Kulonprogo, panjimas – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali selenggarakan Konferensi Mufasir Muhammadiyah III dengan tema “Mewujudkan Tafsir at-Tanwir Muhammadiyah sebagai Landasan Gerak Pemikiran Tajdid yang Responsif dan Dinamis untuk Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”.
Pada konferensi tersebut, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas menjelaskan lebih lanjut terkait prosesi penyelenggaraan Konferensi Mufasir Muhammadiyah III ini. Dalam pemaparannya, ia menyebut bahwa para Mufasir diundang secara terbuka dan telah disaring sebanyak 51 tulisan terpilih dari keseluruhan 89 peserta yang mengirimkan tulisan tafsir At-Tanwir.
“Konferensi Mufasir ini bertujuan untuk menjaring mufasir-mufasir yang menulis tafsir at-tanwir. Mereka diundang secara terbuka dan disaring dari 89 peserta menjadi 51 peserta,” ucap Hamim pada agenda pembukaan Konferensi At Tanwir III yang diadakan di Kulonprogo, Yogyakarta, pada Kamis (28/8).
Selanjutnya, selaras dengan tema Konferensi Mufasir III yaitu untuk mewujudkan Gerak Pemikiran Tajdid yang responsif dan dinamis, Hamim menjelaskan bahwa gerak dakwah Muhammadiyah harus terus hidup dan memiliki jiwa yang berlandaskan pada ayat-ayat Al Quran.
“Quran yang hidup dan menjadi jiwa Muhammadiyah adalah Surah Al Maun, di mana ini menjadi pijakan bagi kita untuk melakukan transformasi masyarakat yg masih pra modern menjadi masyarakat modern. Melalui tafsir at-tanwir ini kita berharap yang hidup di muhammadiyah bukan hanya al maun saja, tapi juga seluruh isi al quran,” jelasnya.
Dengan berlandas pada seluruh ayat-ayat Al Quran, maka Hamim menambahkan harapannya agar Muhammadiyah dapat hidup dengan lebih besar dalam rangka mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin (Menghadirkan rahmat bagi semesta alam).
“Dengan Al maun, Muhammadiyah telah menunjukkan kebaikan hidup, dan dengan al quran secara keseluruhan diharapkan Muhammadiyah dapat hidup lebih besar mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin sebagai agama yg diwahyukan oleh Allah dan didakwahkan oleh Nabi untuk mewujudkan hayyah thoyyibah,” tutur Hamim.
Menurut Hamim, secara sederhana hayyah thayyibah dapat diwujudkan dengan iman dan amal saleh sehingga diharapkan hal tersebut menghasilkan tiga hal yaitu kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan.
“Pertama, lahum ajruhum ‘inda rabbihim (sejahtera se sejahteranya); Kedua, lā khaufun ‘alaihim (Tidak ada ketakutan jenis apapun), damai sedamai damainya; Dan terakhir, wa lā hum yaḥzanụn (tidak ada kesedihan dalam semua prosesnya) atau bahagia sebahagia bahagianya,” paparnya.
Maka untuk mewujudkan bekal tersebut, Hamim menyebut inilah yang menjadi landasan agar jiwa tafsir at-tanwir dapat diwujudkan sesuai dengan paham agama Muhammadiyah dan landasan teologis untuk transformasi umat islam menjadi masyarakat modern.













