MuhammadiyahNasionalNews

Teologi Digital dalam Perspektif Muhammadiyah

52

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PD Muhammadiyah Jakarta Timur)

Beberapa dekade lalu, dakwah identik dengan mimbar masjid, pengajian di serambi, atau ceramah di panggung tabligh akbar. Kini, ruang dakwah telah berpindah ke layar yaitu ke ponsel yang menggenggam miliaran jiwa di dunia maya. Dari Instagram hingga TikTok, dari podcast hingga kanal YouTube, dari website resmi hingga grup WhatsApp keluarga, agama menjadi topik yang mengisi hampir setiap sudut ruang digital.

Namun, bersamaan dengan meluasnya dakwah digital, lahir pula problem baru yaitu banjir informasi agama yang tak terverifikasi, munculnya ustaz instan bermodal retorika tanpa sanad keilmuan, hingga pergeseran dakwah menjadi konten viral yang kadang lebih mementingkan sensasi daripada pencerahan.

Di tengah arus deras itulah, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan yang sejak awal abad ke-20 dikenal rasional, ilmiah, dan sosial dianggap memiliki posisi strategis untuk menata kembali makna keberagamaan di era digital. Dari sini lahir gagasan “Teologi Digital”, yaitu upaya memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai teologis Islam dalam ruang digital, sejalan dengan spirit tajdid (pembaruan) dan Islam Berkemajuan.

Secara sederhana, teologi digital adalah refleksi teologis atas realitas keberagamaan di dunia digital. Teologi digital tidak sekadar membahas “bagaimana berdakwah di internet”, tetapi lebih dalam yaitu bagaimana manusia beriman di tengah budaya algoritma, bagaimana memahami kebenaran di era informasi, dan bagaimana menjaga akhlak di ruang maya yang tanpa batas.

Dalam teologi digital, iman tidak lagi hanya diukur dari ibadah ritual, melainkan juga dari etika digital yaitu bagaimana seseorang menjaga amanah, kejujuran, dan tabayyun saat

berinteraksi di dunia maya. Amal shaleh pun bisa berbentuk berbagi ilmu melalui konten edukatif, menolong lewat donasi digital, atau membangun ekosistem literasi digital yang menyehatkan.

Dengan demikian, teologi digital bukanlah sesuatu yang asing bagi tradisi Islam. Ia justru lanjutan dari semangat iqra’ yaitu perintah membaca yang kini harus dimaknai sebagai membaca realitas digital secara kritis dan beriman.

Bagi Muhammadiyah, teologi digital adalah perwujudan dari Islam Berkemajuan di era teknologi. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah memandang bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bagian dari manifestasi iman. Dalam pandangan ini, teknologi bukan ancaman, tetapi alat dakwah dan kemaslahatan.

Jika pada awal abad ke-20, Kiai Ahmad Dahlan menggunakan papan tulis dan sekolah modern sebagai instrumen dakwah, maka kini generasi

Muhammadiyah abad ke-21 menggunakan jaringan internet, media sosial, dan kecerdasan buatan sebagai wasilah baru untuk menggerakkan nilai-nilai Islam.

Teologi digital Muhammadiyah berdiri di atas tiga pilar utama yaitu iman yang rasional, ilmu yang membebaskan, dan amal yang mencerahkan.

Iman yang rasional berarti keyakinan yang tidak anti terhadap kemajuan, tetapi menjadikannya ladang ibadah.

Ilmu yang membebaskan bermakna literasi digital menjadi bagian dari iman dimana umat Islam harus cerdas dan kritis terhadap informasi.

Amal yang mencerahkan artinya pemanfaatan teknologi untuk kemaslahatan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan.

Dengan tiga pilar ini, teologi digital Muhammadiyah hadir bukan sekadar untuk beradaptasi, melainkan menjadi pelopor etika

dan pencerahan di dunia digital.

Muhammadiyah dikenal luas dengan Teologi Al-Ma’un, yaitu pemahaman bahwa keimanan harus diwujudkan dalam pembelaan terhadap kaum lemah dan perbaikan sosial. Surah Al-Ma’un mengajarkan bahwa orang yang mendustakan agama adalah mereka yang mengabaikan anak yatim dan tidak peduli terhadap fakir miskin.

Dalam konteks kekinian, semangat itu perlu diperluas menjadi Teologi Al-Ma’un Digital yakni teologi yang berjuang melawan ketimpangan digital, penyebaran hoaks, dan kemiskinan informasi.

Jika di masa lalu “musuh” umat adalah kemiskinan dan kebodohan, maka kini “musuh baru” adalah disinformasi, ujaran kebencian, manipulasi algoritma, dan konsumerisme digital.

Maka, teologi digital Muhammadiyah adalah jihad baru yaitu jihad literasi dan etika agar masyarakat tidak menjadi korban buta teknologi.

Dakwah bukan lagi sekadar mengajak beribadah, tapi juga membebaskan akal umat dari jeratan kebohongan dan polarisasi yang lahir dari ruang digital.

Muhammadiyah sejak awal menolak taklid buta. Prinsip itu juga berlaku dalam menghadapi dunia digital. Dalam konteks teologi digital, “taklid baru” bisa muncul dalam bentuk menerima mentah-mentah informasi agama dari media sosial tanpa verifikasi.

Oleh karena itu, salah satu ajaran penting dalam teologi digital Muhammadiyah adalah bahwa tabayyun adalah bentuk iman di era digital.
Seorang Muslim yang beriman harus memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya, karena setiap klik dan share bisa membawa maslahat atau mudarat.

Kecerdasan digital bukan sekadar kemampuan teknis menggunakan gawai, tetapi kemampuan etis dan epistemologis dalam membedakan antara kebenaran dan kebohongan.

Dalam pandangan Muhammadiyah, dakwah tidak cukup hanya “menyampaikan”, tetapi harus mencerahkan (tanwir). Dakwah mencerahkan di era digital berarti mengajak umat berpikir kritis, memperluas wawasan ilmu, menumbuhkan kesadaran sosial, dan membangun budaya digital yang santun dan beradab.

Karena itu, teologi digital tidak berhenti pada penggunaan media sosial, tetapi menyentuh nilai epistemik dan etis dari seluruh aktivitas digital. Dakwah bukan lagi sekadar konten, melainkan gerakan peradaban.

Kita hidup di zaman di mana algoritma mengetahui apa yang kita sukai sebelum kita sadar akan hal itu. Dunia digital membentuk cara berpikir, berinteraksi, bahkan beriman. Dalam situasi ini, tantangan terbesar bukan hanya menjaga akidah, tetapi juga menjaga akal sehat dan etika.

Muhammadiyah, dengan tradisi rasional dan ilmiahnya, memiliki potensi besar untuk memandu umat dalam menghadapi disrupsi ini.

Teologi digital bukanlah hal yang asing, tetapi kelanjutan dari semangat Kiai Dahlan yang menafsirkan Al-Ma’un dengan tindakan sosial.

Kini, tugas generasi Muhammadiyah adalah menafsirkan Al-Ma’un dalam bahasa digital yaitu menolong sesama lewat jaringan, membebaskan dari hoaks, dan menyebarkan ilmu melalui algoritma.

Inilah teologi digital Muhammadiyah yaitu teologi yang berakar pada wahyu, berpijak pada ilmu, dan berbuah pada amal shaleh sosial di dunia maya maupun nyata. Sebuah teologi yang berkemajuan, mencerahkan, dan memanusiakan manusia bahkan di tengah pusaran algoritma.

Exit mobile version