MuhammadiyahNasionalNews

Tafsir At-Tanwir Harus Hadirkan Pandangan Moderat untuk Bangun Peradaban Islam Berkemajuan

34
×

Tafsir At-Tanwir Harus Hadirkan Pandangan Moderat untuk Bangun Peradaban Islam Berkemajuan

Sebarkan artikel ini

Kulonprogo, panjimas – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, menegaskan bahwa Tafsir At-Tanwir merupakan kontribusi penting Muhammadiyah dalam menghadirkan pemahaman Al-Qur’an yang moderat dan berkemajuan.

Hal itu ia sampaikan dalam Keynote Speech pada Konferensi Mufasir Muhammadiyah 3 yang digelar di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (28/08).

Menurut Haedar, urgensi utama Tafsir At-Tanwir bukan hanya untuk kebutuhan internal Muhammadiyah, melainkan juga sebagai upaya memperkaya khazanah tafsir yang dapat menjadi rujukan umat Islam secara luas.

Melalui tafsir ini, umat diharapkan mampu memahami Al-Qur’an secara utuh sehingga dapat membangun peradaban sebagai khairu ummah. “Tafsir ini hadir bukan sekadar untuk Muhammadiyah, tetapi juga untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,” tegasnya.

Haedar menekankan bahwa Tafsir At-Tanwir dirancang agar tidak terjebak dalam kutub ekstrem, baik yang terlalu materialistik maupun spiritualistik.

Ia mengingatkan, peradaban Barat mengalami pasang surut karena berpindah dari teosentrisme abad pertengahan menuju humanisme sekuler yang materialistis. Pola serupa bisa saja menimpa umat Islam jika tidak dituntun dengan pandangan yang moderat.

“Indikasi kecenderungan serba teosentris juga bisa muncul di tubuh umat Islam. Karena itu, kita perlu pandangan Islam Berkemajuan yang mengintegrasikan dunia-akhirat, jiwa-raga, langit-bumi secara utuh,” paparnya.

Dalam kerangka itu, Tafsir At-Tanwir mengusung pendekatan moderat—bukan sekadar pilihan politik identitas, melainkan sebagai wujud substansi kebenaran Al-Qur’an. Moderasi ini diwujudkan dengan tiga pendekatan tafsir: bayani (tekstual), burhani (rasional), dan irfani (spiritual).

Dengan pendekatan tersebut, tafsir ini diharapkan mampu menjadi panduan yang menyeimbangkan antara ibadah dan kekhalifahan, antara hablu min Allah dan hablu min an-nas.

Haedar mengaitkan pandangan kosmologis modern yang cenderung positivistik dan materialistik dengan krisis global, termasuk masalah ekologi dan perubahan iklim. Menurutnya, Tafsir At-Tanwir harus menghadirkan alternatif pandangan kosmologi Islam yang utuh, bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual dan kemanusiaan.

“Islam tidak anti pada sains, filsafat, maupun pemikiran modern. Tetapi, Islam mengintegrasikan semua itu dalam satu kesemestaan yang membawa rahmat bagi seluruh alam,” ujarnya.

Ia mencontohkan, dalam Al-Qur’an terdapat misi ibadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56), kekhalifahan manusia di bumi (QS. Al-Baqarah: 30), risalah Nabi sebagai rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya: 107), serta perintah memakmurkan bumi (QS. Hud: 61).

Semua misi tersebut, kata Haedar, harus dikelola secara seimbang agar tidak jatuh pada ekstrem “anti-dunia” maupun “anti-akhirat”.

Haedar juga menegaskan bahwa sejarah peradaban Islam membuktikan integrasi antara iman, ilmu, dan amal dapat melahirkan peradaban kosmopolit yang humanis dan universal.

“Islam pernah melahirkan peradaban besar yang rahmatan lil-‘alamin. Itu tidak lahir dari serpihan-serpihan simbolik, tetapi dari pandangan utuh yang mengintegrasikan ibadah, ilmu, dan kekhalifahan,” jelasnya.

Sebagai penutup, Haedar menegaskan bahwa Tafsir At-Tanwir adalah tafsir jamai (kolektif), sehingga tidak boleh dipengaruhi kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.

Ia menekankan lima ciri epistemologi Islam Berkemajuan yang harus menjadi landasan: berlandaskan tauhid, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah, menghidupkan ijtihad dan tajdid, mengembangkan wasathiyah (moderasi), serta mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.

Mengutip KH Ahmad Dahlan, Haedar mengingatkan bahwa agama pada hakikatnya bersinar mencerahkan, namun bisa meredup karena pemeluknya.

“Di sinilah peran Tafsir At-Tanwir: mencerahkan pandangan keagamaan agar Islam tampil sebagai shalih li kulli zaman wa makan, ajaran yang senantiasa relevan sepanjang zaman,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *