Pekalongan, panjimas – Terinspirasi sabda Nabi Muhammad, bahwa sepuluh pintu rezeki itu sembilan di antaranya adalah lewat berdagang, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas dorong warga Muhammadiyah tumbuhkan jiwa bisnis.
Dalam Tabligh Akbar Hari Bermuhammadiyah yang diadakan oleh Muhammadiyah Pekalongan pada (7/9) itu, Anwar Abbas menyampaikan, semangat berdagang atau berbisnis yang dimiliki oleh orang-orang Muhammadiyah dahulu supaya tetap dirawat.
Sebab dia beralasan, berbisnis sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad. Selain itu, para khulafaur rasyidin terlebih Umar, Abu Bakar, dan Utsman adalah seorang pedagang yang sukses. Bahkan Utsman bin Affan tercatat sebagai sahabat yang besar-besaran mendukung dakwah Rasulullah.
“Jadi para pemimpin-pemimpin kita di masa lalu itu pedagang. Pemimpinan-pemimpin Muhammadiyah di masa lalu adalah pedagang,” ungkapnya.
Dia berharap, berbagai kemajuan yang berhasil dicapai oleh Muhammadiyah secara organisasi juga dapat dilakukan oleh warga Muhammadiyah, baik secara perorangan maupun berkelompok, khususnya kemajuan di bidang ekonomi dan bisnis.
Dalam usaha mencapai kemajuan di bidang ekonomi dan bisnis, kata Anwar Abbas, yang diubah adalah mindset atau mental mendasar, dari mental karyawan atau pegawai menjadi mental pebisnis.
Selanjutnya, yang perlu dipelajari oleh warga Muhammadiyah menurutnya adalah tentang literasi finansial. Sebab bagaimana seseorang memperlakukan dan menyimpan uang atau kekayaan itu akan berdampak pada kekuatan ekonomi dirinya dan keluarganya.
Pengamatan Ekonomi Islam ini juga berpesan supaya warga Muhammadiyah mebangun sirkulasi ekonomi untuk memajukan komunitas, misalnya dengan cara bela dan beli produk warga Muhammadiyah, atau umat Islam yang lain. Tentu cara ini tidak kemudian menjadikan umat eksklusif.
Pola konsumen muslim yang rasional, katanya, seringkali menjadi penyebab mandek atau tidak majunya ekonomi atau pasar di internal umat Islam. Sebab, pertimbangannya dalam melakukan transaksi lebih besar didorong oleh pertimbangan rasional – mahal atau murah – dari pada dasar ideologis atau keberpihakan.
“Yang perilaku berbelanjanya ideologis sedikit, yang banyak rasional. Makanya bank syariah susah majunya, konvensional mudah majunya,” kata Anwar Abbas
