Jakarta, Panjimas – Hari Bermuhammadiyah yang rutin diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Timur kali ini terasa istimewa. Dengan mengusung tema “Urgensi Dakwah Inklusif Dalam Perspektif Muhammadiyah”, kegiatan yang berlangsung di Aula Islamic Center (Perguruan Muhammadiyah Duren Sawit 1) ini, dihadiri oleh sejumlah pimpinan setingkat wilayah dan daerah, serta pimpinan cabang selaku tuan rumah acara.
Acara ini dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit 1 Keleik Soedarto, S.K.M , yang dalam sambutan memaparkan mengenai kegiatan penerimaan siswa baru perguruan Muhamamdiyah Duren Sawit 1 sert progress pembangunan Sekretariat Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit 1 untuk keperluan dakwah serta administratif di Perguruan Muhammadiyah Duren Sawit 1 .
Turut hadir memberikan arahan dan motivasi, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jakarta, Dr Ahmad Abu Bakar, M.M dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Timur, Prof. Dr M Nur Rianto Al Arif, M.Si, yang secara bergiliran menyampaikan pentingnya membangun sinergi antara struktur organisasi dan masyarakat melalui pendekatan dakwah yang inklusif, humanis, dan kontekstual.
“Ruh Muhammadiyah adalah giat dakwah, maka pengajian adalah sangat penting terutama berbicara mengenai Masjid serta gerakan dakwah yang inklusif, karena hal ini merupakan aset strategis Persyarikatan” ujar Prof. Dr. M Nur Rianto Al Arif dalam pembukaan acara.
Senada dengan itu, Ketua Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jakarta, Dr Ahmad Abu Bakar, M.M menyampaikan mengenai dakwah kultural persyarikatan jadi poin penting dalam usaha meluaskan pengaruh Muhammadiyah, baik dalam struktural atau eksternal Muhammadiyah serta bersifat inklusif.
“Dakwah tidak bisa lepas dari akar budaya lokal. Kulturalisme dalam dakwah bukan berarti mencairkan prinsip, tetapi menanamkan nilai-nilai keislaman ke dalam ruang budaya masyarakat secara arif dan bijaksana. Dengan begitu, pesan dakwah menjadi lebih hidup dan mudah diterima,”
Sebagai puncak acara, hadir sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Biyanto, M.Ag selaku Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar & Menengah RI. Dalam ceramahnya, beliau menyoroti urgensi dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan substansi nilai.
“Inklusivitas dalam dakwah adalah kunci menjaga keutuhan sosial di tengah keberagaman. Dakwah yang memanusiakan sesama adalah bentuk tertinggi dari cinta,” tuturnya dalam penyampaian yang penuh semangat dan reflektif.
Pengajian bulanan ini tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga menjadi sarana konsolidasi gerakan dakwah yang responsif dan membumi. Harapannya, pengajian-pengajian mendatang terus menghadirkan tema-tema aktual yang menguatkan peran dakwah sebagai jembatan perubahan sosial.
