Jakarta, panjimas – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, mengungkapkan sejarah penting berdirinya klinik pertama Muhammadiyah di Surabaya yang digagas oleh KH Ahmad Dahlan bersama dr. Soetomo pada tahun 1923.
Klinik tersebut menjadi cikal bakal pelayanan kesehatan Muhammadiyah yang berlandaskan ideologi transformasi dan teologi Surat Al-Ma’un yang menekankan kasih sayang dan amal sosial.
“Surat Al-Ma’un adalah ideologi dan teologi yang menjiwai gerakan Muhammadiyah. Surah pendek ini mendorong umat untuk mencintai sesama, terutama agar orang kaya membantu orang miskin, dan sebaliknya, orang miskin juga saling menolong,” ujarnya di acara peresmian Gedung Ji’Ronah RS Aisyiyah Muhammadiyah Bojonegoro pada Sabtu 11 Oktober 2025.
Dikatakan Haedar Nashir, ada sejarah penting berdirinya klinik pertama Muhammadiyah di Surabaya yang digagas oleh KH Ahmad Dahlan bersama dr. Soetomo pada tahun 1923. Klinik tersebut menjadi cikal bakal pelayanan kesehatan Muhammadiyah yang berlandaskan ideologi transformasi dan teologi Surat Al-Ma’un.
Menurutnya, dari semangat itulah lahir poliklinik Muhammadiyah dan rumah yatim piatu di Surabaya. Gagasan itu mendapat dukungan dari dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo yang juga menjadi penasihat bidang kesehatan PP Muhammadiyah.
Kini dr Soetomo, namanya diabadikan disalah satu RS terbesar di Jawa Timur di Surabaya.
“Dasar pelayanan kesehatan menurut dr. Soetomo adalah welas asih atau kasih sayang. Rumah sakit Muhammadiyah harus inklusif dan humanis, merawat siapa pun tanpa memandang latar belakang. Dokter dan tenaga kesehatan harus melayani dengan hati, bukan semata mencari penghasilan,” tambah Haedar.
Spirit Amal dan Pelayanan Kemanusiaan
Haedar menegaskan, seluruh amal usaha Muhammadiyah tumbuh dari bawah dengan semangat “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”, yakni negeri yang baik dan diridai Allah.
“Kami berdiri sebelum Republik ini lahir. Semangatnya bukan sekadar perjuangan politik, tapi juga jiwa kebangsaan dan penghormatan terhadap kemanusiaan,” ucapnya.
Muhammadiyah, lanjutnya, senantiasa mendukung program pemerintah yang berpihak pada rakyat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, ia menekankan pentingnya kritik konstruktif untuk perbaikan.
“Jika ada kekurangan, kami beri masukan. Misalnya soal MBG gratis, semangatnya sudah baik. Kalau ada kendala teknis seperti kasus keracunan, itu bahan evaluasi agar program lebih matang,” tutur Haedar.
Islam dan Amal Saleh sebagai Pondasi
Haedar juga menyoroti pentingnya amal sebagai inti ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an, kata ‘amal dan turunannya disebutkan sekitar 360 kali, sedangkan amal saleh muncul 60 kali.
“Itu menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menekankan kerja nyata. Amal adalah manifestasi iman dan tauhid,” jelasnya.
Ia mengutip firman Allah dalam Surat An-Nahl, bahwa barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, maka Allah akan memberikan balasan terbaik.
“Ini menjadi dasar gerakan Muhammadiyah. Bahwa amal bukan sekadar ritual, tapi juga kontribusi nyata bagi masyarakat dan kemanusiaan,” ujar Haedar
Gerakan yang Dewasa dan Tidak Politis
Menutup pernyataannya, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak berpolitik praktis, tetapi tetap memiliki peran moral dan sosial dalam kehidupan berbangsa.
“Kami tidak terjun ke politik, tapi kami beramal. Muhammadiyah harus menjadi gerakan yang dewasa, tidak tergopoh-gopoh menghadapi situasi bangsa,” tegasnya.
Haedar berharap seluruh kader Muhammadiyah terus menjaga semangat amal saleh dan teologi Al-Ma’un dalam setiap bidang pengabdian, termasuk pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan.













