MuhammadiyahNasionalNews

Upaya Membangun Karakter Siswa Menuju Indonesia Emas Melalui 7 Kebiasaan Anak Hebat

37
×

Upaya Membangun Karakter Siswa Menuju Indonesia Emas Melalui 7 Kebiasaan Anak Hebat

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas — “Karakter dan mentalitas itu tidak bisa instan, tapi harus dibentuk melalui pembudayaan.”

Pernyataan itu disampaikan oleh Arif Jamali Muis, Staf Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, dalam Seminar Pendidikan: “Menanamkan Karakter Siswa Hebat Menuju Indonesia Emas Melalui 7 Kebiasaan Anak Hebat” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Muhammadiyah di SM Tower Malioboro, Yogyakarta pada Kamis (09/10).

Dalam sambutannya, Arif menegaskan bahwa Kemendikdasmen terus berupaya mencari pola pembinaan karakter yang aplikatif di sekolah. Menurutnya, banyak teori pendidikan karakter yang ideal, namun sulit diterapkan di lapangan.

Karena itu, kementerian memilih menggunakan pendekatan yang sederhana, mudah dipahami, dan bisa langsung dipraktikkan oleh siswa, guru, maupun orang tua.

“Kami ingin menghindari kesan teoritis. Maka lahirlah tujuh kebiasaan anak hebat yang praktis, mudah dicerna, dan bisa menjadi pola hidup sehari-hari,” ujarnya.

Tujuh kebiasaan tersebut terdiri dari: Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Makan Sehat dan Bergizi, Gemar Belajar, Bermasyarakat, dan Tidur Cepat. Arif menjelaskan satu per satu kebiasaan itu dan keterkaitannya dengan nilai-nilai Islam serta semangat Muhammadiyah.

“Bangun pagi itu Islami banget,” katanya. “Tidak mungkin umat Islam, apalagi kader Muhammadiyah, malas bangun pagi. Ini harus menjadi karakter dasar, karena orang yang bangun pagi memiliki semangat hidup dan disiplin.”

Kebiasaan kedua, beribadah atau berdoa, menurut Arif, bukanlah hal baru bagi umat Islam. Ia menekankan pentingnya menjadikan ibadah sebagai fondasi spiritual yang menguatkan seluruh dimensi kehidupan pelajar.

Adapun kebiasaan berolahraga menjadi perhatian tersendiri.

“Ini bukan hanya persoalan anak-anak, tapi juga guru dan orang tua. Dalam program kementerian, kami punya Pagi Ceria yang memadukan nasionalisme, olahraga, dan spiritualitas seperti menyanyikan Indonesia Raya, senam, dan berdoa. Kalau sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak melaksanakannya, aneh sekali,” ujarnya sambil tersenyum.

Arif juga menyoroti pentingnya kebiasaan makan sehat dan bergizi. Ia menyebut program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sebagai contoh baik yang terbukti meningkatkan prestasi di beberapa negara.

“Banyak anak muda kita terkena penyakit gula, obesitas, karena pola makan yang salah. Maka pendidikan gizi harus jadi bagian dari karakter,” katanya.

Kebiasaan kelima, gemar belajar, menurutnya merupakan ciri khas kader Muhammadiyah. Namun Arif mengingatkan, gemar belajar tidak cukup hanya dengan membaca, tetapi juga harus disertai rasa ingin tahu dan kemauan untuk berbuat baik bagi masyarakat.

Kebiasaan keenam, bermasyarakat, menjadi kritik reflektif terhadap generasi muda yang kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponsel.

“Dulu anak-anak bermain bola setelah sekolah, sekarang malah asyik dengan media sosial. Akibatnya, mereka jadi mudah murung dan cemas. Padahal otak manusia berkembang lewat interaksi sosial,” jelasnya.

Terakhir, tidur cepat. Ia menyebut banyak anak muda kini menjadi “generasi kalong” yang begadang hingga larut malam.

“Kualitas tidur malam tidak bisa diganti dengan tidur pagi. Tuhan sudah mendesain tubuh kita untuk beristirahat malam hari dan beraktivitas siang hari. Inilah fitrah manusia,” tegasnya.

Arif menegaskan bahwa tujuh kebiasaan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Di Kemendikdasmen, pendekatan ini disebut Partisipasi Semesta yakni melibatkan semua pihak dalam pembentukan karakter anak bangsa.

“Kita ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga berakhlak mulia. Dari bangun pagi sampai tidur cepat, semuanya adalah latihan karakter,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *