MuhammadiyahNasionalNews

Din Syamsuddin Mengenal Abdulrosyad Sholeh : Konstitusi Berjalan Muhammadiyah

30

Jakarta, panjimas — Kepergian Drs. Abdul Rosyad Sholeh, Ketua Umum DPP IMM 1975–1978, menjadi kehilangan besar bagi Muhammadiyah. Tokoh organisator tulen ini wafat pada Rabu, 30 Juli 2025, di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, dan dimakamkan keesokan harinya di Karangkajen, Yogyakarta.

Sebagai bentuk penghormatan, Pimpinan Pusat Forum Keluarga Alumni (FOKAL) IMM menggelar takziah virtual pada Ahad malam (3/8/2025), menghadirkan dua tokoh sentral Muhammadiyah: Prof. Dr. H. M. Amien Rais, M.A., dan Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A.

Baca juga: Din Syamsuddin: Aisyiyah Bisa Jadi Pesaing bagi Muhammadiyah

Din Syamsuddin mendapat kesempatan pertama menyampaikan tausiyah dan testimoni atas sosok almarhum. Ia menegaskan bahwa wafatnya Abdul Rosyad Sholeh bukan hanya duka bagi keluarga, melainkan kehilangan besar bagi seluruh warga Muhammadiyah dan umat Islam Indonesia.

“Selama hidupnya, almarhum telah berbuat amal jariah, amal saleh yang sangat bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi Angkatan Muda Muhammadiyah,” ujar Din.

Banyak yang mengenal Abdul Rosyad sebagai “kamus berjalan” Muhammadiyah. Namun bagi Din Syamsuddin, almarhum adalah “konstitusi berjalan”.

“Abdul Rosyad tidak hanya menguasai AD/ART Muhammadiyah, tetapi juga menghayatinya. Beliau mampu memberikan penjernihan dan pencerahan sehingga tidak ada perbedaan pendapat dalam memahami pasal-pasal AD/ART,” jelas Din.

Kontribusi Abdul Rosyad Sholeh, menurut Din, sangat besar sebagai manajer dan organisator dalam tubuh IMM. Ia mengingat kembali masa ketika menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan mengenal almarhum lebih dekat.

“Di saat itulah saya melihat secara nyata sosok administrator, sosok manajer yang riil di hadapan mata,” tuturnya.

Meskipun senior, Abdul Rosyad tetap rendah hati dan menghargai para junior. Sikap low profile ini, kata Din, adalah psikologi yang langka dalam relasi senior-junior.

“Sosok seperti almarhum sangat diperlukan Muhammadiyah, karena Muhammadiyah kini bukan sekadar organisasi al-ummah, tetapi telah menjadi gerakan dakwah, pembaruan, dan pencerahan. Maka, Muhammadiyah memerlukan figur-figur yang mampu mengawal gerakan itu secara sistematis dan dinamis,” tegasnya.

Din juga mengenang peran besar almarhum dalam merancang strategic planning Muhammadiyah pada awal 2000-an hingga 2005-an. Abdul Rosyad dinilai berjasa dalam merumuskan strategi agar Muhammadiyah mampu mewujudkan visi masyarakat Islam sebenar-benarnya.

“Almarhum memberikan kontribusi besar dalam rangka itu,” katanya.

Din Syamsuddin menegaskan bahwa tantangan bagi Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) kini adalah melanjutkan kontribusi dan perubahan (change management) yang telah diwariskan oleh para senior seperti Abdul Rosyad Sholeh.

Menutup testimoninya, Din mengajak seluruh peserta takziah virtual untuk merenungi kematian sebagai pelajaran hidup, mengutip sabda Rasulullah Saw.: “Wa kafaa bil mauti wa idzho” (Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat).

“Sesungguhnya ada PR (pekerjaan rumah) lain bagi kita. Tidak cukup hanya mengenang kebaikan almarhum, tetapi tantangannya adalah mampukah kita melanjutkan kebaikan itu. Sebagaimana hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, Fokal IMM masa ini harus lebih baik dari masa lampau, dan masa depan harus lebih baik dari hari ini,” pesannya.

Exit mobile version