Pangkalpinang, panjimas – Pagi baru saja menjelang saat seorang wanita muda datang ke Panti Asuhan Muhammadiyah di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung. Ia menggendong bayi laki-laki dan bersikeras menitipkan anak yang baru dilahirkannya. Tanpa membawa identitas atau surat-surat, sang ibu meninggalkan bayinya begitu saja kepada pengurus panti.
Kini, bayi itu telah berusia sembilan bulan dan tinggal bersama 40 anak lainnya di panti.
“Sekarang anak ini yang paling bungsu, dari 40 orang penghuni panti,” kata Jati Dwicahni (55), ibu asuh di panti, Rabu (30/7/2025).
Dwi menuturkan, bayi bernama Zaid Alfatih itu ditinggalkan ibunya saat masih berumur dua hari. Kini Zaid sudah mulai belajar berjalan dan hampir tidak pernah rewel, kecuali saat demam.
Menurut Dwi, sebagian besar anak-anak di panti berasal dari keluarga prasejahtera. Ada pula yang kehilangan salah satu atau kedua orangtuanya.
“Anak-anak di sini tumbuh dan bersekolah sampai perguruan tinggi. Semuanya laki-laki sebanyak 40 orang sesuai kapasitas panti,” ujar Dwi.
Panti berdiri sejak tahun 1997 setelah sang pemilik rumah mewakafkan tempat tinggalnya untuk dijadikan panti asuhan. Pemilik kini telah meninggal, sementara anak-anaknya tinggal di Yogyakarta. Operasional panti bergantung sepenuhnya pada bantuan donatur, baik individu maupun lembaga.
Namun, bantuan datang tidak menentu. “Kami sifatnya donatur lepas, kapan saja ada bantuan, itu yang kami terima,” jelas Dwi.
Panti yang terletak di Jalan KH Hasan Basri Sulaiman dan berdampingan dengan Masjid Muhajirin Muhammadiyah itu dikelola delapan orang, termasuk pengasuh. Namun, kondisi bangunan panti kini memprihatinkan. Atap dan loteng banyak yang keropos dan tak lagi mampu menahan hujan deras. Air kerap masuk hingga membasahi kamar tidur dan dapur.
Ketua Pengurus Panti, Isjunaidi, mengatakan bahwa saat ini sedang dilakukan perbaikan besar-besaran. Estimasi anggaran mencapai sekitar Rp 200 juta yang dibagi dalam tiga tahap pengerjaan. “Baru jalan rehab seminggu ini. Kami prioritaskan bagian atap dulu karena sudah tak mampu menahan hujan,” ujar Isjun.
Menurutnya, proses perbaikan belum bisa dipastikan kapan rampung, karena semua tergantung dana gotong royong dari donatur.
Harapan kami bisa selesai secepatnya demi kenyamanan anak-anak. Jangan sampai kondisi yang tidak kayak berimbas pada kesehatan karena mereka harus bersekolah juga,” ucap Isjun.
Sumber : kompas.com













