Jakarta, panjimas – Sekjen MUI, Amirsyah Tambunan menegaskan bahwa diplomasi adalah seni dan praktik dalam menjalankan hubungan antar negara atau organisasi melalui dialog, negosiasi, dan cara-cara non-kekerasan lainnya untuk mencapai tujuan seperti menjaga perdamaian.
Secara sederhana, diplomasi adalah cara untuk mencapai tujuan tanpa menggunakan kekerasan. Menjadi pertanyaan kita bagaimana mewujudkan perdamaian di saat terjadi perang atau cara kekerasan?
Hal ini sangat tergantung pada kemampuan berbagai negara di dunia untuk melakukan diplomasi tingkat tinggi. Keberhasilan diplomasi sangat tergantung pada kekuatan berbagai negara untuk mewujudkan perdamaian. Jika terus menerus melakukan kekerasan baik dalam bentuk perang maupun genosida, maka peradaban manusia akan mengalami kemunduran.
Kemunduran peradaban yang dilakukan Zionis israel telah menistakan nilai-nilai kemanusiaan. Karena dirinya menegaskan bahwa untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina merupakan tanggung jawab umat manusia yang cinta damai.
Pada dasarnya Islam memiliki karakter cinta damai untuk selamat dan menyelamatkan. Adapun perang merupakan jalan akhir karena terjadi kezaliman dan penindasan. Hal ini disampaikan Sekjen MUI dalam acara pembukaan Pelatihan Diplomasi Islam Wasathiyah untuk Perdamaian Palestina di Aula Fisip UIN Jakarta, Rabu (2/7/25).
Hadir dalam acara tersebut, Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D yang menegaskan dalam sambutannya bahwa pelaksanaan pelatihan ini akan memperkuat Soft Skill yakni keterampilan non-teknis yang berkaitan dengan cara seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan bekerja sama dengan orang lain.
Oleh karena itu pihaknya juga mengajak agar peserta pelatihan dapat mewujudkan keterampilan berkomunikasi sebagai bagian dari keterampilan melakukan diplomasi untuk mewujudkan perdamaian.
Selain itu hadir pula Wakil Ketua Baznas RI, Mokhamad Mahdum yang akrab dengan panggilan Haji Mo, dan Ketua MUI Bidang HLNKI, Prof.Dr.Sudarnoto Abd Hakim serta Ketua Panitia Pelaksanana kegiatan tersebut, Safira Machrusah (Rosa) yang juga seorang diplomat dan pernah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Aljazair (2016)
