MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Hadir Sebagai Pelopor Inovasi yang Dilakukan di Era Digital

28

Medan, panjimas – Muhammadiyah sejak lahir tidak pernah menjadi pengekor zaman. Alih-alih pengekor, Muhammadiyah justru sering hadir sebagai pelopor dengan berbagai inovasi yang dilakukan.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad pada Rabu (1/10) dalam Bimtek Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial yang diselenggarakan di Polonia Hotel, Medan.

Kepeloporan Muhammadiyah ini menurutnya harus dipertahankan dengan berbagai inovasi. Di bidang pendidikan, misalnya, Muhammadiyah menjadi organisasi Islam perintis sekolah Islam modern yang integratif antara pelajaran umum dan keagamaan.

Termasuk di bidang kesehatan, Muhammadiyah tercatat dalam sejarah sebagai organisasi bumiputera yang mendirikan rumah sakit, bahkan di saat pemerintah Indonesia belum memiliki layanan kesehatan.

Oleh karena itu Dadang berharap, Bimtek ini menjadi penegas kembali peran kepeloporan Muhammadiyah, khususnya kepeloporan dalam pembelajaran di sekolah Muhammadiyah yang kemudian bisa diimplementasikan ke sekolah lain.

Merespon situasi kemajuan teknologi informasi yang semakin cepat, Dadang mengingatkan supaya guru sekolah Muhammadiyah tidak hanya siap menghadapinya, tetapi juga siap dan kuat untuk lebih unggul di depan dibandingkan yang lain.

“Hari ini saya tidak hanya sekadar membuka suatu pelatihan, tapi membuka pintu masa depan bagi pendidikan Muhammadiyah yang lebih mendalam, lebih cerdas, dan lebih berkarakter,” katanya.

Dadang menjelaskan, penguatan yang ingin dilakukan melalui Bimtek ini meliputi tiga pilar, yaitu pilar pembelajaran mendalam atau deep learning, koding atau kecerdasan artifisial, dan pilar ketiga adalah pendidikan karakter.

Menurutnya, pembelajaran Mendalam atau (Deep Learning), bukan hanya dalam konteks teknologi, tetapi juga dalam pendekatan pedagogis yang menumbuhkan daya nalar, kreativitas, dan pemahaman esensial.

Sementara, pilar koding atau kecerdasan artifisial sebagai wujud kesiapan menghadapi era revolusi industri 4.0 dan 5.0. Maka guru Muhammadiyah tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi pengarah ke masa depan digitalisasi yang beretika, berkeadaban, dan berkepribadian.

Selanjutnya, Penguatan Pendidikan Karakter, sebagai fondasi utama agar generasi kita tumbuh dengan akhlak mulia, integritas, dan semangat kebermanfaatan. Teknologi tanpa karakter adalah pisau bermata dua

Exit mobile version