiraannya, tentang lamanya mereka hidup (dalam gua itu).” (QS. Al-Kahfi [18]: 12).

Saat mereka terbangun, kondisi sudah berubah yaitu tempat mereka sekarang sudah memeluk agama Allah dan mereka terbebas dari ancaman. Allah menghendaki mereka selamat maka selamatlah jiwa dan keimanan mereka. Jadi kekuatan iman merupakan kekuatan yang tak tergantung oleh kekuatan manapun.

“Mari kita jadikan IMM sebagai wadah membina para pemuda yang beriman dan bertaqwa kepada Allah,” pungkas Sekjen MUI itu.

Hadir narasumber Drs.Yuli Mumpuni Widarsono, MA mantan Dubes di Spanyol dan Drs.Bunyan Saptomo, MA mantan Dubes Bulgaria dan Astrid Nadra Risqita Presiden of OIC Youth Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *