MuhammadiyahNasionalNews

Briket dari Eceng Gondok: Inovasi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk Desa Kaumrejo

92
×

Briket dari Eceng Gondok: Inovasi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk Desa Kaumrejo

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas — Eceng gondok yang dulu dianggap gulma perusak waduk, kini menjelma menjadi sumber energi alternatif dan peluang usaha baru bagi warga Desa Kaumrejo.

Inovasi ini lahir dari tangan kreatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Forum Diskusi Ilmiah (FDI) melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa).

Lewat program Rumah Inovasi Wirausaha berbasis Eceng Gondok, kelompok mahasiswa yang diketuai Azli Julianto berupaya menjawab persoalan serius di desa tersebut. Lebih dari 150 hektare waduk setempat telah ditutupi gulma air ini, menghambat aktivitas nelayan sekaligus merusak ekosistem.

“Tujuan utama kami adalah membentuk ekosistem wirausaha baru yang berkelanjutan di Desa Kaumrejo, dengan menjadikan eceng gondok sebagai solusi, bukan masalah,” ujar Azli, dikuto dari siaran pers Humas UMM Rabu 27 Agustus 2025.

Dari Gulma Jadi Briket
Sejak Juli lalu, tim FDI UMM menggulirkan berbagai pelatihan untuk masyarakat, mulai dari ibu-ibu PKK, Karang Taruna, hingga Bumdes. Salah satu momen paling menarik adalah Workshop Briket Eceng Gondok yang berlangsung di posko PPK Ormawa FDI. Lebih dari 90 persen anggota kelompok wirausaha baru ikut hadir.

Malam itu, suasana halaman rumah warga yang dijadikan posko terasa hangat. Warga dan mahasiswa duduk melingkar di lantai beralaskan tikar, di depan mereka tersaji wadah berisi campuran arang eceng gondok, tepung kanji, dan air.

Tangan-tangan mereka bergerak cekatan, mengaduk adonan hingga menggumpal sebelum dipadatkan menjadi briket. Cahaya lampu temaram berpadu dengan tawa dan obrolan ringan membuat proses yang seharusnya melelahkan justru penuh kegembiraan.

Tak hanya pelatihan, kegiatan itu berubah menjadi ruang kebersamaan—antara mahasiswa UMM dengan warga Kaumrejo yang tengah belajar mengubah gulma menjadi sumber energi.

Dari adonan itu lahirlah briket hemat, ramah lingkungan, tahan lama, serta bernilai jual. “Selama ini eceng gondok dianggap pengganggu. Tapi lewat inovasi ini, kami melihat potensi luar biasa untuk menjadikannya sumber energi alternatif,” jelas Azli.

Warga Rasakan Manfaat
Bagi warga, program ini membuka jalan baru untuk meningkatkan penghasilan. Hera, salah satu peserta pelatihan, mengaku tak menyangka gulma yang kerap dianggap sampah itu bisa bernilai ekonomi.

“Program ini membuka wawasan kami. Eceng gondok kini tak lagi jadi limbah, tapi bisa jadi energi baru dan peluang usaha nyata,” ungkapnya.

Selain briket, eceng gondok juga dikembangkan menjadi pupuk organik dan kerajinan tangan. Hasil produksi ini diharapkan mampu menambah pemasukan rumah tangga sekaligus memperkuat identitas Desa Kaumrejo sebagai desa inovatif.

Target Jelas, Harapan Besar
Program ini ditargetkan mampu menurunkan populasi eceng gondok hingga 40 persen per tahun dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar sebesar 15 persen. Langkah tersebut sejalan dengan Asta Cita pemerintah dalam mendorong kewirausahaan dan industri kreatif berbasis potensi lokal.

“Harapan kami ke depan, Rumah Inovasi Wirausaha ini menjadi pusat pembelajaran dan produksi yang terus hidup bahkan setelah program berakhir. Kami ingin masyarakat Desa Kaumrejo bisa mandiri, kreatif, dan menjadi contoh bagi desa-desa lain,” tutup Azli.

Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan, Desa Kaumrejo membuktikan bahwa eceng gondok tak lagi sekadar gulma, melainkan sumber energi dan harapan baru bagi ekonomi desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *